Kenali Narsisme dari Frekuensi Ngetwit

Meningkatnya penggunaan social media belakangan ini dikhawatirkan telah meningkatkan juga perilaku/sifat narsisme. Mahasiswa di Amerika dikabarkan mendapat skor 30% lebih tinggi dalam tes Narcisstic Personality Inventory saat ini dibanding tahun 1890. Hal ini tampaknya harus diwaspadai oleh perusahaan dimana kemungkinan peningkatan perilaku narsisme karyawan dapat menggangu di tempat kerja.

Brian Amble, seorang penulis di Management-issues.com mengungkapkan, hal ini menjadi masalah apabila setiap orang melihat diri mereka sebagai orang penting yang membutuhkan perlakuan khusus.  Selain itu, dalam kepemimpinan, seorang yang narsis, kompetitif, self-centered, eksploitatif dan perilaku yang gemar pamer, dapat merusak kinerja suatu organisasi.

Alangkah lebih baiknya jika Anda mencegah daripada mengobati perilaku narsisme. Mempelajari apakah seseorang tersebut narsis ataukah tidak sebelum merekrut mereka adalah suatu kebijakan yang baik. Permasalahannya, mencari tahu apakah seseorang narsis ataukah tidak merupakan hal yang rumit.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Shaun Davenport, Assistant Professor of Management di High Point University, North Carolina, diketahui bahwa mereka yang narsis seringkali update status di Twitter dan Facebook.

Penelitian yang telah diterbitkan dalam jurnal Computers in Human Behavior ini menemukan bahwa mereka yang narsis memiliki dorongan yang cukup besar untuk meningkatkan follower Twitter mereka, sehingga mereka semakin sering nge-tweet. Sama halnya dengan status di Facebook.

Namun, terdapat perbedaan yang cukup krusial pada kedua jejaring sosial tersebut. Twitter lebih sering dipergunakan oleh mahasiswa, sedangkan orang dewasa lebih sering mempergunakan Facebook. Selain itu, postingan orang dewasa di Facebook kurang menggambarkan motif narsisme dibandingkan tweet remaja di Twitter.

Kenyataannya pada mahasiswa, peneliti tidak menemukan hubungan yang signifikan antara narsisme dan keaktifan mempergunakan Facebook. Namun untuk orang dewasa yang lebih tua, Generation X dan Baby Boomers, mereka menemukan bahwa narsisme dapat terlihat baik secara langsung maupun tak langsung berdasarkan keaktifan mereka mempergunakan Facebook.

Alasannya, mereka mengemukakan bahwa para mahasiswa mempergunakan Facebook sebagai media untuk mereka berkomunikasi, sama halnya dengan generasi sebelumnya yang mempergunakan telepon. Sebaliknya, generasi yang lebih tua tidak tumbuh dan berkembang dengan ini (Facebook, Twitter, red.) sehingga hal ini memberikan alasan mengapa mereka lebih sering update status, seperti hal itu bukanlah norma sosial yang mereka anut. Dan narsisme dapat menjadi salah satu alasan mengapa hal ini terjadi.

Sebaiknya narsisme dikenali sejak awal, karena akan sulit memperbaikinya nanti. Menurut Brian, jika CEO Anda adalah seseorang yang cukup sering update di Facebook, Anda mungkin memiliki permasalahan yang lebih besar lagi. Apakah Anda setuju?

Tags: