Menghadapi MEA, Praktisi SDM Harus Kompeten dan Berdaya Saing

Seminar PMSM SKKNI

ISU STANDAR KOMPETENSI KERJA NASIONAL INDONESIA (SKKNI) kini makin mengerucut. Hal ini dipicu dengan tenggat waktu diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tanggal 30 Desember 2015 ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, MEA akan datang dengan segala peluang dan ancamannya. Pemerintah, melalui Kementerian Perindustrian pun mulai bergerak melakukan aksi.

Seminar PMSM SKKNI

Syarif Hidayat, selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian RI, dalam acara seminar yang mengambil tema “Membangun Perangkat Penerapan Standar Kompetensi Manajemen SDM Dan Hubungan Industrial”, yang diselenggarakan YTKI dan PMSM Indonesia di Jakarta (19/5) memberikan gambaran usaha-usaha yang dilakukan Pemerintah khususnya menghadapi MEA, terkait dengan pengembangan kompetensi dan profesionalisme praktisi manajemen SDM dan hubungan industrial.

Syarif mengemukakan, sebagaimana diketahui peranan praktisi manajemen SDM dan Hubungan Industrial dalam sebuah perusahaan sangat penting sebagai penanggung jawab urusan kepersonaliaan serta pengelolaan pengembangan hubungan industrial yang harmonis dan dinamis. “Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN yang salah satunya memuat jaminan kebebasan mobilitas tenaga kerja terampil atau ahli di kawasan ASEAN, maka pengembangan kompetensi praktisi MSDM dan Hubungan Industrial menjadi hal penting untuk mewujudkan praktisi SDM yang kompetensi dan berdaya saing,” katanya.

Kondisi ketenagakerjaan nasional saat ini, jelas Syarif, khususnya di bidang industri masih menghadapi beberapa permasalahan. Sektor industri nasional dengan pertumbuhan berkisar 5-6 % per tahun diperkirakan membutuhkan tenaga kerja lebih kurang 500 ribu sampai dengan 600 ribu per tahun. Kebutuhan tersebut belum dapat dipenuhi seluruhnya sementara masih terdapat 7,24 juta orang dari angkatan kerja nasional yang menganggur terbuka, disebabkan antara lain tidak sesuainya kompetensi yang dimiliki oleh para pencari kerja dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh sektor industri.

Syarif juga menuturkan masalah lain yang dihadapi adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja nasional yang berdasarkan data Produktivitas Tenaga Kerja yang dirilis dalam Asian Productivity Organization (APO) Productivity Workbook tahun 2014 bahwa produktivitas tenaga kerja indonesia berdasarkan PDB per pekerja per tahun adalah US$ 20.000, masih jauh dibawah 3 negara kompetitor utama yaitu Singapore (US$ 114,4 ribu), Malaysia (US$ 46,6 ribu) dan Thailand (US$ 22,9 ribu) bahkan kalah jauh dengan negara terdekat Brunei Darussalam yang memiliki produktivitas tenaga kerja mencapai US$ 163,8 ribu. (*)

Baca juga: 60:40, Perbandingan Soft Skill vs Skill Teknis Praktisi HR

Tags: , , ,