Mengintip Corporate University Garuda Indonesia

Fajar Sidiq

Garuda Indonesia saat ini banyak melakukan alignment di sisi manajemen sumber daya manusia (SDM) seiring dengan strategi bisnis perusahaan. Kami berkesempatan mewawancarai Fajar Sidiq, VP Learning & Development PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk beberapa waktu yang lalu. Wawancara selengkapnya juga akan kami hadirkan di majalah Human Capital edisi Mei-Juni 2013.

Fajar Sidiq mengatakan, saat ini Garuda sedang mengalami sustainable growth sehingga membutuhkan fondasi yang kuat pada SDM. Karena itu Garudah Indonesia Training Center (GITC) pun melakukan alignment, sehingga learning akan menjadi bagian program perusahaan dalam mencapai high performance organization.

Pemegang kendali agar perusahaan tidak mengalami pertumbuhan yang naik-turun ada pada people, salah satu yang memperkuat kompetensi people terdapat pada learning & development. Ia mengatakan sejak tahun 2010 departemen training center terus melakukan analisis program learning agar benar-benar terintegrasi dengan program perusahaan. Upaya mencapai keselarasan program ini tentunya agar investasi cost untuk pengembangan people tidak sia-sia. “Inilah yang sedang digarap dalam sebuah rumah yang dinamakan corporate university (CU),” tukasnya.

CU merupakan pola pengajaran yang telah berkembang kurang lebih 10 tahun yang lalu, hasil dari beberapa penelitian menjadi sebuah proses pembelajaran yang terus berkelanjutan yang kemudian di-organize dengan baik. Implementasinya seorang employee di-training, ketika kembali ke unitnya yang bersangkutan bisa mengembangkan pengetahuan agar organisasinya bisa tumbuh, jika karyawan yang bersangkutan membutuhkan peningkatan kompetensi dapat kembali mengukuti training, itulah yang menjadi prinsip dasar CU. “Ketika karyawan masuk untuk mengikuti training, mereka sudah mengetahui jurusan mana yang akan diambil sesuai dengan kebutuhan unitnya,” katanya.

Yang terpenting di dalam CU ialah atapnya yakni leadership yang terdiri dari dua garis pengembangan yaitu leadership organizing dan leadership profesional, sementara program pembelajaran diapit oleh learning management system (LMS) dan knowledge management (KM). Proses pembelajaran ini tentunya menghasilkan knowledge yang akan dicapture, kemudian dishare melalui e-learning. “Diharapkan para karyawan yang ingin mendalami pengetahuan lain terkait dengan unit di perusahaan dapat sharing via e-learning. Kami sedang menata learning culture, meskipun belum sempurna dan masih menganalisis secara berkelanjutan,” jelasnya.

Ia berujar, hal ini menjadi jembatan untuk mempercepat program CU. Keduanya menjaga knowledge dan produktifitas karyawan, salah satunya dengan metode e-learning, sistem ini memungkinkan karyawan bisa ikut training tanpa menurunkan produktifitas, namun untuk mempercepat proses pembelajaran melalui KM.

Persyaratan dalam membangun standar sistem CU, departemennya harus align dengan direktorat-direktorat agar mendapatkan buy in terhadap apa yang dilakukan, sehingga para direktur sadar untuk bertanggung jawab pada setiap program learning. “Sementara yang kami lakukan saat ini ialah bagaimana kami melakukan buy in dengan masing-masing direktur agar dapat memfasilitasi ke dalam program-program learning. Sejauh ini para direktur sudah sering datang ke sini untuk sharing,” tukasnya.

Tentunya ada alasan mengapa perusahaan harus melaksanakan program CU. “Kompetitor di internasional tengah melakukan itu, dan kami sudah masuk ke dalam atmosfir persaingan dunia. Mau tidak mau kami (bagian trainingred) juga harus terus mencari inisiatif untuk mengimbangi ekspektasi perusahaan internasional yang berkembang seperti apa,” jelasnya. Untuk ke depannya akan dilakukan blending program yang terdiri dari 10% classroom 20% discussion & case study 70% job assignment.

Seperti yang dikatakan Fajar, pihaknya telah berupaya dalam menggerakkan karyawan agar willingness dengan program ini baik dari e-learning maupun melaksanakan sharing classroom. “Kami memiliki Employee Performance Program, setiap karyawan harus mengisi employee program di dalamnya terdapat Employee Development Program (EDP). Ketika karyawan mengisi program yang terdiri dari target dan KPI, perusahaan memfasilitasi satu kolom EDP yang di dalamnya memang karyawan diharuskan mengikuti training dalam satu tahun.”

Melanjutkan penjelasan, untuk mengikuti training umumnnya karyawan mengikuti rata-rata 40 jam per-tahun. Namun tidak menutup kemungkinan bagi seorang karyawan dapat mengikuti melebihi waktu yang ditentukan, kemungkinan tersebut karena leader melihat bahwa kompetensi karywan sudah bagus dan perlu peningkatan, yang kedua employee mengusulkan kepada pimpinan untuk mengikuti training.

Ia juga mengatakan bahwa dalam membangun learning culture, khususnya dalam penerapan e-learning masih memiliki keterbatasan dan belum sepenuhnya menjangkau seluruh employee, namun hal ini telah mengarah ke sana dan akan terus dikembangkan. “Karena biasanya di dalam mindset seseorang, untuk belajar maka harus meninggalkan pekerjaannya selama beberapa hari seperti menghadiri diklat. Sedangkan waktu sangat penting untuk meningkatkan produktifitas karyawan, dengan ini maka dapat memanfaatkan waktu kosong bisa mengaksesnya,” tukasnya.

Mengenai ke pembahasan di awal (corporate universityred), sejatinya perusahaan merupakan universitas yang mahasiswanya merupakan karyawannya sendiri maka dari itu knowledge harus terus dibangun. “Yang terpenting ialah kerjasama dalam membangun budaya perusahaan serta komitmen dari berbagai pihak, karena di perusahaan mana pun jika peoplenya tidak memiliki komitmen tentunya akan ketinggalan,” ucapnya. (*/@Shinnyislamiyah @friesskk)

zp8497586rq
Tags: ,