Ke Depan, Dunia akan Dikendalikan Para Introvert

Sebuah media Amerika, inc.com mengungkapkan bahwa ada masa di abad 20an di mana situasi Amerika berpihak pada orang-orang yang mampu memberikan bukti. Dalam hal tersebut, ekstrovert memainkan peran lebih besar.

Orang-orang dengan kepribadian lebih terbuka ini berani memperlihatkan kehebatan dan karismanya.  Mereka menyuarakan dengan keras dan bangga tentang pencapaian mereka. Hal itu jelas bertolak belakang dengan kaum introvert yang cenderung diam dan tidak membuka diri kepada orang lain. Dengan begitu, orang-orang di sekitarnya tidak mengetahui banyak hal mengenai orang-orang tersebut.

Meskipun demikian, ada sebuah prediksi yang mengatakan bahwa introvert akan “mengendalikan dunia” di tahun-tahun mendatang oleh karena karakter yang mereka miliki. Jadi, rasanya ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk memahami karakter-karakter tersebut dan mengondisikan diri sehingga tetap dapat beradaptasi dengan lingkungan yang terjadi saat ini dan masa depan:

1. Introvert adalah pencerita yang bagus

Storytelling atau bercerita runut tentang sebuah peristiwa, tengah menjadi topik yang hangat akhir-akhir ini. Kaum introvert ini bisa menjadi pencerita yang hebat, pandai merefleksikan apa yang mereka lihat dan lebih bijak secara natural. Mereka memiliki kemampuan bercerita yang baik melalui tulisannya, menjadi pengisi konten website atau menulis bukunya sendiri. Di zaman ketika orang berbicara tidak hanya terbatas memakai mulutnya ini, orang-orang semacam itu akan lebih berjaya. JK Rowling, Abraham Lincoln dan Dr Suess bahkan diyakini sebagai seorang yang introvert.

2. Introvert adalah tipe pendengar yang lebih baik

Kepribadian seorang introvert cenderung lebih diam dan senang berkontemplasi dibandingkan orang dengan kepribadian sebaliknya atau ektrovert. Kediaman mereka ini menjadikan mereka jagoan dalam hal mendengarkan orang lain. Meskipun mungkin “mendengar” terlihat bukan sebagai seusatu yang “wah”, faktanya mendengarkan itu penting. Dalam dunia digital seperti sekarang ini, kemampuan untuk mendengar, mengumpulkan informasi, menganalis dan mau berbuat sesuatu merupakan asset yang berharga.

Salah satu contoh pentingnya “mendengar” terjadi pada tim marketing di perusahaan. Di zaman digital ini perusahaan sudah mulai berkenalan dengan sosial media. Hal ini memungkinkan konsumen untuk menyampaikan keluahan mereka secara online. JIka staff marketing adalah orang yang enggan mendengar, maka komunikasi yang ia inginkan adalah sepihak dan berharap konsumen mau mendengar. Tentunya, brand yang kuat tidak akan terjadi dengan strategi semacam ini.

3. Menikmati Online

Dalam berbagai situasi, seorang yang introvert tidak sulit untuk ditemui. Di dalam pesta misalnya, mereka akan lebih senang mojok di sofa dan membaca buku dibandingkan bergabung dalam hiruk pikuk orang yang tengah mengobrol. Mereka merasa nyaman dengan membaca atau berselancar di dunia internet. Mereka betah untuk online di dunia maya, membaca-baca informasi di situs atau chatting. Dengan kebiasaan tersebut, kaum introvert bisa menjadi seorang online marketer yang handal atau spesialis sosial media.

4. Tidak membayangi kompetensi orang lain

Ketika berada dalam sebuah forum besar dan sedang berdisusi, sikap terlalu ektrovert kadang justru menjadi sebuah nilai minus, terutama jika para ekstrovert tersebut sedang bersama dengan tim-nya. Berbeda dengan introvert yang acap kali kesulitan bicara meskipun sebenarnya mempunyai ide yang bagus, ektrovert justru sebaliknya. Ia merasa bahwa forum tersebut adalah panggung baginya untuk memperlihatkan kelebihan. Ada baiknya tentu, tetapi apabila dia terus menerus berbicara tentang dirinya maka ia akan membuat teman-teman di timnya tidak tampak dan tidak menonjol di mata peserta forum yang lain.

5. Introvert dapat menjadi bos yang baik

Seorang peneliti bernama Adam Grant mendapati bahwa para introvert cenderung berhasil baik ketika memimpin. Pasalnya, mereka tidak berkeberatan untuk memberikan keleluasaan bagi yag dipimpin untuk mengekpresikan ide-ide mereka. Mereka membiarkan anak buah untuk bereksperimen mengikuti intuisi mereka. Sebaliknya, ektrovert seringkali sangat mementingkan proyek pribadi. Kebanggaannya dan kepercayaan dirinya bahwa programnya adalah yang terbaik membuatnya sulit mendengarkan kritik.

6. Mereka lebih sosial dari apa yang kita pikir

Perlu ditegaskan bahwa introvert bukanlah orang yang antisosial atau pemalu. Orang yang pemalu adalah mereka yang takut dengan anggapan atau penilaian orang lain terhadapnya. Introvert tidak demikian, kediamannya merupakan cara dia bersikap dari stimulasi sosial yang ia peroleh.

Ektrovert mendapatkan energinya dari interaksi dan aktivitas sosial. Pada dasarnya introvert juga demikian, hanya saja mereka memerlukan suasana ketenangan untuk menyemangati dirinya kembali. Mereka menikmati bekerja pada tempat yang tenang dan pada saat itulah mereka menjadi lebih sosial, berkomunikasi dengan tidak bertatapan langsung dengan teman-temannya.

7. Hati yang “kesepian” lebih kreatif

Mayoritas tokoh-tokoh kreatif dan pemikir dalam sejarah adalah mereka yang introvert. Mengapa demikian? Karena kreativitas lebih mudah muncul ketika kita sedang berada di tempat yang sepi. Orang-orang inventor kreatif seperti Darwin dan Thoreau pun senang berjalan-jalan lama di hutan yang sepi untuk mendapatkan inspirasi. Tidak mengherankan memang ketika industri kreatif memberikan keleluasaan baik itu tempat bekerja maupun cara bekerja bagi karyawannya agar dapat menghasilkan produk kreatif. Kreativitas adalah hal yang sangat esensial dewasa ini. Itulah mengapa kaum introvert menjadi sangat dicari sekarang.

Baca juga: Siapakah yang Lebih Produktif, Introvert atau Extrovert?

Tags: ,