Transformasi BCA Menjadi Organisasi Pembelajar

BCA Innovation Award

NAMA BANK CENTRAL ASIA Tbk atau biasa disebut BCA, tentu tidak asing bagi masyarakat luas. Perannya dalam perekonomian nasional cukup penting khususnya bagi masyarakat yang memanfaatkan jasa transaksi keuangan. Begitu pula, bagaimana BCA mengelola SDM tentu menjadi kisah menarik untuk diikuti.

Hendra Tanumihardja, Chief Manager Learning and Development Division Bank Central Asia Tbk, dalam kesempatan sharing session di acara HR Meet and Talk PMSM (Perhimpunan Manajemen Sumber Daya Manusia) Indonesia beberapa waktu lalu, menceritakan salah satu kunci sukses BCA bisa bertahan dan bersaing di industri perbankan yang sangat ketat, yakni bagaimana BCA begitu memperhatikan pengembangan karyawannya. Hendra pun bertutur perjalanan panjang BCA pun turut menentukan di mana BCA setidaknya telah melewati 3 milestone penting.

Hendra Tanumiharja BCA

Milestone pertama, adalah ketika cikal bakal BCA yang waktu itu berawal dari sebuah usaha dagang bernama NV Knitting Factory yang didirikan pada 10 Agustus 1955 oleh keluarga Sudono Salim (Liem Sioe Liong), di Semarang. Dengan akte notaris nomor 38, kongsi dagang ini kemudian berkembang menjadi N.V Bank Central Asia, yang pertama kali beroperasi  di pusat perniagaan di Jalan Asemka Jakarta pada 21 Februari 1957.

Milestone kedua, pada saat BCA mulai melebarkan sayap di bawah kepemimpinan Mochtar Riady dengan adanya kebijakan perbankan pada 27 Oktober 1988 atau yang biasa disebut dengan Pakto 88, di mana pemerintah memberikan keleluasaan bagi bank-bank swasta nasional, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), Bank Asing untuk memberikan atau membuka kantor-kantor baru atau kantor cabang baru.

Dan milestone ketiga pada 1998, di mana BCA berada dalam naungan BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) karena kondisinya yang sedang ‘sakit’. “Syukur alhamdulillah pada 2000 kami berhasil melewati masa krisis, kami berhasil recovery, dan 2004 BCA masuk ke lantai bursa dan menjadi perusahaan publik dengan saham mayoritas kini dimiliki kelompok bisnis Djarum Group,” jelas Hendra.

BCA juga berhasil menancapkan prinsip-prinsip bisnis yang baik hingga dalam beberapa era bank yang pada Juni 2014 memiliki aset Rp 522,7 triliun ini relatif mulus dalam melakukan pergantian kepemimpinan secara berkesinambungan. Hendra pun bercerita dalam suatu kesempatan ia berdiskusi dengan Djohan Emir Setijoso, yang saat ini adalah Presiden Komisaris BCA. Setijoso sendiri adalah salah satu direktur BRI yang menjadi wakil Pemerintah melalui BPPN untuk menjadi tim kuasa direksi di BCA sewaktu krisis 1998. Setijoso juga pernah menjabat sebagai Presiden Direktur BCA pada tahun 1999 hingga tahun 2011. Hendra menanyakan, “Apa yang menjadi concern pertama kali bapak masuk ke BCA, dan apa kesan bapak pertama kalinya?” Hendra mendapat jawaban, “Saya melihat semua karyawan BCA itu kompeten, namun kompetensinya saat itu tidak dibentuk secara institusi.”

Dari situlah kemudian BCA lebih fokus di dalam pembuatan program-program pengembangan SDM. Saat krisis ekonomi khususnya sektor perbankan pada 1998, Hendra melanjutkan, BCA sebenarnya menaruh sedikit keraguan apakah training center menjadi salah satu unit bisnis yang mengalami spin-off. Namun keputusan yang diambil justru sebaliknya, di mana manajemen percaya dan fokus mengembangkan people secara institusi menjadi organisasi pembelajar. Inilah yang kemudian menjadi inpirasi bahwa BCA menempatkan positioning-nya tidak lagi dalam posisi private bank saja, namun sudah menjadi salah satu pilar dalam menggerakkan perekonomian nasional. Posisi ini memang tidak berlebihan karena pernah suatu ketika BCA mengalami masalah pada IT-nya hampir setengah hari dan itu sontak gemanya terdengar secara nasional. Maklum, BCA adalah pemegang tranksaksional banking terbesar di Indonesia hingga saat ini.

BCA memiliki tata nilai yakni, customer focus, integrity, team work, dan continuous pursuit for excellence. Dengan jaringannya yang cukup banyak, hingga data per Juni 2014,BCA memiliki 1.062 kantor cabang, 14.528 ATM (anjungan tunai mandiri),  serta memfasilitasitransaksi di lebih dari 300.000 mesin EDC. Dengan pelanggan aktif 12 juta, wajar kalau BCA mencatatkan sebanyak 541.070.000 transaksi Internet Banking, 151.800 Corporate Internet Banking Business, dan 240.800.000 transaksi Mobile Banking, serta 1.480.000 users Phone Banking. Data 2013 BCA memiliki 19.000 karyawan, yang mayoritas ada di jajaran staf.

BCA Learning and Development

BCA Innovation Award

Biasanya di dalam organisasi divisi HR dengan divisi training itu tidak akur, namun BCA menepis anggapan itu dan memperlihatkan bahwa hubungan keduanya cukup harmonis. Hendra menjelaskan, untuk divisi pembelajaran ada di Learning and Development Division, dan satu lagi Human Capital Management (HCM). Hendra juga menuturkan peran divisi ini dalam menjalan corporate learning and development ada 5 (lima) poin penting.

Pertama learning strategy, yaitu bagaimana BCA harus menetapkan learning dan implementasi performance supaya perusahaan bisa fokus dengan bisnisnya. “Inilah yang kita pikirkan apakah kita harus mengganti menjadi Corporate University, dan kami sepakat tidah terburu-buru mengganti nama Corporate University namun lebih melakukan refleksi apakah memang kita sudah siap menerapkan Corporate University, dan mengganti divisi sekarang dengan label Corporate University. Hingga saat ini kami masih menggunakan BCA Learning Center,” papar Hendra.

Kedua, menjadi strategic partner, di mana titik tekannya kalau learning center itu lebih ke HR Driven sementara Corporate University itu lebih banyak kepada Business Driven, dan BCA sedang bertransformasi mengarah ke sana. Hendra mengatakan, “Kita akan arahkan ke business driven dengan cara bagaimana orang-orang training itu menjadi strategic partner buat orang-orang bisnis, dan bersyukur saat ini sebenarnya sudah banyak inisiatif-inisiatif yang datangnya dari orang-orang bisnis.”

Ketiga adalah talent and leadership development, dalam arti bahwa perusahaan harus memiliki suksesor atau talent development yang baik, yang bisa memastikan di masa mendatang organisasi tetap memiliki pemimpin yang kuat, dan keempat bagaimana BCA menciptakan learning culture  dan knowledge management. “Tahun 2011 nama kami masih menggunakan Divisi Pendidikan dan Pelatihan, dan saat itu kami berpikir bukan lagi sekedar pendidikan saja kalau kita bicara mengenai pengembangan orang, tapi bicara juga tentang belajar atau learning yang memiliki makna lebih luas dari hanya mendidik atau melatih, sehingga kemudian kami merubah nama menjadi Divisi Pengembangan dan Pembelajaran,” imbuh Hendra.

Lalu kelima adalah design, deliver and evaluate learning activities yaitu bagaimana BCA mendesain, mendeliver, dan mengevaluasi setiap learning activity yang ada di dalam organisasi. “Kami ingin BCA akan menjadi organisasi pembelajar yang kompeten bagi unit kerja maupun unit bisnis yang menghasilkan human capitalsebagai motor penggerak di perusahaan dan anak-anak perusahaan. Untuk itulah kami menetapkan mimpi untuk menyediakan human capital yang berkualitas melalui proses pembelajaran yang kreatif dan inovatif, karena kami tahu ke depan kompetensi itu harus dibangun bukan saja untuk memenuhi kompetensi saat ini tetapi juga kompetensi di masa yang akan datang,” tukas Hendra.(*/@erkoes)

Tags: , ,