Meningkatkan Work-life Balance untuk Mengurangi Turn-Over

Berdasarkan Hay Group Insight’s 2012, 27% karyawan yang  tidak mendapatkan work-life balance support dari perusahaan tempat mereka bekerja, berniat untuk mengundurkan diri dalam kurun waktu kurang dari 2 tahun. Itupun merupakan data yang diambil dari 17% total jumlah karyawan di berbagai perusahaan yang berada di jajaran teratas dalam hal pemberian dukungan pada keseimbangan kerja profesional dengan personal atau work-life balance. Menurut penelitian yang sama, jika sebuah perusahaan di Amerika memiliki karyawan sebanyak 10,000 orang dan tingkat turn over direduksi hingga 10%, perusahaan tersebut akan menghemat biaya sebesar 17,5 juta USD atau sekitar 170 miliar rupiah.

Sementara itu, perhatian global terhadap work life balance ini terus meningkat, dengan sebesar 39% karyawan di seluruh dunia mengaku tidak mendapatkan “good” work-life balance, dibandingkan dengan tahun 2011 yang hanya berkisar 32%. Tidak hanya itu, mereka juga memberikan perhatian pada jumlah pekerja, di mana 52% dari total karyawan yang dijadikan responden penelitian mengungkapkan bahwa jumlah karyawan di tempat mereka bekerja tidak cukup banyak untuk working lot yang dilimpahkan oleh perusahaan. Dilansir dari haygroup.com, Mark Royal, Senior Principal dari Hay Group memaparkan keprihatinannya mengenai hal tersebut,

“Organisasi/perusahaan terus menerus meminta karyawannya untuk melakukan “lebih dalam pengurangan”, doing more with less. Hal tersebut memicu meningkatnya ketidakpuasan pekerja terhadap perusahaan. Beberapa solusi yang diambil seperti telecommuting dan fleksibilitas kerja tidak akan banyak membantu”.

Padahal, apabila perusahaan memberikan dukungan work-life balance kepada karyawannya, ia akan memperoleh keuntungan sebagai berikut:

1. Meningkatkan kepercayaan diri dalam hal kemampuan menarik top talent.

Ketika karyawan-karyawan yang memperoleh dukungan work-life balance ditanya mengenai kemampuan perusahaan untuk menarik top talent, 71% dari karyawan tersebut menjawab “good” atau “very good”.Sedangkan di perusahaan yang tidak mendukung work-life balance, hanya 45% karyawan menjawab demikian.

2. Kepuasan terhadap kompensasi yang didapatkan.

Ditanya mengenai kepuasan terhadap kompensasi yang mereka dapatkan, 58% karyawan pada jajaran perusahaan yang mendukung work-life balance mengaku mendapat kompensasi yang layak. Berbeda dengan karyawan yang tidak memperoleh support work-life balance, hanya 36% menjawab puas dengan kompensasi yang mereka dapatkan.

Hay Group juga mencatat bahwa di seluruh dunia, organisasi di Amerika Tengah ternyata memberikan perhatian paling tinggi terhadap work-life balance karyawannya, yakni sebesar 70% karyawan mengaku puas dengan dukungan work-life balance yang diberikan oleh organisasi tempat mereka bekerja. Sedangkan dukungan terburuk terhadap work-life balance, terjadi pada organisasi/perusahaan di benua Afrika, terutama Afrika Selatan. Perusahaan-perusahaan di benua Eropa cenderung memberikan work-life balance support dengan tingkatan yang beragam.

 

Tags: , ,