Perusahaan Harus Siap Sambut Generasi Y

Ucapkan selamat datang kepada mereka yang disebut sebagai Generasi Y. Seiring makin mundurnya kaum pekerja dari generasi pendahulu, baby-boomers yang dikenal pekerja keras, Generasi Y mulai mengambil-alih tempat dalam struktur perusahaan. Siapa mereka?

Kaum pengusaha dan jajaran pemimpin perusahaan harus mengenalinya dengan baik. Jika tidak, inilah akibatnya. Sebuah survei mengungkapkan bahwa para pemimpin perusahaan yang merekrut karyawan di bawah usia 30 tahun mengeluh.

Menurut mereka, anak-anak muda itu tidak bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, minta gaji lebih besar, rewel minta promosi padahal baru setahun bergabung dengan perusahaan, dan berharap diizinkan untuk bekerja secara fleksibel.

Survei dilakukan oleh websites rekrutmen CareerBuilder.com dan melibatkan lebih dari 2.500 pimpinan perusahaan dan manajer. Ditemukan bahwa terdapat jurang perbedaan yang begitu besar antara (kaum pekerja) Generasi Y dengan jajaran manajer mereka, dan diperkirakan perbedaan itu bisa menimbulkan masalah-masalah yang nyata di kemudian hari.

Gaya Komunikasi

Hampir separo dari pimpinan perusahaan yang disurvei mengatakan, terdapat perbedaan yang tajam dalam gaya-gaya berkomunikasi antara karyawan Generasi Y dengan koleganya yang lebih tua. Dimana, generasi baru tersebut lebih banyak berkomunikasi lewat teknologi ketimbang tatap muka.

Selain itu, seperti dinyatakan oleh seperempat responden, mereka juga memiliki kerangka-kerangka referensi yang berbeda pada banyak hal, dari soal sikap hingga budaya pop.

Lebih jauh, hampir 9 dari 10 hiring manager dan profesional HR yang dimintai pendapat mengungkapkan, sebagian atau sebagian besar dari Generasi Y merasa “berhak” untuk meminta lebih atas kompensasi, benefit dan promosi dibandingkan dengan generasi pendahulunya.

Hampir tiga perempat menunjuk, Generasi Y mengharapkan gaji yang lebih, dengan 6 dari 10 mengeluhkan permintaan mereka atas fleksibilitas jadwal kerja.

Lebih dari separo melaporkan, Generasi Y minta promosi dalam setahun, dan mengharapkan libur yang lebih banyak.

Yang mengkhawatirkan, seperti dikatakan oleh lebih dari separo pemimpin perusahaan, Generasi Y sulit diatur dan susah bertanggung jawab.

Segmen Penting

“Karyawan Generasi Y merupakan segmen penting dari ketenagakerjaan dan merekalah masa depan perusahaan,” ujar VP HR CareerBuilder.com Rosemary Haefner.

“Mereka tumbuh dalam dunia yang dikendalikan oleh teknologi, dimana standar-standar dan norma-norma sudah berubah dan mereka kerap berjalan di bawah perspektif-perspektif yang berbeda dibandingkan dengan generasi sebelumnya,” tambah dia.

Menurut Haefner, perusahaan hendaknya memiliki budaya yang mampu mengembangkan berbagai tipe generasi yang berbeda, seluruh karyawan bisa mengambil keuntungan dari adanya beragam cara pandang dan gaya kerja.

Menurut survei, banyak perusahaan yang telah siap menyambut kedatangan generasi baru tersebut. Sekitar 15% pemimpin perusahaan mengaku telah mengubah atau mengimplementasikan kebijakan-kebijakan baru atau program-program khusus untuk mengakomodasi karyawan Generasi Y.

Antara lain, dengan menyediakan jadwal-jadwal kerja yang lebih fleksibel dan program-program pengakuan. Juga, memperluas akses pada teknologi, menaikkan gaji serta mengadakan lebih banyak program-program pendidikan dan pelatihan.

Upaya lain yang telah dilakukan perusahaan untuk meng-attract dan me-retain karyawan Generation Y adalah dengan memberikan fasilitas telepon selular, pilihan kerja jarak jauh dan liburan yang lebih banyak.