Internal Branding Dimulai Sejak Rekrutmen

Internal branding bukan hanya urusan marketing, tapi pada dasarnya juga merupakan tanggung jawab semua karyawan. Oleh karenanya, proses internal branding harus sudah dimulai sejak HRD merekrut karyawan baru.
Demikian salah satu benang merah yang bisa ditarik dari acara Executive Sharing Session yang mengangkat tema “Integrating Corporate Culture and Internal Branding: Building a bridge between marketing and human resource strategy”.
Acara tersebut diadakan oleh JAC Indonesia di Sky Business Center, Menara Cakrawala, Jakarta, Selasa (8/5/07). Menurut mantan General Manager Hard Rock Cafe Jakarta Yoris Sebastian yang tampil sebagai pembicara, recruiting merupakan employee life cycle yang terpenting.
“Waktu saya masih di Hard Rock, tiap bulan harus rekrut karyawan baru, perlu nggak perlu, karena good talent bisa datang saat kita nggak butuh,” ujar entrepreneur muda yang kini memimpin OMG Creative Consulting itu.
Yoris menegaskan, sejak awal rekrutmen calon karyawan sudah harus dipastikan passion-nya ada di mana. “Calon karyawan Hard Rock sejak interview sudah disuruh joget-joget, kalau tidak mau ya sudah, kalau dia nggak suka ngapain dipaksa-paksa,” ujar dia.
Intinya, tambah Yoris, “Kita tidak bisa bilang, ya sudah direkrut dulu nanti baru diajarin, untuk beberapa hal, seperti joged-joged tadi, nggak bisa diajarin. Kita perlu orang yang tanpa disuruh pun memang menyukai itu.”
Itulah sebabnya, Yoris melihat, mengapa Hard Rock Cafe gagal di China. “Mereka cuma ngambil brand-nya saja, tapi lupa meng-hire orang-orang yang memiliki kriteria sama dengan spirit Hard Rock yang bebas,” tandas dia.
Small Thing Big Impact
Kendati demikian, Yoris mengingatkan bahwa di samping recruiting, elemen yang lain dalam employee life cycle juga tak kalah penting, misalnya training. “Setelah masuk, karyawan perlu tahu standar operasi, visi dan misi perusahaan.”
Dalam kesempatan tersebut, Yoris tak lupa menekankan pentingnya menanamkan self esteem kepada para karyawan. “Mereka harus tahu, apa kontribusi mereka kepada perusahaan?” ujar dia seraya menambahkan, bahkan sampai ke jajaran office boy pun harus diberi pemahaman betapa penting peran mereka dalam perusahaan.
Kendati bukan orang HR, Yoris sadar benar vitalnya peran HR dalam proses internal branding sebuah perusahaan. Dia menunjuk contoh “kesalahan” yang telah dianggap lumrah yang terjadi dalam bisnis perbankan, yang disebabkan karena ketiadaan strategi HR yang baik.
“Kenapa setiap kita datang ke bank, hampir di semua bank, kita disambut oleh satpam? Kenapa bukan customer service, misalnya?” Yoris mempertanyakan.