Kiat Jitu Merancang Just in Time Learning untuk Gen Y

Mardi Wu_Nutrifood

Kiat Jitu Merancang Just In Time Learning untuk Gen Y

TOPIK GENERASI Y masih terus hangat diperbincangkan. Hal ini tercermin dari kegiatan tahunan “Human Capital National Conference” yang mengambil tajuk “Gen Y, The Millenials, Will Change The Way do Business and That’s Good” di hari kedua yang berlangsung di Gedung PPM Manajemen, Jakarta (27/11/2014).

Beberapa best practice mengemuka dari beberapa organisasi, di antaranya Garuda Indonesia, Mondelez Indonesia, International Port Corporatin (IPC) atau yang selama ini dikenal dengan Pelindo II, serta dari Nutrifood Indonesia.

Dari sisi bagaimana menjalankan strategi rekrutmen Gen Y, Heriyanto Agung Putra, Direktur SDM dan Umum PT Garuda Indonesia Tbk, menekankan bahwa model rekrutmen saat ini, khususnya dengan adanya generasi yang berbeda dari sebelumnya, mengharuskan organisasi juga harus memiliki pola rekrutmen yang berbeda pula. Menurut Heri, berbeda di sini dalam artian dengan kondisi anak-anak muda sekarang ini atau yang sering disebut dengan Gen Y, di mana ketika dia sudah lahir telah mengenal dan menggunakan gadget, maka pola rekrutmen pun juga harus berubah dan disesuaikan dengan kebiasaan Gen Y ini.

Baca juga: Memahami Bahasa Komunikasi Gen Y

Heriyanto Agung Putra_GI

“Penyesuaian ini perlu dilakukan kalau kita ingin mendapatkan high quality Gen Y, atau pegawai-pegawai yang sangat qualified dari Gen Y ini yang memiliki karakter sangat ambisius, cepat, dinamis serta kemampuannya mempergunakan gadget. Inilah yang dilakukan untuk membuat Gen Y tertarik bergabung dengan Garuda Indonesia. Ketika mereka melihat bagaimana proses trainingnya mudah, proses development-nya juga sesuai dengan mereka hingga saat ditempatkannya pun mereka mendapatkan perlakuan yang menyenangkan, berada dalam environment yang sangat nyaman, ini yang menurut saya akan menjadi sebuah kekuatan bagaimana kita mempunyai suatu daya tarik buat Gen Y, agar mereka mau masuk ke dalam organisasi kita,” papar Heri.

Sementara itu Irvandi Ferizal, HR Director Mondelez Indonesia melihat masalah Gen Y akan menjadi isu yang selalu dipermasalahkan. “Tapi pertanyaannya adalah bagaimana kita melihat secara positif dan hal-hal positif dari Gen Y, bagaimana kita me-manage Gen Y ini,” imbuhnya. Menurut Irvandi, yang penting adalah bagaimana organisasi bisa menciptakan suatu jembatan antara Gen Y dengan Gen X ataupun generasi sebelumnya.

Baca juga: Tips Development dan Recognition untuk Gen Y

“Selalu yang bermasalah adalah Gen Y, tapi kita jarang sekali mengajarkan kepada Gen Y untuk me-manage Gen X dan baby boomers. Kalau dua hal ini kita pertemukan dan kita diskusikan, saya pikir akan lebih balance. Kita juga perlu banyak memberikan edukasi kepada Gen X bagaimana meng-handle Gen Y, dan sebaliknya kita juga harus banyak memberikan kesempatan kepada Gen Y untuk mengetahui, mereka harus lebih agile, lebih balance dan bagaimana kita menghadapi situasi dan konteks secara benar dalam situasi kerja yang lebih kondusif. Dengan demikian kalau tempat kerja terasa nyaman bagi Gen Y apapun namanya nanti apakah Gen Z dengan generasi sebelumnya, kita lebih siap menghadapinya,” jelas Irvandi.

Irvandi Ferizal-Mondelez

Nina Insania K Permana, Presiden Director of IPC University memberikan pandangan bahwa Gen Y adalah masa depan Indonesia dan bagi generasi yang lebih senior harus kut terlibat dan bertanggungjawab untuk mengembangkan serta menyiapkan Gen Y ini guna menyongsong masa depan Indonesia tersebut. Mengelola Gen Y, menurut Nina adalah sesuatu yang menantang dan akan memberikan kepuasan bagi senior sebagai pembinanya karena Gen Y ini memiliki karakteristik yang sangat khusus. Nina menyebut Gen Y ini hidup di dunia yang penuh dengan stimulasi teknologi yang membuat mereka sangat khas, berbeda dengan baby boomers dan berbeda pula dengan generasi X.

Nina pun memberikan tips bagaimana merancang suatu program pengembangan bagi Gen Y sesuai dengan karakteristik. Menurutnya ada 3 (tiga) hal penting yang perlu digaris-bawahi; just in time, just enough, dan just in to me.

Poin pertama, just in time, jelas Nina, bahwa di dalam membuat desain ataupun intervensi program pengembangan buat Gen Y, harus betul-betul disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Perlu diperhatikan apa yang dibutuhkan Gen Y saat ini dengan melihat tanggungjawabnya, dan fokus itulah yang harus diisi sebagai pembekalan. Poin keduayakni just enough, artinya program pengembangan kepada Gen Y hendaknya diberikan dalam porsi yang cukup, tidak terlalu berlebihan, dan bisa terukur apa yang memang menjadi kebutuhan para Gen Y ini. Poin ketiga adalah just in to me, apa sihyang menjadi benefitnya dari program pengembangan bagi Gen Y tersebut,mengingat Gen Y ini sangat concern dengan hal-hal yang berkaitan pada kepuasan mereka dalam berkarya serta kesesuaian dengan passion mereka.

“Sehingga dalam hal ini kita harus memperhatikan tiga hal penting tersebut untuk bisa menjamin program pengembangan bisa memberikan dampak yang positif,” terang Nina sambil mengingatkan, “Apalagi dalam hal ini organisasi SDM sangat berharap program pengembangan ini akan berdampak positif pada bisnis. Oleh karenanya, kita juga harus cukup clearmempersiapkan suatu proram evaluasi atas program pelatihan dan pengembangan khusus pada Gen Y ini dengan ukuran-ukuran yang jelas sebagai hasil dari program pengembangan itu sendiri.”

Nina Insania K Permana_IPC

Program evaluasi tersebut, masih menurut Nina, ukuran-ukurannyabisa dikaitkan langsung dengan apa yang menjadi tanggungjawab Gen Y di dalam pekerjaannya sehari-hari. Di dalam proses penilaian tersebut, peran atasan menjadi sangat penting. Yakni bagaimana seorang atasan bisa menjadi partner bagi Gen Ydengan memperhatikan karakteristik Gen Y dan bagaimana atasan bisa masuk ke dalam dunianya Gen Y, agar terjalin satu bahasa yang sama untuk memudahkan kolaborasi yang lebih baik dan berdampak positif.

“Karena buat Gen Y bekerja dalam suasana yang menyenangkan adalah sesuatu yang sangat penting. Bagi mereka bekerja itu tidak hanya sekedar mencari uang tapi juga untuk mencari kepuasan batin serta work life balance, sehingga dalam intervensi program pengembangan kita perlu mempertimbangkan hal tersebut. Mudah-mudah kita bisa membawa mereka, membina mereka pada suatu kompetensi yang dibutuhkan untuk memasuki dunia global yang lebih kompetitif,dunia yang penuh dengan tantangan-tantangan dikaitkan dengan perkembangan teknologi yang semakin mutakhir,” kata Nina berpesan.

Kegiatan Human Capital National Conference yang diselenggarakan oleh PPM Manajemen bekerjasama dengan PP University diakhiri dengan sharing session dari CEO Nutrifood Indonesia, Mardi Wu. Mardi berbagi kiat mengenai bagaimana meretensi Gen Y. Menurutnya, retensi buat Gen Y ini memang sangat berbeda.

Mardi Wu_Nutrifood

“Dibutuhkan paradigma yang berbeda dan butuh sistem manajemen yang berbeda pula. Kalau untuk meretain generasi sebelumnya kita percaya bahwa dengan sistem remunerasi yang baik, sistem reward yang baik, memberikan jalur jenjang karir yang baik itu sudah cukup, namun untuk Gen Y ini ternyata punya selera yang berbeda. Mereka percaya bahwa perusahaan yang mempunyai nilai-nilai sosial yang tinggi, mempunyai value yang baik, bisa terlibat di dalam kegiatan-kegiatan filantropi itu menjadi suatu tempat kerja yang menarik bagi Gen Y. Oleh karena itu, perusahaan harus mulai berpikir ulang guna merancang sebuah program sosial seperti apa dan gaya manajemen seperti apa yang cocok untuk meretain para Gen Y ini,” tukas Mardi. (*/@erkoes)

Baca juga: Berpikir Seperti Gen Y, Strategi Mendapatkan High Quality Gen Y

Tags: , , , ,