Menggalakkan Digital Learning ala Telkom

priyantono rudito

priyantono rudito

Rabu, 24 September 2014, PortalHR bekerja sama dengan Telkom Indonesia, menyelenggarakan seminar bertajuk Indonesia Digital Social Learning (IDSL) yang berlokasi di Ballroom Hotel Ritz Carlton Jakarta. IDSL merupakan seminar pertama di Indonesia yang membicarakan tentang pemanfaatan digital dan sosial learning bagi perusahaan/organisasi. Dihadiri oleh 200 peserta, acara tersebut dibuka oleh Priyantono Rudito, Direktur Human Capital Management (HCM) PT Telkom Indonesia Tbk. Dalam kesempatan tersebut, ia juga memberikan pemaparan tentang bagaimana upaya Telkom dalam menginisiasi (enabling) terjadinya e-learning di Indonesia.

Ketika ditanya mengenai Telkom, kemungkinan besar orang akan menyebut kata “telekomunikasi”. Inilah branding yang sudah sangat melekat di benak siapapun dan kini sedang diusahakan untuk diubah oleh Telkom. Secara gamblang mereka melakukan redefinisi unit bisnis mereka yang kemudian dirangkum dalam TIME (Telekomunikasi, Informasi, Media &Edutainment).

“ME ( Media & Edutainment –red) inilah yang berhubungan dengan digital life. Ada sebuah report yang menyatakan bahwa setiap menitnya ada video berdurasi 48 jam di-upload di Youtube. Jika angka ini benar, maka betapa besar data yang diunggah dan aktivitas digital warga dunia,” ungkap Priyantono.

Digital life dewasa ini dicirikan dengan tiga pola aktivitas. Digitally connected menjadi pola aktivitas yang pertama. Dikatakan bahwa 79% dari konsumen menghabiskan setidaknya 50% dari total waktu belanjanya untuk mengecek barang yang mereka butuhkan melalui online. Pola yang kedua adalah socially networking. Ini dibuktikan dengan sebanyak 53% dari konsumen beralih dari pembelian langsung di toko hanya karena membaca sentimen negative yang diungkapkan secara online. Ciri yang ketiga adalah para konsumen menjadi lebih baik dalam pemerolehan informasi (better informed). Sebanyak 59% konsumen memiliki keinginan untuk mencoba merek baru untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik.

Pola pembelajaran abad 21 juga sangat berbeda dengan pembelajaran tradisional. Kali ini, di dalam kelas tidak lagi ada tumpukan kertas tetapi device-device yang memungkinkan pembelajaran secara digital dan online. Bahkan, bukan tidak mungkin jika tahun-tahun mendatang peserta didik di perguruan tinggi atau SMA mendapat satu tablet untuk seorang siswa. Menurut Priyantono, e-learning sangat efektif membantu mempercepat proses belajar, karena beberapa alasan yang ia rumuskan dalam 4A.

“Yang pertama itu accessibility, kedua availability, kemudian affordability. Yang terakhir mungkin huruf awalnya bukan “a” tapi dilafalkannya begitu. Update, kan bacanya apdet yah meskipun huruf awalnya “u”, jelas Priyantono.

Untuk bisa tampil dalam pentas global, Indonesia memang harus mulai membuka diri untuk memanfaatkan teknologi sehingga dapat mengambil manfaat dari adanya globalisasi. Saat ini, Indonesia berada pada posisi 16 sebagai negara dengan ekonomi terbesar di Indonesia. Pada 2030 nanti, diprediksi Indonesia akan menanjak ke posisi ke-7. Jadi, untuk siap bermain dalam posisi sepuluh besar tersebut, Indonesia harus banyak belajar, salah satunya adalah dengan digital dan social learning.

Tags: , , ,