Josef Bataona: Social Learning Tak Harus Digital

JB

JB

Josef Bataona mendapat giliran mengisi pleno ke- 5 dalam seminar Indonesia Digital & Social Learning (IDSL) pada hari pertama. Ia menggunakan 20 menit waktu yang diberikan panitia untuk menginspirasi peserta dengan kisah sukses Social Learning di beberapa perusahaan di mana ia pernah atau tengah bergabung di dalamnya.

Bagi seorang Josef, social learning tidak melulu tentang digital dan teknologi komunikasi, meskipun diakuinya bahwa dua hal itu sangat mendukung terjadinya proses learning. Sejak awal ia tegaskan bahwa inti dari social learning terletak pada manusia sebagai subyek pembelajaran itu sendiri.

Unilever adalah salah satu perusahaan yang menerapkan social learning. Perusahaan tersebut telah lama membudayakan “belajar bersama” di lingkungan kantor dengan menciptakan budaya yang kondusif bagi karyawannya untuk berbagi. Caranya adalah dengan memahami hambatan-hambatan bagi karyawan untuk mau berbagi, seperti misalnya rasa posesif terhadap ilmu pengetahuan.

Pengetahuan layaknya “power” sehingga banyak yang masih takut kehilangan “power” itu. Hambatan lainnya misalnya terlalu sibuk dan tidak memahami manfaat berbagi serta tidak adanya comfort zone untuk saling sharing. Untuk itulah, Unilever memaksimalkan fungsi pertemuan baik informal maupun formal sebagai momen untuk berbagi. Misalnya saja karyawan ngumpul-ngumpul makan nasi padang atau sekedar ngopi-ngopi bersama. Untuk lebih menggalakkan social learning, Unilever mempunyai sebuah komunitas yang fungsi utamanya adalah untuk berbagi ilmu, yakni K-club atau Knowledge Club.

Selain di Unilever, kisah digital learning dan social learning juga terjadi di Danamon. Bank ini menggunakan sebuah platform social media yang bersifat internal di kalangan perusahaan. Dalam sosmed yang diberi nama Danamon Value Network (DVN) tersebut, warga Danamon dapat berinteraksi dan belajar dari sesama rekan kerja maupun manajer. Proses belajar dibuat sangat menarik dan kreatif dengan konsep petualangan yang dipandu oleh karakter kartun yang diciptakan sendiri oleh perusahaan. Selanjutnya, mereka bisa berbagi pengetahuan dalam bentuk apapun, baik itu gambar, tulisan maupun video.

Contoh penerapan social learning yang tak kalah menarik terjadi di perusahaan produsen mie instan terbesar di Indonesia, Indofood. Ketika Josef masuk ke Indofood, di dalam perusahaan sedang terjadi transformasi karena akuisisi-akuisisi yang dilakukan Indofood. Mau tak mau, proses berbagi ilmu harus dipecah dengan konsentrasi untuk memuluskan transformasi. Proses Knowledge management di Indofood dimulai dengan menumbuhkan kesadaran para awak sumber daya manusia.

“Saya mulai dari yang paling dekat dulu yaitu orang dari departemen Human Capital terlebih dahulu. Kalau mereka sudah mendapatkan excitement-nya tentu dengan sendirinya mereka akan mempengaruhi departemen-departemen yang lain,” ujar pemilik akun twitter @josefbataona ini.

Indofood mengajarkan bahwa social learning tidak harus memburu “teknologi canggih” sebagai permulaan, tetapi kemauan untuk berbagi. Dengan menggunakan mading (majalah dinding) bernama “fish fun”, Josef berusaha untuk menumbuhkan kesadaran karyawannya.

“Tidak perlu policy, tidak perlu teknologi yang hebat atau gimana. Itu bahkan bentuknya mading, yang diberi nama fish fun. Itu dipasang di sana setiap orang yang lewat pasti melihat ke situ. Saya selalu menyelipkan ajakan-ajakan positif melalui mading tersebut, misalnya untuk mengajak mereka melakukan tweet atau membagikan pengalaman positif setiap harinya,” ungkap Josef.

Saat ini, Josef bersama tim sedang membumikan empat ajakan baik yang diharapkan akan menjadi kebiasaan yang dilakukan oleh karyawan Indofood. Empat hal tersebut yang pertama adalah play, artinya mereka bisa rileks dengan aktivitas-aktivitas informal dan menyenangkan ketika bekeja. Kedua, choose your attitude. Ide dasarnya adalah sebagai manusia, ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol menimpa dirinya, tetapi choose your attitude memberikan keleluasaan bagi setiap individu untuk bebas memilih reaksi mereka. Poin ketiga adalah be there yang artinya kita bersedia membantu ketika ada yang membutuhkan dan tidak keberatan melakukan coaching bagi bawahan. Terakhir, made their day, yang mengajak para karyawan untuk peka dengan  situasi orang lain dan memberikan hiburan-hiburan kecil atau pemahaman terhadap tingkah laku rekan-rekan kerjanya. Hal ini bisa direalisasikan dengan tindakan-tindakan kecil seperti menghibur ketika ada yang sedih, mengucapkan selamat dan tindakan-tindakan lainnya. (*/@yunitew)

Tags: , , ,