Agar Bertahan di Masa Krisis, Perusahaan “Hospitality” Pangkas Pelatihan

Hospitality merupakan salah satu sektor industri yang paling menderita akibat dampak krisis global. Agar tetap mampu bertahan, perusahaan-perusahaan di bidang ini terpaksa melakukan pemangkasan untuk program pelatihan karyawan.
Separo dari perusahaan hospitality menyatakan untuk memangkas training mereka guna mengurangi biaya, demikian hasil survei bertajuk “State of the Nation 2009” yang dilakukan oleh People 1st di Inggris. CEO People 1st Brian Wisdom mengingatkan, memangkas training sebenarnya merupakan strategi bisnis yang buruk.
Terlebih lagi, Wisdom menunjuk, survei juga menemukan bahwa seperlima dari lowongan kerja untuk semua sektor industri saat ini sulit dipenuhi karena minimnya pelamar kerja yang terampil.
“Tuntutan akan tenaga kerja berbekal keterampilan sesuai kebutuhan industri yang bersangkutan, belum pernah setinggi sekarang,” kata dia. “Perusahaan yang mengembangkan karyawannya akan berada di posisi bagus ketika ekonomi membaik.”
Lebih jauh survei menemukan bahwa di masa krisis, industri hospitality menjadi sektor dengan tingkat turnover paling tinggi dibandingkan sektor lain. Akibatnya, 17% perusahaan di sektor ini mengeluh bahwa tingginya angka turnover tersebut berdampak pada produktivitas bisnis.
Termasuk dalam industri hospitality adalah hotel dan restauran. Direktur HR Landmark Hotel Group Ciara Hassan, seperti dilaporkan Personnel Today, mengungkapkan bahwa HR di perusahaan hospitality kini dihadapkan pada tantangan yang nyata untuk mengembangkan keterampilan karyawan.
“Seperti kebanyakan hotel lainnya, kami mengalami kebekuan dalam rekrutmen. Isu utamanya tak lain melihat talent pool yang ada di dalam dan mempertahankan mereka agar tetap engaged dan termotivasi,” kata dia.
Masalahnya, bagaimana hal itu bisa dilakukan dengan baik jika di sisi lain perusahaan dituntut untuk menekan berbagai biaya, termasuk, yang pertama kali menjadi “korban” adalah biaya untuk pengembangan karyawan?