Menyikapi JKN/BPJS Agar Terbebas dari Keluhan Karyawan

Pemerintah baru saja mengeluarkan kebijakan baru dalam hal kesehatan, yakni Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Program yang dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS) ini diluncurkan pada tanggal 31 Desember 2013 yang lalu. Program ini bertujuan untuk memfasilitasi kebutuhan medis dasar rakyat Indonesia. Sehingga seluruh rakyat Indonesia, mulai 1 Januari 2014, wajib mengikuti program JKN ini, termasuk para karyawan perusahaan yang bahkan sudah memiliki asuransi kesehatan tersendiri.

“Program ini bisa memenuhi kebutuhan medis dasar seluruh rakyat Indonesia tapi tidak semua keinginan kebutuhan medis rakyat Indonesia bisa dipenuhi,“ tambah Mega Yudha Ratna Putra, SE, MM, AAAK selaku perwakilan dari BPJS dalam Seminar Menyikapi JKN/BPJS agar Terbebas dari Keluhan Karyawan di Hotel Bidakara, Senin (24/2).

Bagaimana perusahaan Anda menghadapi hal ini? Tentunya Anda sendiri juga harus mulai mensosialisasikan program negara ini kepada karyawan Anda agar tidak terjadi salah paham. Anda bisa memulai dengan memberitahukan manfaat apa yang akan diraih jika mengikuti program ini. “Misalnya beberapa tahun lagi bisa saja Anda terkena penyakit serius,” ungkap Odang Muchtar, seorang praktisi jaminan sosial dan asuransi jiwa.

Untuk berpartsipasi dalam program ini, peserta akan dipungut biaya iuran perbulannya. Dimana peserta program ini pun terbagi dalam beberapa kategori, yakni Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBIJK) dan Bukan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (BPIJK).

Kategori BPIJK dibagi lagi menjadi tiga golongan, yakni Pekerja Penerima Upah, Pekerja Bukan Penerima Upah dan Bukan Pekerja. Berdasarkan pengkategorian tersebut, maka karyawan Anda termasuk ke dalam golongan Pekerja Penerima Upah, dimana mereka mendapatkan upah perbulannya secara konsisten.

Pembayaran iuran per bulan pun dibagi menjadi tiga, yakni Kelas 3 dengan iuran Rp 25.000,00 per bulannya, Kelas 2 dengan iuran Rp 45.000 per bulannya dan Kelas 1 dengan iuran Rp 59.000,00. Iuran ini dibayarkan oleh pemberi kerja, perusahaan, dan pekerja. Perbedaan kelas ini tidak berpengaruh pada perawatan medis yang diberikan entah itu pelayanan ataupun obat, yang membedakan hanyalah ruangannya.

Setelah Anda mensosialisasikan kepada karyawan Anda manfaat, keuntungan dan cara mengikuti program ini, tentunya perusahaan Anda pun harus mempersiapkan diri. Jika perusahaan Anda telah memiliki program asuransi tersendiri, Anda bisa mendaftarkan asuransi tersebut karena JKN dapat dikoordinasikan dengan asuransi lainnya, seperti yang diungkapkan oleh Mega Yudha.

Jika perusahaan Anda memiliki pelayanan medis sendiri, Anda juga bisa mendaftarkan pelayanan medis perusahaan menjadi provider ke BPJS sehingga dapat terkoordinasi dengan JKN.

“Tidak ada kamusnya jika biaya kesehatan di perusahaan menurun,” ucap Usman Sumantri Kapus Pembiayaan Jaminan Kesehatan, Kementrian Kesehatan. Sehingga sisi supply dari pemberi pelayanan kesehatan dapat ditekan agar seluruh peserta mendapatkan pelayanan yang sama. Selain itu sebagai pengguna jasa juga diberi keuntungan dengan mendapatkan pelayanan kebutuhan dasar medis yang layak.

Helpful dalam sosialisasi kepada karyawan

Jika karyawan Anda masih juga bingung setelah dilakukan sosialisasi, Rr. Rahajeng Ikawahyu, M. Si, Psikolog memberikan beberapa tips yang dirangkum dalam satu kata, yaitu HELPFUL. HELPFUL merupakan akronim dari heart, empathic, look, patient, fast, understanding dan listening.

 Anda perlu menggunakan perasaan saat menjelaskan pada karyawan Anda mengenai program ini (Heart). Selain itu Anda juga perlu memahami kondisi karyawan Anda, selami perasaannya namun jangan sampai terbawa (Empathic). Dalam memberikan pengertian pada karyawan, Anda perlu melakukan eye contact dengan baik, berpenampilan menarik dan buatlah situasi senyaman mungkin (Look).  Anda juga harus sabar dalam menjelaskannya. Jangan lupa perhatikan gesture dan intonasi bicara Anda (Patient).

Sigap saat menjawab apa karyawan Anda tanyakan itu sangat diperlukan (Fast). Namun alangkah lebih baiknya jika Anda sudah memahami dengan baik apa yang akan Anda sampaikan pada karyawan Anda sehingga maksud dan tujuan Anda tersampaikan (Understanding). Jika karyawan Anda bertanya ataupun menyampaikan pendapat, dengarkanlah dengan baik. Pahami apa maksudnya bahkan jika perlu tanyakan kembali agar Anda benar-benar memahami agar karyawan Anda benar-benar merasa didengarkan (Listening). (*/@aindahf)

Baca juga: Reformasi Jaminan Sosial & Employee Benefit

Tags: , ,