Komunikasi dan Fleksibilitas, Kunci Fortune Optimalkan Gen-Y

nur rochim fortune

nur rochim fortune

Didirikan pada tahun 1970, Fortune, sebuah perusahaan agensi periklanan Indonesia, hingga saat ini mewarisi keberagaman generasi, dari mulai baby boomers hingga gen-Y. Namun kini jika dipetakan maka jumlah total karyawan perusahaan yang mulai IPO pada tahun 2001 ini didominasi oleh karyawan kelahiran tahun 80-90 an atau yang kita sebut dengan Gen-Y. Bertolak pada fakta di mana setiap generasi memiliki karakternya masing-masing, maka Fortune merasa perlu menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi selisih generasi atau generation gap ini.

Hal pertama yang Fortune lakukan tentunya mengidentifikasi karakter dari Gen Y tersebut. Dalam Seminar bertajuk, “Handling Generation Gap” di Hotel Harris Tebet, Rabu (16/07) lalu, Nur Rochim Achmad, Asc HCD Director Fortune Indonesia memaparkan beberapa hal mengenai karakter tersebut.

“Gen Y lebih concern dengan karir pribadi, lebih loyal pada individual bukan organisasi, individualis tetapi juga memiliki kemampuan baik untuk kerja dalam tim. Mereka ingin lebih cepat menanjaki career path-nya”, ungkap Rochim.

Dengan karakter semacam itu, beberapa langkah disiapkan oleh perusahaan untuk menjaga agar Gen-Y tetap berproduktivitas secara optimal. Dua kata kunci yang mengarah pada pokok pengelolaan Gen-Y di Perusahaan Fortune adalah Komunikasi dan Fleksibilitas.

Gaya komunikasi merupakan salah satu perbedaan yang mendasar antara Generasi millennium dengan generasi senior. Gen Y adalah orang-orang yang cukup frontal ketika berbicara. Mereka tidak segan menyampaikan keinginannya dan menjauhi power distance yang terlalu jauh. Menyiasati hal tersebut, Fortune menggalakkan transparasi dalam berkomunikasi dan memanfaatkan karakter gen Y tersebut menampung sebanyak mungkin ide maupun pendapat dari Gen Y.

Gen-Y menyukai tantangan, travelling, dan bukan berdiam diri di kantor dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, Fortune menyediakan “fleksibilitas”. Fleksibilitas ini tidak semata-mata hanya mengenai pola waktu dan tempat kerja tetapi lebih menyeluruh pada recognition plan, kompensasi, management discipline dan sebagainya. Untuk beberapa proyek, Fortune bahkan menyambut baik adanya freelancer. Cara ini dilakukan karena perusahaan memahami betul keinginan Gen-Y yang komposisi khusus dalam mengelola waktunya. Kebebasan dan jiwa bertualang membuat Gen-Y enggan bekerja dengan pola 9-5 setiap harinya. (*/@yunitew)

Baca juga: Belajar Handling Generation Gap dari MetroTV

Tags: , ,