Memaksimalkan Pengetahuan untuk Meningkatkan Daya Saing

Dari serangkaian acara, sesi yang menarik perhatian peserta adalah talk show yang menghadirkan narasumber andal di bidangnya masing-masing. Mereka adalah Imam B Prasodjo (sosiolog dan dosen Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Indonesia), Hengky S. Tjahjadi (KM Expert dan VP di PT Smart), dan Firmansyah (Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia/FE-UI). Talk show yang dipandu oleh Andiral Purnomo, Associate Partner Dunamis Organization Services, ini diawali dengan menanyakan kepada narasumber, bagaimana upaya mereka memaksimalkan pengetahuan untuk meningkatkan nilai individu?

Imam menceritakan, ia merupakan salah satu anak Indonesia yang beruntung lantaran pernah belajar dengan anak-anak lain dari berbagai negara. Pengalaman berharga itu ia dapatkan berkat keikutsertaannya dalam pertukaran pelajar antarnegara, salah satunya American Field Service (AFS) di Amerika. Ia mengungkapkan, selain bisa menikmati jalan-jalan ke luar negeri, manfaat dari pertukaran pelajar yang ia peroleh kala itu adalah menambah pengetahuannya mengenai kondisi bangsa lain sehingga dapat membandingkan dengan situasi di negerinya sendiri.

“Ada satu negara yang saya kunjungi, dan saya merasa bahagia, adalah Kamboja. Kalau di negara lain saya merasa sedih,” tutur Imam. Menurutnya, penduduk di Kamboja lebih “bodoh” dibanding di Indonesia. Sementara di negara-negara lain – seperti Malaysia, Thailand, dan Philipina – ia merasa negaranya sangat jauh tertinggal. Oleh karena itu, ia punya mimpi besar untuk menarik bangsa Indonesia dari “kerumunan besar” menjadi “barisan-barisan sosial”.

Ia menyampaikan, seharusnya kita menyadari bahwa “kerumunan besar” rakyat Indonesia yang berjumlah lebih dari 220 juta jiwa ini mampu menggalang diri dan mentransformasikan keberadaannya menjadi “barisan-barisan sosial” yang tertata rapi untuk melakukan kerja dan mencari solusi. “Rakyat Indonesia harus berbaris dalam organisasiorganisasi yang memiliki visi dan misi yang jelas. Satu sama lain dari barisan organisasi ini harus bersinergi, berbagi tugas untuk mencapai satu tujuan luhur, yakni menciptakan Indonesia yang demokratis, bebas dari pelanggaran hak-hak azasi manusia, berkeadilan, dan penuh kedamaian,” paparnya.

Lalu, kontribusi apa yang bisa ia berikan untuk mewujudkan cita-citanya? Salah satu upaya yang dilakukannya adalah menjadi dosen. Inspirasi menjadi pengajar ini muncul ketika Imam kembali ke Indonesia pada 1997 setelah menamatkan S3-nya di Brown University, Providence, Rhode Island, Amerika Serikat. “Seperti yang kita ketahui, saat itu terjadi era penyerahan kekuasaan orde baru yang berbuntut lahirnya era reformasi di Indonesia. Saat itu banyak sekali orang yang menderita. Dari situlah impian saya menjadi dosen terpanggil,” tuturnya mengenang.

Kejadian itu membuat pola pikir Imam berubah. Selama ini ia melihat pekerjaan dosen hanya mengajar dan meniti karier dari penelitian-penelitian akademis. Namun, ia mampu melakukan perubahan dengan terjun langsung di masyarakat. “Perguruan tinggi kita seharusnya mempunyai tempat dan konstitusi khusus untuk menyalurkan pemikiran atau aspirasi mahasiswa dan dosen sehingga pemikiran mereka tidak sekadar tertulis, namun ada kelanjutannya,” katanya berharap.

Imam memastikan, perguruan tinggi adalah tempat terbaik untuk belajar, berinteraksi, dan berbagi pengetahuan dengan banyak orang. “Misalnya, saya bukan dosen dari fakultas ekonomi, tetapi saya bisa mendapatkan banyak pengetahuan tentang ekonomi karena mempunyai waktu dan kesempatan berdialog langsung dengan teman-teman di fakultas ekonomi,” ungkap Imam mencontohkan transfer knowledge yang dialaminya.

Kendati demikian, ia mengaku prihatin dengan penerapan sistem pendidikan di Indonesia. Imam mencontohkan, penjara di Amerika Serikat selalu menyediakan buku-buku untuk para narapidana. Tapi tidak demikian di Indonesia. Menurutnya, hampir semua penjara di Indonesia tidak menyediakan perpustakaan, termasuk di penjara anak-anak. ”Jika pemerintah menyediakan anggaran untuk pendidikan dan pemanfaatan teknologi bagi para narapidana anak anak, mereka akan mampu melanjutkan kehidupan di masyarakat,” ujarnya yakin. Bagaimanapun, ia melihat para narapidana itu adalah aset negeri ini.

Sementara itu, Hengky berpendapat, kunci utama penerapan knowledge management adalah understanding (pemahaman). Ia menjabarkan beberapa unsur penting yang diramu dalam istilah KUDA: Knowledge, Understanding, Decision, and Action. “Dalam upaya mencapai tujuan, kita membutuhkan ‘K’, yaitu knowledge. Kemudian, unsur yang lebih penting saat kita mendapatkan pengetahuan, yaitu understanding (U). Kadang kita sering melupakan unsur yang satu ini. Setelah kita sibuk membangun pengertian, kita lupa bahwa hidup harus membuat keputusan (decision). Dan, KUDA tidak akan berjalan bila tidak ada huruf ‘A’ di belakangnya, yaitu action,” paparnya.

Hengky mengungkapkan, untuk mencapai suatu kesuksesan hanya ada satu kunci rahasia, yaitu making the right decision (membuat keputusan yang tepat). Bagaimana caranya membuat keputusan yang tepat? Menurut alumni ITB yang memegang gelar Ph.D di bidang control engineering, ini rahasianya hanya satu, yaitu experience (pengalaman). Dan, ia melanjutkan, rahasia experience adalah: making wrong decision.

Berbagai unsur yang menjadi modal sukses, menurut Hengky, antara lain yaitu: spiritual capital, intellectual capital, emotional capital, earth capital, network, dan time capital. Dari sekian banyak modal itu, ia menilai, yang paling menentukan adalah spiritual capital yang terkait dengan nilai-nilai yang kita percayai. Ia tidak membatasi nilainilai ini hanya bersumber dari agama. “Unsur inilah yang paling menentukan apakah sukses kita hanya sekadar sukses atau sukses yang signifikan,” katanya. Ia juga mengingatkan, segala upaya untuk mengumpulkan, mengolah, dan memanfaatkan unsur-unsur modal pribadi yang kita miliki, sebisa mungkin juga menghasilkan eternity capital (modal bagi kebahagiaan abadi kita kelak).

Di sisi lain, Firmasyah – dekan termuda dalam sejarah Univesitas Indonesia (UI), ketika ditanya moderator, apakah profesinya saat ini adalah profesi yang ideal untuknya? Ia menjawab tegas, “meleset”. Alasannya, waktu kecil citacitanya ingin menjadi Astronot. Seiring waktu, cita-citanya berubah, dari Astronot menjadi Insinyur. Namun, saat lulus SMA, ia memilih FE-UI dan lulus dalam waktu 3,5 tahun. Ia sempat menjajal dunia asuransi sebagai analis pasar sebelum memutuskan kembali ke bangku kuliah, setahun kemudian. Pria yang akrab disapa Fiz ini mengambil program S2 di bidang yang sama dan menyelesaikannya dalam tempo dua tahun. Kala itu ia belum berpikir ingin menjadi dosen, walaupun sudah menyambet gelar S2 di UI.

Melanjutkan studi di Universitas Lille di Prancis, merupakan titik balik Fiz mengenal dunia yang lebih luas. Ia mendalami bidang strategi organisasi dan manajemen atas beasiswa dari universtas tersebut. “Ketika mendapatkan beasiswa ke Prancis, itu merupakan perjalanan pertama saya ke luar negeri dan kali pertama naik pesawat,” ungkapnya jujur yang disambut tawa peserta. Di Prancis, ia sempat mengajar setahun di almamaternya, sebelum dipanggil pulang oleh Dekan FE-UI saat itu, Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro untuk mengajar di UI. “Padahal, tiga hari sebelumnya, saya baru saja mendapat tawaran menjadi dosen tetap dengan gaji tinggi dan fasilitas lengkap pula,” ungkapnya.

Fiz menilai, menetap di Prancis akan menjadikannya dosen terbang di berbagai negara di dunia, antara lain Maroko dan Inggris. Fasilitas perpustakaan yang lengkap merupakan surga baginya. Mendapati bahwa kehidupan di Prancis terlalu mudah baginya, ia memilih kembali ke Indonesia. “Ada banyak hal yang bisa saya lakukan di sini dan itu akan lebih berarti. Hidup ternyata tidak hanya mencari kenyamanan,” ujar suami Ratna Indraswari ini sambil tersenyum.

Pengagum teori Tsun Zu ini memiliki falsafah hidup, rasa kemanusiaan adalah naluri yang paling kuat untuk memenangkan pertarungan hidup. Baginya, pertarungan itu bisa terjadi di mana saja, dan yang membedakan antara yang menang dan yang kalah adalah strategi. “Bangsa Indonesia membutuhkan pemimpin yang berperan sebagai boundary-spanner untuk berinteraksi dengan yang lain dalam membangun keterkaitan, komunikasi, dan kerja sama kelembagaan. Hanya dengan ini daya saing Indonesia dapat ditingkatkan melalui penggabungan semua sumber daya dan keunggulan nasional,” kata pria kelahiran 7 Juli 1976, ini memastikan.

“Jika pemerintah menyediakan anggaran untuk pendidikan dan pemanfaatan teknologi bagi para narapidana anak-anak, mereka mampu melanjutkan kehidupan di masyarakat”

( Imam B Prasodjo )