Wikasatrian, Membangun Kepemimpinan dengan Kearifan Lokal

wikasatrian

Selama puluhan tahun, teori-teori dari negara barat telah memberikan pengaruh dalam penyelenggaraan berbagai sistem di berbagai bidang di seluruh dunia. Begitu juga di Indonesia, teori kepemimpinan yang diterapkan di perusahaan maupun instansi, tidak sedikit yang berkiblat pada negara barat.

Dianut banyak negara, bukan berarti itulah yang terbaik. Setidaknya begitulah yang diyakini oleh WIKA. Terlebih lagi akhir-akhir ini, praktik dari teori-teori barat tersebut sebagian menuai kolaps. Kemudian muncullah ide brilliant dari para punggawa WIKA untuk mendirikan sebuah pusat pelatihan kepemimpinan berbasis kearifan lokal bernama WIKASATRIAN.

 

 

Menurut Tonny Warsono, Pamong Utama Wikasatrian, dibandingkan dengan pelatihan kepemimpinan lain, Wikasatrian unggul dalam hal konsep maupun konten kepemimpinan yang disampaikan. Ketika perusahaan lain mencoba mengusung perkembangan mutakhir dari berbagai ilmu kepemimpinan dari luar Indonesia, WIKA justru mendesain pusat pelatihannya se-Indonesia mungkin.

Pola kepemimpinan WIKA menempatkan budi luhur sebagai pusat dari perilaku seorang pemimpin. Budi luhur tersebut kemudian diejawantahkan dalam tiga komponen penting yakni ketuhanan, kemanusiaan dan alam. Budi luhur sendiri adalah sebuah konsep pengosongan diri dari berbagai hal negatif. Konsep tersebut, menurut penuturan Tonny,  terdapat dalam ajaran Ki Hajar Dewantoro dan jika dirunut lebih jauh lagi, tertulis dalam petuah Dewa Ruci dalam kisah pewayangan.

Menghayati tiga komponen dari budi luhur tersebut, maka pembentukan karakter seorang leader dilakukan dengan cara yang cukup unik di Wikasatrin. Selama mengikuti training di Wikasatrian, peserta diajak untuk lebih jauh mengenal budaya Indonesia, memainkan alat musik tradisional, memainkan permainan tradisional, mengenal flora-fauna Indonesia, hingga eksplorasi alam seperti mendaki gunung dan menyelam di laut. Alam dan budaya Indonesialah yang akhirnya berperan penting untuk menularkan kepemimpinan bagi peserta.

Dalam pengajaran di Wikasatrian, dikenal beberapa jenjang, dari yang paling rendah hingga paling tinggi yakni satria pratama, satria utama dan satria piningit. Masing-masing jenjang memiliki objektif yang berbeda-beda. Satria pratama membentuk pemimpin yang memiliki rasa syukur dan ikhlas, menyatu dengan alam. Satria utama berfokus pada pemimpin yang dapat menerapkan ilmunya untuk berkontribusi terhadap masayarakat melalui Corporate Social Responsibility (CSR). Sedangkan Satria Pininggit adalah pemimpin yang mampu mewariskan aplikasi kebudayaan dan keluhuran budi bagi WIKA.

Masing-masing jenjang tersebut dijalani selama enam bulan, dengan empat hari pelatihan di pusat pelatihan Wikasatrian di kaki Gunung Gede. Di lokasi tersebut, interaksi peserta dengan alam diperkuat dengan memberikan tenda sebagai tempat tidur, fasilitas-fasilitas pelatihan yang berbahan dasar dari alam dan sebagainya.

Lalu apakah dengan  berbekal konten yang serba Indonesia ini pemimpin WIKA sanggup untuk bersaing secara global? Tonny Warsono mengungkapkan bahwa justru program inilah yang dipersiapkan agar para pemimpin WIKA bisa mengelola cross culture atau hubungan antar negara dengan baik.

“Beberapa proyek di luar negeri telah ditangani oleh WIKA, bahkan proyek-proyek yang di Indonesia sendiri WIKA belum dipercaya. Untuk mengelola banyak orang dari negara sendiri dan negara lain salah satu pendekatannya adalah dengan budaya,” ungkap Tonny.

Ia menambahkan bahwa sering kali ketika ada hajatan karyawan salah satu proyek WIKA di luar negeri, karyawan dari Indoensia menampilkan kesenian khas Indonesia di acara tersebut. Diungkapkan pula bahwa dangdut adalah salah satu yang paling diminati. (*/@yunitew)

 

Tags: , , ,