Linkedin Talent Trends 2014 Report: Apa Alasan Orang Bekerja?

linkedin talent survey 2

Apakah Anda termasuk orang yang mencintai pekerjaan Anda sekarang? Atau justru sebaliknya? Berdasarkan Talent Trends 2014 Report dari Linkedin, ternyata orang-orang di seluruh dunia saat ini umumnya merasa happy dengan pekerjaan mereka saat ini. Dalam report tersebut disebutkan bahwa sebanyak 27% responden merasa sangat puas dengan pekerjaannya, 45 % merasa cukup puas dan 14 % biasa saja, tidak puas, tetapi juga tidak kecewa dengan pekerjaannya.  Responden lain, 10% mengatakan kurang puas dan sisanya sebesar 4% merasa tidak puas sama sekali.linkedin talent survey

Baca juga: Mendorong Motivasi Karyawan Lewat Remunerasi 

Lalu apakah ini sebuah sinyal yang baik bagi Departemen HR? Belum tentu. Karyawan yang puas memang memiliki kecenderungan untuk bekerja secara optimal. Akan tetapi, kepuasan tersebut bukan jaminan bahwa mereka akan tetap setia dengan pekerjaannya saat ini.

Responden yang mengaku puas dengan pekerjaannya tersebut kemudian ditanya mengenai kemungkinan mereka mencari pekerjaan baru. Didapatkan jawaban bahwa hampir separuh dari responden memang tidak secara aktif mencari pekerjaan baru, tetapi tidak menutup kemungkinan untuk pindah jika ada peluang lebih baik.

Seperempatnya mengatakan bahwa mereka tetap secara aktif mencari peluang baru. Sebesar 15% tidak ingin mencari pekerjaan baru, tetapi masih mengobrol dengan teman dekat tentang ada atau tidaknya peluang kerja. Sisanya, yang juga sebesar 15% tidak ingin pindah ke perusahaan lain sama sekali.

Kecenderungan orang mencari pekerjaan baru tidak lepas dari motivasi mereka dalam bekerja. Report yang sama memaparkan top three motivations dalam bekerja antara lain, kompensasi dan benefit yang lebih baik, work/life balance, dan yang ketiga adalah kesempatan untuk peningkatan karir. Sedangkan jabatan (job title), lokasi kantor dan hubungan dengan manager menjadi tiga terbawah motivasi karyawan.

Motivasi karyawan pun sebenarnya berbeda-beda antara gen y atau generasi milenial dengan generasi senior. Cukup mencengangkan bahwa ternyata, gen Y lebih tertarik pada kompensasi ketimbang generasi senior yang ternyata lebih memilih lifestyle sebagai dorongan dalam bekerja. Dan ketika generasi senior ini menginginkan promosi kerja dan jabatan seiring dengan pertambahan usia, gen y adalah generasi yang tidak terlalu mengharapkan work and life balance. Antar jenis kelamin pun motivasi sedikit berbeda. Kaum milenial perempuan lebih peduli dengan hubungan dengan manager dibandingkan laki-laki kaum milenial.

linkedin talent survey 2

Menariknya, tiap negara memiliki motivasi yang berbeda dalam bekerja. Orang Indonesia, Australia dan United Kingdom menginginkan work/life balance, sedangkan United States, Italia, China lebih mengutamakan kompensasi dalam mencari kerja. Benefit berupa kesempatan belajar sangat diinginkan oleh orang-orang dari negara Malaysia, India dan Denmark. Berbeda dengan pekerja-pekerja Jerman yang mencari kerja sesuai dengan skill set yang mereka miliki.

Melihat pada fenomena bahwa satisfied employee masih menginginkan pekerjaan yang baru, langkah apa yang harus disiapkan oleh HRD? Yang pertama adalah jangan biarkan kandidat pasif tersebut membuat kita menunda. Artinya, ketika kita membutuhkan karyawan baru yang kompeten, tidak ada salahnya kita menawarkan pada orang-orang yang sudah bekerja tersebut. Kedua, HR tidak boleh cepat merasa puas memiliki karyawan yang puas dengan pekerjaannya. Kepuasan tidak selalu berarti setia. Untuk itulah, penting bagi HR untuk mengembangkan mereka, memberikan kesempatan untuk belajar dan memjalankan program-program yang dapat meningkatkan komitmen mereka. Tips terakhir untuk para praktisi HR adalah mencari tahu apa yang menjadi motivasi kerja karyawan-karyawannya. Motivasi bisa saja berbeda perorangan, sehingga praktisi HR perlu mendengar keinginan tiap karyawan. (*/@yunitew)

Baca juga: Mengatasi Rasa Malas di Tempat Kerja

Tags: ,