Memahami Bahasa Komunikasi Gen Y

Charles Bonar Sirait-resize

Charles Bonar Sirait-resize

Charles Bonar Sirait, pendiri sekolah public speaking, memberikan pandangan tips bagaimana memahami dan berkomunikasi dengan Gen Y. Hal ini disampaikan pada “Human Capital National Conference” dengan topik “Gen Y, The Millenials, Will Change The Way do Business and That’s Good” di Gedung PPM Manajemen, Jakarta, 26 November 2014.

Menurut Charles, Gen Y adalah salah satu angkatan kerja atau generasi yang menjadi bagian dari multiple generation at workplace yang memang tidak mudah dimengerti dan dipahami karena mereka hidiup dan tumbuh dengan kemajuan teknologi yang jauh berkembang pesat ketimbang generasi-generasi sebelumnya.

Sehingga di dalam manajemen, menjadi tantangan yang luar biasa untuk menyelaraskan dan menyatukan pemikiran dan berkomunikasi dengan Gen Y. “Gen Y ini adalah satu-satunya generasi yang terlempar dari lingkaran bulat grup yang disebut sebagai core generation di dalam workplace, yaitu generasi mature, baby boomers, dan generasi X. Ketiga generasi ini masih ketemu di satu lingkaran yang sama, tapi Gen Y ini sudah keluar karena mereka sangat cepat sangat short-cut, mereka sangat begitu mengadopsi teknologi melampui kecepatan generasi mature, baby boomers dan generasi X,” terangnya.

Salah satu faktor terbesar yang membuat Gen Y berbeda dengan generasi yang lain, lanjut Charles adalah kesukaan mereka dan kebutuhan mereka untuk dihargai masuk pada ruang-ruang private. Charles menambahkan, “Mereka sering tidak bisa membedakan mana lingkungan yang disebut workplace dan mana lingkungan yang disebut private. Kadang malah tertukar, tercampur-campur dan bahkan mereka membawa yang private itu ke dalam workplace dan ini adalah situasi yang tidak begitu disukai oleh generasi mature, baby boomers dan generasiX, karena mereka ini berpedoman sekali berada di tempat kerja kita harus hanya membicarakan masalah pekerjaan, tetapi Gen Y kadang tidak segan-segan mencurahkan isi hati mereka tentang persoalan pribadinya di dalam suasan bekerja dan masih di dalam jam kerja.”

Ini pula yang menurut Charles menjadi kesulitan terbesar, untuk bisa memahami Gen Y karena salah satu kesenangan ataupun yang membuat mereka betah ada di dalam industri bekerja itu kalau pimpinannya dan anggota-anggota yang lain dalam organisasi itu bisa mengerti keanehan ataupun atau kekhususan dan kekhasan mereka untuk bisa berbicara dan minta didengar lebih banyak, malah kadang mereka berceritanya dan hal kedua yang menjadi catatan penting bahwa mereka ini sangat senang dengan bernegosiasi dengan proses tawar menawar.

Charles menyarankan, kalau manajemen melihat bahwa ini adalah sumber daya manusia yang harus dipertahankan,organisasi harus bisa melihat dan menghadapi Gen Y ini sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. “Dibutuhkan kesabaran, dibutuhkan empati yang sangat dalam pada saat mendengarkan permasalahn-permasalahan mereka, dibutuhkan ketelian dan kemampuan untuk mencatat karena yang disampaikan kadang-kadang banyak sekali, mana yang intinya dan ini akan diulangi lagi, ditagih di waktu mendatang kalau mereka belum mendapatkan kepuasan, atau belum mendapatkan support dari generasi-generasi sebelumnya. Mereka menyebarkanbegitu banyak persoalan, tetapi orang HR harus bisa merumuskan mana yang paling prioritas walaupun menurut Gen Y semuanya adalah prioritas.

Charles mengajak untuk tidak segan-segan mencoba dan terus menggali dan menemukan trik-trik baru atau tips-tips jitu cara-cara bernegosiasi dengan Gen Y. “Sekali lagi Gen Y ini sangat suka dengan kegiatan tawar-menawar, Gen Y suka dengan kegiatan tukar menukar dan Gen Y sangat suka dengan kegiatan-kegiatan yang fleksibel. Manajemen akan berhadapan dengan orang yang tidak terlalu malu untuk menawar, dan jika orang HR tidak mempunyai kesiapan untuk itu maka akan frustasi dan menilai keadaan ini sudah sangat mengganggu,” tutur Charles.

Charles mengingatkan bahwa Gen Y yang suka tawar-menawar ini akan diadu dengan mainstream dimana cara berpikir manajemen yang dari dulu mengenal bahwa organization rules itu tidak boleh ditabrak, dan dalam konteks Gen Y ini rasanya tidak mungkin menghindari tabrakan tersebut.

“Karena salah satu yang mereka tawar adalah waktu kerja, cara mencapai result yang berbeda dengan organisasi maui, sehingga pertaruhannya kadang-kadang manajemen dihadapkan pada pilihan untuk mendapat seorang talent Gen Y yang sangat luar biasa, sehingga sangat sayang kalau dilepas, tetapi di satu sisi talent ini membahayakan lingkungan kerja karena menabrak-nabrak aturan perusahaan. Jadi mana yang lebih penting, antara Gen Y yang bisa mencapai target tapi melanggar aturan atau mempertahankan orang-orang yang patuh terhadap aturan organisasi tetapi tidak pernah mencapai target. Itulah tantangan terbesar buat orang HR dan semoga bisa mendapatkan jalan terbaik,” tantang Charles. (*/@erkoes)

Baca juga: Berpikir Seperti Gen Y, Strategi Mendapatkan High Quality Gen Y

Tags: , ,