Industri Butuh Banyak Lulusan SMK

Industri membutuhkan banyak lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK). Salah satu alasannya adalah lulusan SMK dipandang lebih siap pakai dibandingkan dengan lulusan lain dari tingkatan sejenis. Karena itu, tidak sedikit pula siswa SMK yang sudah diterima bekerja sebelum lulus dari sekolah.
Kesimpulan ini terungkap dalam acara “Job Matching” SMK Tingkat Jawa Barat yang diselenggarakan di Bandung, Selasa (23/6/2009). Kegiatan ini diikuti 53 industri dari berbagai bidang usaha dengan total kebutuhan tenaga kerja lulusan SMK sebanyak 20.417 orang.
Garuda Maintenance Facility (GMF)-Aero Asia, salah satu perusahaan yang ikut serta, misalnya, membutuhkan 700 tenaga teknisi baru tiap tahun. ”Dari kebutuhan ini, rata-rata baru separuhnya yang terpenuhi,” ujar Trisna Hermana dari Bagian Human Resource Development PT GMF-Aero Asia.
Kebutuhan ini mayoritas dipenuhi dari SMK, khususnya jurusan Teknik Penerbangan. ”Dua tahun terakhir ini kami fokus jemput bola ke SMK-SMK. Intip-intip calon lulusan yang berkualitas,” tambah Trisna yang perusahaannya telah merekrut 364 lulusan SMK dari jurusan Penerbangan.
”Tidak terlalu jauh gap-nya antara kualitas yang dihasilkan dan kebutuhan industri, apalagi yang berasal dari jurusan Penerbangan. Kurikulum di sekolah sudah cukup mendukung sehingga tinggal treatment sedikit, pelatihan, ’bahasa’-nya sudah bisa nyambung,” terang dia menjawab alasan mengapa GM-Aero Asia menyukai lulusan SMK.
PT Hariff Daya Tunggal Engineering  salah satu pabrikan perangkat Wimax di Bandung saat ini juga membutuhkan tidak sedikit lulusan SMK untuk dipekerjakan sebagai teknisi. ”Kami mencari kualitas, bukan karena lebih murah tenaganya. Untuk level teknisi, kemampuan lulusan SMK cukup baik,” ucap Iksan Setiawan dari Bagian HRD PT Hariff DTE.
Menurut Iksan, tiap bulan perusahaannya merekrut sekitar 50 lulusan SMK.
Pilihan Rasional
Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan mengatakan, SMK merupakan pilihan yang rasional di tengah kondisi perekonomian saat ini. ”Daripada dipaksakan ke SMA tetapi lulus tidak bisa ke mana-mana, menganggur, lebih baik ke SMK,” kata dia seperti dikutip Kompas.
Ahmad pun memuji keberhasilan sejumlah SMK di Jabar yang telah berhasil mengirimkan para lulusannya untuk bekerja di luar negeri. Salah satunya SMKN 2 Subang yang 42 lulusannya sudah dipesan sejumlah industri di Jepang meski mereka belum dinyatakan lulus UN.
Ia percaya bahwa pembangunan akan berjalan lebih baik jika negara ini lebih banyak memiliki SDM-SDM terampil sebagai operator pembangunan. ”Yang terjadi sekarang, jumlahnya kan belum proporsional (rasio SMK dan SMA). Maka, perlu terus ada perubahan mindset masyarakat. Kampanye SMK perlu terus dilakukan,” saran Gubernur.