Kiat-kiat Menjalankan Knowledge Management dan Ber-Social Media

KM Socmed

TOPIK social media and HR memang menjadi tema sentra di perhelatan PortalHR Summit 2012, yang diselenggarakan pada 17-18 April pekan lalu. Tema yang relatif anyar bagi para praktisi HR memunculkan ide dan gagasan bagaimana orang HR harus bersikap.

Salah satu sharing menarik di ajang PortalHR Summit 2012, adalah tentang knowledge mangement (KM) dan social media. Tampil sebagai nara sumber, adalah dua pakar yang sudah lama berkecimpung di dunia HR. Mereka adalah Enny Sampurno yang kini menjabat sebagai HR Director di PT Unilever Indonesia, Tbk (Unilever) dan Josef Bataona, HR Director PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon). Menariknya, kedua pembicara ini sama-sama pernah bekerja di organisasi yang sama.


(Kiri-kanan: N Krisbiyanto (Partner of PortalHR, Enny Sampurno (HR Director PT Unilever Indonesia Tbk), dan Josef Bataona (HR Direktor PT Bank Danamon Indonesia Tbk)

Josef Bataona, sebelumnya selama 31 tahun bekerja di Unilever di mana selama 10 tahun terakhir menjabat sebagai Direktur HR. Posisi yang ditinggalkan Josef, saat ini digantikan oleh Enny Sampurno. “Ini senior saya, lho,” ujar Enny memperkenalkan Josef Bataona pada tim PortalHR.

Dalam presentasinya, Enny sharing tentang kiprah Unilever yang dikenal sebagai perusahaan yang konsisten menerapkan KM dengan baik. Klaim Enny ini memang beralasan, karena penerapan KM di tempatnya bekerja sudah sering diganjar Make (Indonesian Most Admired Knowlegde Enterprise) Award, bahkan selama 7 tahun berturut-turut.

“Kami juga kerap menjadi panutan bagi organisasi lain yang ingin menerapkan KM secara berkala,” tutur Enny sambil menambahkan KM dapat diimplementasikan dengan baik di tempatnya karena dukungan karyawan dan semua orang di dalam organisasi itu. “Lama-lama kita akan merasakan sendiri knowledge sharing culture yang sangat bermanfaat untuk bekerja,”ujar Enny.

Enny lantas memberikan kiat bagaimana men-develop knowledge culture sharing. Hal pertama yang ditanamkan adalah, pentingya sharing dan semua orang menginginkan itu. “Tugas departemen HR untuk memulai membuka sharing dengan menjelaskan apa tugas HR dan bagaimana membuat hal itu menjadi transparan. Its a long term commitment,” jelas Enny.

Enny juga menjelaskan bahwa exciting itu sebenarnya dapat diciptakan, di mana manajemen membuat beberapa program seperti compelling and provoking topic, gunanya untuk memperkaya inovasi, topik-topiknya sangat provokatif, seperti Innovate or die!, No mistake, No Learning!, The fall of Star, LUX Skin Care, dan banyak lagi.

Selain itu, ada juga program-program KM yang melibatkan teknologi, seperti online sharing, diantaranya K-Club Online, Online Forum dan Library Online. “Library Online misalnya, dapat membantu karyawan mendapatkan informasi dengan cepat. Ada ribuan buku dan executive summary yang bisa dilihat hanya dengan just click, jadi tidak usah ke toko buku,” terang Enny.

Enny pun menegaskan, meningkatnya jumlah sharing di Unilever Indonesia ternyata juga memberikan manfaat ganda. “Kebutuhan untuk belajar di manapun, mendorong karyawan bertanggungjawab untuk menjadi fasilitator bagi organisasninya sendiri. 1 of 5 employees is internal trainer,” tambahnya sambil menyebut saat ini jumlah trainer internal yang dimiliki Unilever telah mencapai 32 ribu orang.

Tantangan KM di Unilever pun terus meningkat. Salah satunya, lanjut Enny, “new ways” yang diterapkan tidak harus menghadirkan trainer dengan pesertanya. “Kami sedang mempersiapkan e-learning yang diharapkan dapat mengefektikan culture sharing. Tapi jangan salah, challenge yang menjadi kunci Unilever dikemas dengan fun, easy dan enganging. Semua berjalan fun, we can maintain the excitement,” tegas Enny.

Sementara Josef Batona, yang kini mulai dikenal aktif ber-social media, dalam sharing-nya membeberkan kiat bagaimana menggunakan tools social media untuk meningkatkan kinerja karyawan. “Kalau berbicara mengenai social media, ini adalah fasilitas membangun komunikasi. Semua orang bisa berbicara. Social media allows everyone to talk about anything and anytime,” ujarnya.

Josef menambahkan ada sekitar 70 ribu karyawan Danamon, yang bisa berbicara apa saja dan mengenai siapa saja di social media. “At enterprise level, kemudahan ber-social media ini seharusnya difasilitasi oleh manajemen, dalam bentuk conversation forum. Tapi ingat tetap ada etika tertentu yang harus diikuti,” imbuhnya.

Josef mengingatkan, semua aktifitas di sosial media, pada akhirnya akan menunjukkan siapa kita. “It’s about showing you are,” tambah Josef. Lantas bagaimana mensinergikan aktivitas di social media dengan pembentukan personal branding yang baik, Josef punya kiatnya.

Yang pertama, cobalah sharing in a positive way. Kedua, focus on what you’re passionate about, dan terakhir be genuine.

Menjawab pertanyaan audiens tentang salah satu fenomena yang terjadi saat ini, yaitu adanya hubungan yang erat antara sosial media dengan turn over employee, Josef pun mengakui bahwa adanya sosial media memang membuat kerentanan mempertahankan karyawan di tengah godaan headhunter yang semakin terbuka. Godaan itu disebutnya sebagai pull factor.

“Namun ada solusi kedua yang dinamakan push factor, yaitu kedekatan karyawan dengan atasannya, yang membuat tanggung jawab dan engangement karyawan tinggi, sehingga kalau push factor-nya kuat, godaan dari luar tidak akan ada hasilnya. Jadi yang terpenting bagaimana kita bisa mengurangi dampak itu,” tukas Josef. (@nurulmelisa)

Tags: , , , , , , ,