Bagaimana Facebook dan Twitter Membangun Fasilitas Training

Memberikan training dan pelatihan kepada manager maupun karyawan adalah hal yang sangat krusial, utamanya untuk perusahaan start-up. Hanya saja, tidak semua perusahaan memahami hal tersebut.

“Kebanyakan perusahaan berpikir bahwa karyawan mereka adalah orang yang cerdas-cerdas sehingga tidak butuh training,” ungkap Andreessen Horowitz, co-founder dari Ben Horowitz, sebuah perusahaan ventura di Silicon Valley seperti dikutip dari qz.com.

Ia mengungkapkan bahwa dua perusahaan yang telah mengerjakan PR-nya dengan baik tentang training ini antara lain Facebook untuk divisi engineering dan Twitter dalam hal management.

Facebook

Dari tahun 2007, perusahaan social media ini tidak benar-benar memberikan training untuk para karyawannya. “Kelalaian tersebut membawa pada beberapa kesalahpahaman dalam hal design produk dan hal ini tak pelak menimbulkan masalah kinerja, dan krisis dalam perusahaan pun terjadi,” ungkap Horowitz.

Untungnya, tahun-tahun setelah itu, diinisiasi oleh seorang engineer Andrew Boswort, Facebook mulai mengadakan training. Program ini dinamakan Facebook Bootcamp, yakni sebuah training on-boarding yang diselenggarakan selama tujuh minggu untuk para teknisi yang baru masuk dan juga bagi para project manager. Para peserta bootcamp tersebut akhirnya tenggelam dalam etos kerja Facebook, memulai project, dan bahkan hasil project itu bisa dinikmati seminggu kemudian oleh pengguna Facebook.

Bootcamp tersebut tidak hanya mempercepat kerja karyawan, tetapi juga memberikan banyak manfaat lain, yakni meningkatkan standardisasi perusahaan dalam hal pengelolaan talent, mengidentifikasi sosok pimpinan dalam tim, memastikan bahwa setiap karyawan memiliki mentor dan memungkinkan para karyawan berlatih menyelesaikan kasus nyata.

Ada satu hal yang unik dari proses perekrutan engineer di Facebook. Mereka tidak direkrut untuk dimasukkan dalam tim tertentu, melainkan mereka diberi keleluasaan untuk melihat tim-tim lain. Dengan sendirinya mereka akan melihat isu atau project apa yang tengah dikerjakan oleh sebuah tim, begitu mereka tertarik, mereka boleh bergabung dengan tim tersebut.

Upaya-upaya Facebook ini diakui Horowitz memiliki dampak yang sangat positif terhadap produktivitas karyawan di Facebook.

Baca juga: Pertahankan Karyawan dengan Training

Twitter

Untuk kasus di Twitter ini, Horowitz sendiri ikut turun tangan dalam proses tercetusnya training tersebut. Kisahnya berawal ketika ia berbincang dengan Dick Costolo, CEO dari Twitter saat itu di tahun 2010. Saat mengambi alih dari Jack Dorsey dan Ev Williams, ia mengaku cukup terganggu dengan beberapa kebiasaan management.

“Ada satu hal yang sangat menggangguku dalam tubuh management perusahaan. Ketika duduk dalam rapat dan kita semua sudah sampai pada satu keputusan yang disepakati, para manager berkata lain di depan anak buahnya di luar rapat,” ungkap Castolo. “Mereka akan mengucapkan jadi beginilah keputusannya, tetapi sebenarnya saya tidak setuju dengan keputusan tersebut,” tambahnya.

Lalu, atas pernyataan tersebut Horowitz bertanya apakah di sana para manajer tersebut sudah diajarkan untuk tidak bersikap semacam itu. Dan ternyata jawabannya adalah belum.

Berawal dari perbincangan tersebut, akhirnya program training untuk tim manajemen Twitter pun dibentuk. Dan masih menurut penjelasan Horowitz, program tersebut masuk dalam hitungan terbaik di Silicon Valley. Castolo mengonsultasikan kurikulumnya kepada Horowitz secara langsung. Dan hasil yang didapat adalah sebuah desain training manajemen yang mengajarkan manajer untuk memiliki ekspektasi yang jelas terhadap anak buahnya, juga medorong mereka untuk berkarya bukan hanya karena ingin disukai. Training itu juga mendorong manajer untuk mencetuskan pendekatan unik dalam mengatasi masalah yang muncul di Twitter, tidak semata-mata mengadopsi solusi dari perusahaan serupa seperti Google.

Kepemimpinan Castolo ini dikatakan Horowitz sebagai terobosan yang menumbuhkan profesionalisme kerja dalam suasana chaos yang terjadi di perusahaan. Ia juga mampu menjadikan Twitter sebagai sebuah bisnis yang tidak diragukan keabsahannya dari sekedar sosial media yang menarik hati beberapa pengguna.

Baca juga: Peran Leader dalam Learning, Training dan Development

Tags: , ,