80% Eksekutif “Cuek” Cari Jabatan di Tempat Lain

Bukan hanya karyawan level bawah saja yang cenderung masih mencari pekerjaan di tempat lain ketika sudah diterima bekerja di suatu perusahaan. Ternyata, kaum eksekutif pun memiliki perilaku hal yang sama dan bahkan mereka mengaku “cuek” saja melakukannya.
Demikian ditujukkan oleh sebuah survei yang dilakukan di Kanada. Hasil jajak pendapat yang melibatkan 100 eksekutif senior dari HR, keuangan dan marketing tersebut memperlihatkan, 4 dari 5 (80%) mengaku “sangat nyaman” alias sama sekali tidak merasa sungkan mencari jabatan di tempat lain meskipun masih terikat dengan perusahaan tempat mereka bekerja sekarang.
Para eksekutif tersebut disodori pertanyaan, “Seberapa nyaman Anda mencari jabatan baru pada saat masih bekerja?” Respon mereka:
Sangat nyaman……………………….. 48%
Agak nyaman…………………… 32%
Kurang nyaman………………….. 14%
Sangat tidak nyaman………………………4%
Tidak tahu…………………………….2%
“Para top performer memang akan selalu dicari, oleh karenanya perusahaan harus memprioritaskan untuk meretensi mereka,” ujar Direktur Accountemps, perusahaan yang menyelenggarakan survei tersebut, Max Messmer yang juga penulis buku <I>Human Resources Kit for Dummies.
“Perusahaan-perusahaan yang merasa paling aman sekali pun tidak pernah berhenti ‘merekrut-kembali’ orang-orang yang bagus,” tambah dia mengingatkan.
Messmer menekankan, para pimpinan perusahaan sebaiknya jangan terlalu santai dalam mempertahankan anggota terbaik tim mereka. “Kehilangan talent yang bagus bisa mengganggu kinerja perusahaan, dan langkanya profesional berkualitas tinggi dalam bidang-bidang tertentu saat ini menyulitkan untuk mencari pengganti mereka.”
Accountemps merekomendasikan langkah-langkah berikut ini untuk membantu perusahaan menjaga keterikatan jajaran eksekutif dan <I>top performer</I>:
Say thanks. Bonus-bonus berdasar-kinerja adalah penghargaan terbaik untuk kerja yang memuaskan. Tapi, sekedar ucapan “terima kasih” juga penting diberikan untuk setiap pekerjaan yang telah diselesaikan.
Celebrate achievements. Kepuasan seorang karyawan terletak pada diakuinya keberadaan dia di lingkungannya. Pengakuan juga memacu semangat kerja.
Provide growth opportunities. Salah satu alasan umum seseorang meninggalkan perusahaan adalah minimnya kesempatan untuk berkembang. Tidak selalu harus berupa promosi (kenaikan jabatan), tapi mempercayakan proyek-proyek tertentu akan mengembangkan skill karyawan sekaligus membantu individu menemukan ikatan yang bernilai dalam organisasi.
Foster professional development. Bantu anggota tim mengembangkan pengetahuan mereka dengan memberi akses pada berbagai kesempatan pelatihan.
Ease the strain on overworked staff. Anda harus peka terhadap tanda-tanda yang menunjukkan karyawan dalam kondisi “overload”. Jangan tunggu sampai mereka mengeluh.