Training Perusahaan Berubah Wajah

Para mentor pelatihan di perusahaan saat ini dihadapkan pada tuntutan yang terus meningkat untuk meminimalkan waktu karyawan untuk mengikuti training. Hal itu terjadi seiring dengan berkurangnya training formal dalam kelas dan makin besarnya perhatian terhadap e-learning.
Demikian menurut survei atas 2000 eksekutif HR dan training oleh lembaga konsultasi Novations Group di Boston, AS. Survei juga menemukan bahwa tuntutan agar hasil dari training harus bisa diukur dengan angka, semakin besar.
“Training perusahaan selalu berkembang dan menyesuaikan diri, dan kini tantangannya adalah memastikan hasilnya bisa diangkakan dan memiliki kontribusi ke bottom line</I>,” ujar Senior VP Novations Rebecca Hefter.
“Bagaimana pun, tak ada manajemen yang tidak menghargai kepemimpinan atau pengembangan karyawan. Faktanya, studi kami menunjukkan investasi dalam training terus meningkat. Tapi, trennya makin jauh dari kelas dan effort yang lebih besar untuk pembelajaran menjadi tantangan sehari-hari di tempat kerja,” papar dia.
E-learning hampir 6 dari 10 (57%) eksekutif HR dantraining yang disurvei mengatakan bahwa mereka sedang meningkatkan penggunaan e-learning. Peningkatan juga terjadi pada “training on the job” (4 dari 10) dan “personal coaching” (sepertiga). Semua itu berdampak pada pembelajaran berbasis kelas, dengan 3 dari 10 mengaku tengah menguranginya.
Pada saat yang sama, 4 dari 10 (43%) mengatakan bahwa mereka berada di bawah tekanan yang lebih besar untuk mengukur dengan angka hasil training.
Survei juga menyoroti, untuk membatasi penggunaan waktu di luar jam kerja, para trainer memadukan pembelajaran di kelas dengan metode-metode tindak lanjut, seperti conference call dan net meeting.
“Perusahaan menginginkan training yang relevan, dan pelatihan-pelatihan yang mendekati simulasi kerja mulai diperkenalkan dalam pekerjaan. Studi-studi kasus di mana tim menyelesaikan problem-problem nyata dalam pekerjaan kini juga sangat populer,” simpul Hefter.