Menyelamatkan Karyawan di Hari Pertama

Hari pertama selalu menjadi hari yang mendebarkan bagi karyawan yang baru memulai kerja. Terlebih lagi jika si karyawan baru tersebut harus melewati proses interview yang melelahkan sebagai bagian dari proses rekrutmen.

Semua orang akan melihat adanya potensi maupun peluang di hari pertama bekerja, baik itu dari sisi perusahaan maupun karyawan. Perusahaan akan melihat potensi calon karyawannya dan karyawan akan melihat apakah perusahaan tersebut sesuai dengan harapannya. Emosi-emosi negatif kerap kali muncul pada karyawan ketika mereka harus menghadapi hal baru. Pun karyawan lama tidak jarang ingin “mencoba” kemampuan karyawan baru sehingga malah membuat kondisi runyam.

Sebetulnya, hal seperti itu bisa saja dihindari. Pihak perusahaan bisa saja menciptakan sebuah penyambutan yang berbeda, anti-mainstream, yang membuat karyawan baru merasa diterima dengan senang hati di perusahaan tersebut. Berikut adalah tips dari inc.com tentang bagaimana menciptakan suasana kerja yang harmonis di hari pertama karyawan baru bekerja:

1. Rayakan Kehadirannya

Jack Daly, seorang sales trainer hebat di Amerika menceritakan pengalamannya menghadapi karyawan baru di perusahaan pada hari pertama bekerja. Ia mepaparkan bahwa si karyawan baru harus menghadapi kondisi yang tidak mengenakkan, ia harus kebingungan mencari kursinya, mengambil sendiri kursi tersebut, harus direpotkan dengan sejumlah HR paperwork yang harus ia isi. Hal itu menjadi sangat memusingkan bagi dia. Belum lagi jika supervisor tidak menjelaskan dengan gamblang proses kerja di tempat tersebut.

Alih-alih menunjukkan sikap tersebut, perusahaan, khususnya para senior dapat melakukan penyambutan yang hangat bagi karyawan baru. Bisa dengan menyiapkan meja dan kursinya baik-baik, menyuruhnya mengisi form HRD setelah beberapa hari ia bekerja dan memberikan greeting card atau memasang balon di booth kerjanya. Penyambutan seperti ini akan meninggalkan kesan manis yang mendalam untuk mengawali perjalanan karir si karyawan di perusahaan.

2. Menggunakan Proses Orientasi yang Terstruktur

Karyawan baru perlu mendapatkan masa orientasi untuk mengenalkan mereka pada prosedur dasar perusahaan. Sayangnya, tidak banyak perusahaan yang mengalokasikan waktu untuk proses orientasi ini. Mereka membiarkan karyawan baru untuk meraba-raba sendiri proses kerja yang harus ia hadapi. Padahal, penting bagi perusahaan untuk membantu mereka dalam proses transisi selama masa probation. Perusahaan, atau dalam hal ini departemen HRD harus memastikan bahwa proses tersebut melibatkan training, saling memahami rangkaian kesepakatan yang disetujui dan assessment secara berkala. Proses ini akan membantu kita menghindari masalah-masalah kecil yang berpotensi menjadi besar di masa ke depan.

3. Menunjuk Seorang Mentor

Karyawan baru perlu mengerti bagaimana pandangan orang dalam (insider) mengenai kondisi perusahaan luar dalam. Untuk itu perusahaan dapat menyambut karyawan baru tersebut dengan menunjuk karyawan berpengalaman menjadi mentor baginya. Jangan biarkan ia menerka-nerka sendiri isi perusahaan. Dengan begitu, kita bantu mereka melakukan penyesuaian baik secara professional maupun asimilasi sosial dengan karyawan lain.

4. Biarkan mereka menunjukkan Skill yang dimiliki

Adakalanya karyawan senior melihat karyawan baru sebagai karyawan yang masih hijau, yang belum paham dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh perusahaan. Ada pula karyawan lama yang melihat mereka sebagai kompetitor. Tak pelak lagi hal-hal semacam itu membuat karyawan baru merasa canggung dan terintimidasi. Padahal, karyawan baru tersebut direkrut karena memang memiliki keunggulan dalam hal tertentu. Untuk menanggulanginya, perusahaan dapat membuat sebuah sesi kelas untuk sharing skill dan knowledge sehingga ia bisa mempresentasikan apa yang dia bisa.

5. Berikan mereka kesempatan untuk gagal

Terhadap karyawan baru, perusahaan kadang membebankan ekspektasi yang tidak realistis. Mereka mengharapkan agar karyawan baru tersebut dapat melakukan segalanya dengan benar. Untuk kesalahan kecil yang mereka lakukan, kita memperlihatkan secara langsung maupun tidak langsung bentuk kekecewaan kita sehingga membuat mereka canggung. Untuk membantu mereka beradaptasi, perusahaan perlu memberikan ruang untuk dia gagal dan belajar dari kegagalan tersebut.