Apa Bedanya Coaching dengan Counseling?

couching and counseling

IHWAL pemahaman yang belum tuntas mengenai coaching & counseling bisa berdampak luas. Ini pula yang mnejelaskan kenapa proses coaching & counseling sering tidak berhasil mencapai tujuannya masing-masing. Karena tanpa ilmu, sesuatu yang kita lakukan tidak bisa memberikan hasil optimal.

Menurut Dadang Kadarusman, trainer and public speaker of natural intelligence, salah satu resiko kekeliruan dalam menerapkan prinsip coaching & counseling adalah ketika kita tidak bisa mengenali batas-batasnya. Ia lantas menjelaskan, sesuatu yang seharusnya ditangani dengan teknik Counseling – misalnya – secara keliru ternyata dihadapi dengan teknik Coaching.

Ia mengingatkan, hal tersebut bisa menimbulkan keTergantungan bawahan kepada kita. “Bukan hanya itu, kita bisa terbawa kedalam arus pusaran masalahnya. Apalagi jika antara kita dengan bawahan itu berjenis kelamin berbeda. Kita bisa saja menyelesaikan masalah semula, namun menghasilkan masalah yang baru antara kita dengan bawahan yang kita bimbing,” imbuhnya.

Dadang menegaskan, segala sesuatu memang ada ilmunya. Bukan sekedar mengikuti euphoria yang sedang berkembang di lingkungan kita. “Semangat dan tindakan yang didasari dengan ilmu jauh lebih berdampak daripada sekedar melakukan sesuatu karena euphoria belaka. Maka mempelajari dengan baik teknik coaching & counseling merupakan sebuah kebutuhan bagi para leader, supaya dalam melakukannya kita tidak sekedar meraba-raba,” katanya.

Nah, bagi Anda yang tertarik menemani Dadang belajar memahami lebih dalam coaching & counseling, ia mengajak memulainya dengan menerapkan 5 sudut pandang Natural Intelligence (NatIn™), berikut ini:

1. Pahami perbedaan fungsi dan tekniknya. Sama seperti kita menggunakan kunci pas. Setiap kunci ada ukurannya masing-masing. Kita tidak bisa menggunakan kunci pas ukuran 15 untuk memutar baut seukuran 13, misalnya. Begitu pula halnya dengan coaching & counseling. Tanpa pemahaman itu, kita tidak bisa memposisikan diri dengan benar ketika berhadapan dengan bawahan yang membutuhkan bantuan kita.

Dengan kata lain, kita tidak akan tahu persis apa sih fungsi kita ketika memainkan peran sebagai seorang Coach, dan apa fungsi kita ketika berperan sebagai seorang Counselor. Ingatlah bahwa seorang Coach mempunyai fungsi yang berbeda dengan Counselor. Begitu pula teknik dalam melaksanakan tugasnya. So, pahamilah perbedaan fungsi dan teknik diantara keduanya. Sehingga ketika Anda menerapkannya bersama anak buah, maka Anda akan bisa melakukannya dengan sebaik mungkin.

2. Pahami dan patuhi batasan-batasannya. Bayangkan kalau seorang striker tidak memahami batasan-batasan atau perbedaan mendasar antara kewenangan striker dengan goal keeper. Bisa-bisa dia menangkap bola dengan tangannya di depan gawangnya sendiri bukan? Jika itu terjadi, dia bisa menyebabkan hukuman tendangan penalty yang merugikan teamnya.

Begitu pula dengan Coach atau Counselor yang tidak mengenal batasan-batasan tugas, tanggungjawab dan kewenangan yang dimilikinya. Jika Anda pernah mendengar kasus dukun cabul, itu adalah salah satu contoh buruk yang terjadi ketika seseorang datang kepada orang yang dianggap bisa memberikan solusi bagi masalah pribadinya. Anda mungkin berkilah bukan seorang dukun. Benar. Tetapi, bukan hanya dukun SAJA, ‘psikolog’ atau bahkan ‘guru BP’ pun bisa tergelincir jika dia tidak memahami dan tidak mematuhi batasan-batasannya.

Bagaimana dengan kita bersama bawahan yang kita bimbing? Sama saja. Jika tidak pernah mendengar potret buruk kesalahkaprahan coaching dan counseling antara atasan dan bawahan ini di koran merah, itu tidak berarti tidak pernah terjadi. Tidak terekspose saja. Namun semua ekses itu tidak perlu terjadi jika kita memahami dan mematuhi batasan-batasannya.

3. Pelajari seni kombinasinya. Dalam prakteknya, seorang leader kadang dihadapkan pada kasus-kasus yang tidak bisa diselesaikan dengan teknik Coaching saja. Atau Counseling saja. Pada tahapan masalah yang kronik, dampaknya bisa berefek kemana-mana. Maka ada situasi di mana sebagai leader kita dituntut untuk mampu mengkombinasikan teknik Coaching dengan Counseling secara simultan. Ini memang sudah termasuk kemampuan advance.

Sebaiknya dilakukan oleh orang yang benar-benar terlatih. Apakah tanpa latihan kita bisa melakukannya? Tidak. Sekalipun Anda benar-benar memiliki bakat alam yang kuat. Latihan? Mutlak untuk dilakukan.

Dalam konteks ini, hal yang perlu kita latih ada dua, yaitu: (1) Teknik kombinasinya dan (2) pengendalian diri. Mengapa pengendalian diri? Karena tantangan paling besar yang dihadapi oleh seorang Coach atau Counselor bukanlah yang datang dari seseorang yang sedang dibimbingnya. Melainkan dari dalam dirinya sendiri. Hanya jika mampu menguasai kedua aspek itu saja, kita bisa menguasai seni kombinasinya. Tidak bisa tidak. Karena kedua hal itu, mutlak perlunya.

4. Ikuti perkembangan ilmunya. Sepanjang waktu, ilmu terus berkembang. Maka barangsiapa yang enggan untuk mengikuti perkembangan tumbuh kembangnya ilmu, hampir bisa dipastikan akan ketinggalan zaman. Dia mungkin tidak menyadarinya. Namun orang lain yang mengerti tahu betul jika teori dan tekniknya sudah usang.

Masak untuk urusan gadget kita ikuti perkembangannya dari waktu ke waktu, sedangkan ilmu yang sangat menunjang kualitas kepemimpinan itu kita biarkan ketinggalan? Dulu, kita hanya berbicara tentang Coaching saja. Atau Counseling saja. Kemudian secara salah kaprah kita menyebutnya Coaching & Counseling. Sekarang, Coaching & Counseling pun masih berkembang lagi dengan kehadiran konsep Mentoring. Ini challenge tambahan untuk seorang leader.

5. Temukan guru pembimbing yang tepat. Salah satu kriteria orang yang tepat bagi kita untuk berguru adalah “mempunyai landasan ilmu yang mumpuni dan pengalaman praktis dalam pekerjaannya”. Bagus saja jika kita belajar para orang yang rajin membaca textbook. Kita bisa menimba banyak pengetahuan.

Namun, tanpa pengalaman empiris, ilmu yang kita dapat hanya sebatas teori belaka. Bagus juga jika kita belajar kepada orang yang terampil dari pengalaman. Kita bisa tahu trik-triknya. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya tanpa sokongan teknik atau ilmu yang memadai.

Jadi, lebih baik jika kita bisa menemukan guru atau pembimbing yang memiliki ilmunya sekaligus berpengalaman dalam dunia nyata untuk mempraktekkannya. Jarang? Memang. Namun begitu kita menemukan orang seperti ini, kita bisa mendapatkan keduanya.

Orang yang memiliki kedalaman ilmu dan keluasan pengalaman seperti ini biasanya tidak takut dihadapkan pada kasus-kasus aktual yang kita hadapi di lapangan. Mereka bukan tipe membuat scenario di rumah, lalu latihan sebelum tampil, kemudian mendemonstrasikannya di depan kelas.

Orang yang memiliki ilmu dan pengalaman ini membuka dirinya untuk mendengar langsung dari Anda, “Kasus pelik apa yang sedang Anda hadapi?” Lalu bersama Anda, dia mencari solusinya. Mencontohkan. Dan melatih Anda melakukan tahapan-tahapan prosesnya. Ingin belajar Coaching-Counseling-Mentoring? Temukan guru pembimbing yang seperti itu.

Dadang juga menekankan, untuk menjadi pemimpin yang lebih baik, kita perlu terus menerus mengasah kemampuan mengelola orang-orang yang kita pimpin. Apakah untuk tujuan memenuhi target-target kinerja, memecahkan masalah, ataupun untuk mengembangkan mereka.

“Agar mampu memainkan peran itu, kita perlu membekali diri dengan teknik dan keterampilan yang memadai. Diantara keterampilan-keterampilan yang perlu kita pertajam itu tentu saja Coaching-Counseling-Mentoring harus ada dalam daftar ceklis. Makanya, mari kita sama-sama memperdalam ketiga skill itu lagi. Agar kualitas kepemimpinan kita, semakin hari menjadi semakin baik,” tukas Dadang lagi. (*)

Tags: , , ,