Karyawan Lesu Setelah Liburan Akhir Tahun, Ini Solusinya

Sebuah klinik kesehatan di AS, Accolade, mengaku lebih banyak pasien menelpon ketika pergantian tahun. “Kita akan merasa jengah ketika harus bekerja setelah liburan,” ujar Jeff Rubin, vice president behavioral operation Accolade. Hal tersebut bisa disebabkan karena karyawan tersebut kehilangan hari-hari bersantainya atau bisa juga kurang puas dengan masa liburan yang telah berlalu.

Rubin menambahkan, “Mereka memasuki tempat kerja dengan dekorasi Natal yang masih terpasang, sementara itu inbox emailnya penuh dengan tugas kerja. Ditambah lagi dengan dihadapkannya mereka pada target triwulan pertama. Karyawan akan merasa panik, tidak ada waktu untuk mengurangi tekanan batin.”

Meskipun demikian, Departemen HRD di perusahaan masih dapat melakukan beberapa strategi untuk mengatasi syok setelah liburan panjang tersebut. Yang pertama adalah memahami bahwa fenomena seperti ini adalah hal yang normal. Artinya, kita tidak perlu mengharap sebuah performa yang mengesankan pada hari pertama kerja. Beri waktu satu
atau dua jam bagi mereka untuk memeriksa email-email yang masuk.

Kedua, dekorasi-dekorasi atau hiasan Natal dan Tahun Baru yang mencirikan suasana liburan harus kita bongkar. Atau bisa juga dengan cara lain yakni dengan memperpanjang citarasa liburan tersebut dengan memperlihatkan hari libur pada perayaan yang kebetulan masih akan dirayakan pada bulan Januari.

Selanjutnya, pada hari pertama masuk kerja, praktisi HRD juga bisa menstimulasi karyawan dengan tetap mempertahankan semangat untuk berbagi, misalnya dengan menginisiasi program beramal. Karyawan diminta untuk menjadi relawan dan membantu mewujudkan amal tersebut yang bisa jadi akan berjalan sepanjang tahun. Kegiatan semacam ini, akan menjadi pendongkrak moral pekerja.

Terakhir, kelesuan pekerja di awal tahun dapat kita atasi dengan menyampaikan rencana kenaikan tunjangan seperti tunjangan kesehatan, makan, fasiltas gym atau transportasi dan tunjangan-tunjangan lain.

Doug Kauffman, partner dalam divisi ketenagakerjaan Balch and Bingham Law Firm di Birmingham mengungkapkan bahwa pada awal tahun, karyawan menjadi lebih fokus pada kondisi kesehatan mereka. Pada saat awal tahun setelah liburan, tidak tepat ketika
departemen HRD menyampaikan target jangka panjang tahunan atau target per kuarter. Sebaliknya, target-target yang skalanya lebih kecil terlebih dahulu yang harusnya disajikan kepada karyawan. Sebuah goal yang realistis dan feasible untuk dapat dicapai dalam satu minggu.

“Secara personal, sulit sekali untuk membuat diri sendiri tertarik pada metrik-metrik atau hitungan rumit mengenai target tahunan. Tetapi ketika kita memulai bekerja dengan sebuah kemenangan/keberhasilan, meskipun itu kecil kita punya alasan untuk menjadi sangat semangat bekerja. Manager perlu sekali menyusun short-term goal tersebut dan
member reard ketika goal tercapai,” ungkap Bruce Tulgan, CEO dari Rainmaker Thinking, perusahaan konsultan dan training manajemen di New Haven, Conn.