Menggali Potensi Bisnis Melalui Big Data

“Sulit didapatkan dan diinterpretasi, namun sangat kaya manfaatnya, “big data” adalah bab terbaru dalam analisa di tempat kerja,” demikian Bill Roberts membuka tulisan Cover Story di HR Magazine edisi Oktober 2013. Terlepas dari istilah “big data” yang terdengar begitu intimidatif dan rumit, tidak dapat dipungkiri bahwa big data mampu memberikan manfaat yang signifikan bagi bisnis perusahaan.

Adanya kebutuhan perusahaan untuk mengenal karyawan secara komprehensif, memprediksi perilaku karyawan, menekan pengeluaran, serta menciptakan strategi bisnis yang memiliki implikasi yang positif telah meningkatkan popularitas penggunaan big data. Salah satu perusahaan yang secara konsisten menggunakan big data untuk keperluan manajemen SDM adalah Juniper Network yang berbasis di Sillicon Valley. Menggunakan LinkedIn, Juniper Network melacak serta menganalisa kemampuan, pengetahuan, pengalaman, dan jejak karir dari karyawan, mantan karyawan, dan calon karyawan.

Di era global ini penggunaan big data telah menjadi terobosan terbaru dalam analisis kekuatan SDM. Pernyataan tersebut didukung oleh Bob Bennet, Chief Learning Officer pada FedEx Corp yang meyakini bahwa menciptakan nilai dari data merupakan tuntutan dalam lingkungan bisnis. “HR memiliki peranan yang krusial karena HR menjadi sumber utama untuk mengarahkan tingkah laku karyawan, memastikan bahwa tindak-tanduk karyawan dapat diukur, dimonitor, serta dibentuk untuk mencapai objektif bisnis,” ujar Bennet.

Titik Pembeda Big Data

Sebagian dari Anda mungkin bertanya “Apa yang membedakan big data dengan sekumpulan data dalam jumlah yang banyak? Apakah memungkinkan untuk menyamakan dua hal tersebut dalam satu istilah?”

Nyatanya, big data adalah berbeda dengan sekumpulan data-data yang dikumpulkan secara random dan dianalisis secara terpisah. Big data tepatnya dibentuk atas tiga dimensi, yang pertama adalah kuantitas.

Kuantitas dari big data selalu meningkat seiring berjalannya waktu, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi yang memudahkan perusahaan untuk mendokumentasikan informasi digital yang datang dari berbagai sumber seperti smartphones, media sosial, dan social barcode.

Dimensi kedua yang menjadi fondasi dari big data adalah variasi. Big data memiliki keanekaragaman data yang didapatkan dari lingkungan internal dan eksternal perusahaan, layaknya studi tentang gaji dan demografi tenaga kerja. Variasi juga mengacu pada jenis data yang terstruktur dan tidak terstruktur. Data yang terstruktur merupakan data yang bersifat standar dan relasional, seperti HRIS, sistem akunting, dan sistem perencaaan sumber daya perusahaan. Berbeda halnya dengan data yang tidak terstruktur, data tersebut didapatkan dari sumber informasi yang lebih luas seperti pernyataan lisan/tulisan dari subjek penelitian, surel, gambar, video, hingga postingan di social media.

Kecepatan adalah dimensi terakhir yang membentuk big data. Kecepatan atau velocity mereferensi kepada peningkatan pengumpulan data dan seberapa cepat data yang dikumpulkan harus dievaluasi dan diaplikasikan untuk meningkatkan nilai bisnis.

Dari ketiga dimensi big data yang telah dipaparkan, maka dapat dipahami bahwa big data merupakan manifestasi dari peningkatan jumlah dan variasi data yang datang secara cepat dari berbagai media. Proses utilisasi big data tidak selesai pada pengumpulan data yang beragam, melainkan terus berlanjut seiring dengan perusahaan mentransformasikan data-data mentah menjadi informasi yang savvy, terukur, dan dapat dimengerti. Setelah itu perusahaan senantiasa mengkomparasikan hasil interpretasi informasi dengan objektif yang ingin dicapai, dari situ perusahaan dapat menilai apakah situasi, kebijakan, atau strategi bisnis perusahaan telah secara positif berkontribusi terhadap pencapaian goals.

Manfaat yang dipetik dari Big Data

Big data dapat dikonsiderasikan sebagai suatu investasi, dimana implikasi yang nyata baru dapat dirasakan apabila proses penelitian dan interpretasi big data telah dirampungkan dan menghasilkan strategi bisnis yang solutif dan implementatif.

Manfaat pertama dari pemanfaatan big data adalah perusahaan memiliki kesempatan untuk mengambil keputusan bisnis yang didasarkan atas data yang ilmiah dan terukur, bukan berdasarkan common sense, intuisi, atau kebijaksanaan yang bersifat praktis.

Selama bertahun-tahun, HR telah menggunakan data tidak terstruktur dari jawaban karyawan dalam survei engagement, performance review, dll. Di era big data ini, data tak terstruktur tersebut datang dari sumber dalam dan luar organisasi, termasuk dari social media, blog, wiki, email, dan lain-lain. Semua sumber ini akan memberikan semakin banyak insight terhadap keterlibatan karyawan terhadap perusahaan.

Starbucks mendapatkan masukan tentang motivasi karyawannya dari survei dengan banyak pertanyaan terbuka. Starbucks mempekerjakan mahasiswa paska sarjana untuk membantu mereka membuat analisa konten dari informasi yang jumlahnya masif tersebut. Tools untuk mengotomatisasikan proses ini masih dalam tahap pengembangan.

Menurut Ranjan Dutta, direktur pengukuran dan predictive analytics pada PwC Saratoga, teknik analisa otomatis terhadap data tak terstruktur sebagian besar masih dalam tahap awal pengembangannya. Tetapi kemampuan tools-tools seperti ini akan berkembang cepat dalam 5 tahun ke depan. Menurutnya, perusahaan seperti SAP, Oracle, dan Workday saat ini terus mengembangkan perangkat lunak yang terus memudahkan analisa big data.

Baru sedikit organisasi HR yang telah menggunakan data dari situs jejaring sosial. Selain Juniper yang telah disebutkan di atas, organisasi lain yang banyak menggali manfaat dari Linkedin adalah Thrivent. Thrivent mencari kandidat yang memiliki semangat entrepreneurial dan menemukan Linkedin adalah alat yang efektif untuk melakukan pencarian semacam ini.

Facebook dan situs jejaring sosial lain juga menjanjikan. FedEx misalnya, melakukan studi korelasi antara data karyawan dengan data kepuasan konsumen. Mereka mencari tahu bagaimana perbandingan apa yang dikatakan karyawan tentang FedEx dalam situs jejaring sosial dan situs web karir dengan apa yang dikatakan karyawan dalam survey engagement. “Karyawan adalah duta brand, dan social media adalah seperti mikrofon besar yang menyuarakan tentang perusahaan Anda,” ujar Bennett. “Kepuasan karyawan hari ini akan keluar melampaui tempat kerja dan memasuki ranah social. Apabila ada karyawan tidak puas dan menampilkannya di social media, maka kita punya masalah.”

Jalan yang Panjang untuk Meraih Manfaat dari Big Data

Sama seperti penelitian bisnis pada umumnya, proses penggunaan big data menuntut para profesional untuk mengetahui objektif bisnis apa yang ingin diraih, menciptakan cara untuk mendapatkan data yang relevan, menentukan bagaimana penelitian dan interpretasi akan diaktualisasikan, merancang variabel penelitian, dan mengimplementasikan penelitian yang telah direncanakan.

Namun begitu, penting untuk diketahui bahwa ada dua tantangan yang terbesar dari big data yaitu bagaimana mendapatkan data yang diinginkan dan mengintegrasikan data yang berbeda.

Tags: ,