Irvandi Ferizal : Hati-hati dengan Practice HR

Direktur HR TNT Indonesia Irvandi Ferizal mengingatkan kalangan praktisi HR agar berhati-hati dengan konsep best practice dalam mengelola dan mengembangkan karyawan. Sebab, apa yang disebut “best practice” di satu tempat belum tentu cocok diterapkan di tempat lain.
“Mengambil atau mencontoh mentah-mentah belum tentu cocok, bahkan ada bahayanya, bisa menimbulkan shock culture,” ujar Irvandi ketika menjadi pembicara dalam Konvensi Nasional SDM Indonesia 2007 di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, yang berakhir Kamis (22/3/07) siang.
Tampil pada hari pertama, Selasa (20/3/07) Irvandi yang menyampaikan makalah berjudul Converting People Development into High Perfomance Workforce menyarankan penerapan konsep “best fit”. “Artinya, mencontoh boleh saja, tapi harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan perusahaan kita.”
Dalam kesempatan tersebut, pria yang mengawali karirnya di TNT Indonesia sebagai Training Manager itu “mengoreksi” banyak hal yang selama ini boleh dibilang telah menjadi keyakinan umum kalangan HR. Mantan Training Development Manager PT Kalbe Farma itu misalnya mengatakan bahwa HR bukanlah aset.
“Itu salah. Aset itu the right man. Kalau bukan orang yang tepat, HR justru hanya menjadi beban,” ujar lulusan Executive Human Resource Program dari sekolah bisnis Universitas Michigan itu.
Lebih jauh Irvandi mengingatkan, dalam situasi di luar yang tak menentu, hendaknya HR tidak sibuk dengan kenyamanannya sendiri. Adapun yang dimaksud dengan situasi tak menentu itu antara lain persaingan yang tinggi dan kebutuhan perusahaan akan tenaga kerja berkualitas yang tak terpenuhi walaupun pengangguran tinggi.
“Apakah HR tahu perubahan di luar itu? Kalau tidak, HR in danger. Kalau tidak, HR bisa menggerogoti bisnis karena sibuk dengan program-programnya sendiri.” Seharusnya, tandas Irvandi, HR membantu bisnis mengatasi situasi di luar dengan mengembangkan kinerja karyawan.
“Produk bisa ditiru, tapi people tidak,” demikian Irvandi memberi gambaran, seraya menambahkan bahwa mendapatkan talent yang bagus merupakan puncak dari 10 tantangan terbesar HR pada 2006 lalu.
Irvandi juga menyoroti, banyak program-program pengembangan SDM yang tidak menghasilkan keculai hanya bersifat “senang-senang”. “Atau, berhasil memotivasi individu secara personal, tapi tidak (memotivasi) perusahaan, sehingga orang yang bersangkutan kemudian justru dibajak perusahaan lain.”
Dalam hal ini, menurut Irvandi, ada 3 kesalahan umum dalam program-program pengembangan SDM di banyak perusahaan. Yakni, lebih fokus kepada budget-spending ketimbang result, interesting ketimbang objective dan how to/how will deliverketimbang what to be achieved.
“Idealnya, program pengembangan HR harus relevan dengan bisnis dan memperhatikan aspek marketability –ini penyakit orang HR, nggak bisa menjual program,” kritik Irvandi yang berhasil mengantarkan TNT Indonesia meraih predikat HR Excellence (2006) versi Majalah SWA dan LM FEUI.