Edukasi, Kunci Utama Bonus Demografi Indonesia

mohamad nuh

Dalam sebuah sesi pada seminar yang betajuk 4th Corporate University Summit yang diselenggarakan oleh Pertamina (21/05) lalu, Muhammad Nuh, Menteri Pendidikan di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, tenaga kerja kita masih didominasi oleh mereka yang jenjang pendidikannya lebih rendah dari perguruan tinggi, yakni sebanyak 76.1 juta orang atau sekitar 62.92% dari total tenaga kerja Indonesia. Dengan proporsi tersebut maka Human Development Index (HDI) Indonesia menjadi jauh di bawah Negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

mohamad nuh

“Kualitas hidup manusia itu kan terdiri dari oleh tiga hal utama. Yang pertama adalah pendidikan, lalu kesehatan dan yang terakhir adalah pendapatan perkapita. Dan dalam hal ini Indonesia masih kurang,” ungkap M. Nuh.

Kurangnya HDI Indonesia ini tentunya berpengaruh terhadap masa depan Indonesia. Hal ini didasarkan pada proyeksi bahwa Asia akan menjadi tumpuan kekuatan ekonomi dunia pada tahun 2030. Meningkatnya performa Asia tersebut terutama didorong oleh negara-negara yang termasuk dalam Developing Asia yang berada di wilayah Asia Timur, Selatan dan Tenggara. Menurut penelitian yang dilakukan oleh berbagai instritusi, Indonesia akan menjadi negara dengan skala ekonomi terbesar ke-7 di dunia dan akan membutuhkan sekitar 113 juta tenaga terlatih pada 2030. Dengan jumlah penduduk yang sangat besar yakni nomor 4 terbesar di dunia, maka seharusnya Indonesia akan mendapatkan keuntungan atau bonus demografi apabila generasi muda saat ini dapat dikelola dengan baik. Namun, jika negara gagal mengelolanya, maka bonus tersebut bukan tidak mungkin justru berubah menjadi bencana.

Baca juga: Inilah 5 Resep Leveraging Global Talent Telkom

Untuk saat ini, daya saing tenaga kerja Indonesia masih kalah dibandingkan dengan bangsa lainnya yang masuk dalam “emerging and developing Asia”, seperti China dan India. Menurut M. Nuh, kalahnya daya saing ini terutama disebabkan oleh pendidikan dan kesehatan yang kurang memadai, kurangnya training dan pendidikan tingkat atas, ketidaksiapan teknologi dan kurangnya inovasi. Satu-satunya yang unggul dari ekonomi Indonesia adalah besarnya ukuran pasar yang dapat diciptakan di Indonesia. Padahal, besarnya pasar tanpa dibarengi dengan daya saing global yang mumpuni, justru akan mendatangkan manfaat bagi negara-negara lain pelaku ekspor.

Lalu langkah seperti apa yang  dapat diusahakan oleh Indonesia untuk membentuk generasi berdaya saing di kancah internasional? Ada beberapa hal yang dapat ditempuh di antaranya, sekolah sedini mungkin, selama mungkin dan berani menjangkau yang tak terjangkau. Selain itu, Indonesia juga membutuhkan sosok talent yang memiliki jiwa leadership yang tinggi. Mereka yang berjiwa leadership tersebut dicirikan sebagai kelompok talent yang mampu menciptakan inovasi, dapat mengeksekusi inovasi tersebut dan menciptakan peluang kerja untuk orang lain.

Kemudian untuk menunjang globalisasi, maka talent Indonesia perlu memiliki enam kompetensi antara lain, kemauan untuk terlibat pada hal-hal yang positif (willingness to engage), keterbukaan dan fleksibilitas kognitif (cognitive flexibility and openness) , kecerdasan dalam mengatur emosi (emotional regulation), toleransi pada ketidakpastian (tolerance of uncertainty), kemampuan untuk meyakinkan diri ( self efficacy) dan rasa empati terhadap budaya dan etnis (ethno cultural emphaty). (*/@yunitew)

Baca juga: Perusahaan Perlu Talent yang Mampu Berkolaborasi