Kunci Utama Transformasi Organisasi: Passionate Learning

horatjitra

Kemajuan teknologi yang pesat dan selera pasar yang cepat berubah membuat perusahaan dihadapkan kepada situasi yang sulit untuk diramalkan. Dengan situasi tersebut tentu tidak ada alasan bagi perusahaan untuk berdiam diri. Perubahan menjadi kebutuhan organisasi yang tetap ingin mempertahankan bisnisnya. Namun yang perlu dicermati adalah bagaimana perusahaan bisa mempertahankan perubahan tersebut secara berkelanjutan.

Melalui Roundtable discussion yang diselenggarakan oleh Global Indonesian Network dengan tema “Ensuring Sustainability in Organizational Transformation” kemarin (7/5), Prof. Dr. Hora Tjitra menyampaikan hasil penelitiannya mengenai perubahan. Director dari Tjitra Consulting ini bersama tim-nya melakukan penelitian terhadap 100 Top Management dari 6 negara. Perhatian Hora yaitu tentang bagaimana seorang pemimpin bisa sukses ataupun jatuh pada saat memimpin suatu perubahan.

Mengapa pemimpin? Karena situasi di dalam perusahaan dalam menghadapi perubahan terkadang masih belum stabil. Untuk itu menurut Hora dibutuhkan sebuah landasan atau strategic planning yang bisa menjadi acuan bagi leader. “Kadang pemimpin di Indonesia masih kurang memperhatikan planning untuk mencapai perubahan, menurut saya hal itu bisa memudahkan dan membantu transformasi organisasi itu sendiri,” ujar Hora.

Menurut Hora, dengan mempunyai perencanaan strategis, maka para pemimpin akan dimudahkan untuk menentukan strategi dan arahan terhadap strategi tersebut. Hal ini juga membantu mereka mengambil keputusan sebelum membuat kesalahan yang akan berakibat buruk bagi organisasi. “Saya tadi menyampaikan beberapa framework yang mungkin bisa berguna bagi organisasi yang ingin melakukan transformasi, yang terpenting adalah menekankan faktor ‘why’ dan ‘what’ sebelum melakukan perubahan,” jelas Hora. Kegagalan yang menimpa sebuah perusahaan seringkali disebabkan oleh ketidakcocokan sebuah sistem terhadap situasi organisasinya. Untuk itu, para pemimpin perlu mengetahui terlebih dahulu alasan mengapa (why) dan apa (what) sehingga perusahaan perlu melakukan transformasi.

“Kami setuju dengan Pak Hora bahwa setiap bisnis memiliki kondisi yang berbeda-beda, untuk itu strateginya juga mesti disesuaikan terlebih dahulu, di sinilah figur pemimpin diperlukan untuk mengolah strategi tersebut bisa dijalankan untuk proyeksi jangka panjang,” tutur salah seorang peserta pada sessi diskusi panel.

Namun tidak hanya berhenti disitu, Hora juga menekankan bahwa realita dari strategi tersebut mesti benar-benar terwujud. “Misalnya kita mendefinisikan value untuk pengembangan manusia, maka hal itu harus menjadi realita, dalam arti dikerjakan oleh semua karyawan,” terang Hora.

Dalam proses perubahan di dalam organisasi kadang beberapa karyawan atau SDM membutuhkan adaptasi untuk menerima hal tersebut. Perubahan dapat membuat peranan atau role tiap karyawan menjadi berubah atau berbeda fungsinya. Hal ini diakui oleh Hora bahwa beberapa perusahaan membutuhkan komunikasi dan kolaborasi untuk mensinergikan perubahan tersebut.

Untuk hal ini ada 4 faktor yang bisa dilakukan leader untuk mengoptimalkan proses perubahan:

1. Motivation, leader bisa mengubah karyawan dengan memotivasi mereka.

2. Ability, leader bisa memfasilitasi peningkatan kompetensi karyawan untuk melancarkan perubahan

3. Perception, leader menjelaskan struktur yang jelas dan pembagian job desc yang jelas kepada karyawan

4. Situational Factors/Budaya, jelaskan kepada karyawan nilai-nilai perusahaan untuk meningkatkan performa mereka.

Dalam survey yang dilakukan Hora dan tim terungkap bahwa kunci utama untuk membuat transformasi organisasi berhasil dijalankan adalah passionate learning. “Dari survei global itu, kesimpulan utama kita adalah pentingnya aspek pembelajaran. Dalam arti seberapa jauh CEO bisa menyadari kekuatan dan kelebihan dia. Seberapa cepat ia bisa belajar dan men-drive perubahan tersebut,” ujar Hora. (*/@nurulmelisa)

 

Tags: , , ,