Jangan Bunuh Antusiasme Gen Y

Malla Latif PortalHR

Sudah tidak zamannya lagi mendikte apa yang kita mau kepada para anak muda ini. Mereka bisa dibilang punya cara tersendiri dalam bekerja, bahkan menurut beberapa praktisi HR, gara-gara kemunculan para Gen Y, mereka harus membuat suatu formula terbaru di sistem ketenagakerjaan di perusahaan mereka.

Namun jangan pula kita sebagai penentu kebijakan melulu mengikuti kemauan mereka. “Kita mesti pintar main tarik-ulur dalam mengatur mereka,” pernyataan itu disampaikan Malla Latif, CEO PortalHR dalam The 5th Jobstreet.com Networking Event Challenges in Talent Management di FX Sudirman kemarin.

Karakter mereka yang cenderung berbeda dengan generasi di atasnya membuat beberapa pakem di HR menjadi bergeser. Ada perusahaan yang berusaha untuk tutup telinga dengan ini, namun sebaiknya organisasi sudah mulai aware bahwa suatu saat mereka akan menduduki posisi penting dan menjadi leader yang harus dipersiapkan dengan lebih serius.

Menurut Malla tidak semua anak Gen Y susah diatur, ada beberapa di antara mereka yang mau mengikuti culture di sebuah perusahaan. “Semua itu kuncinya di HR, yang harus ditekankan kepada mereka adalah tanggung jawab mereka kepada perusahaan, coba sampaikan hal itu dengan gaya mereka.”

Menurut Malla ada beberapa cara yang bisa dilakukan para manajer terhadap Gen Y:

1. Akui Kemampuan High-Tech Savvy Mereka

Yang paling mudah beradaptasi terhadap perkembangan teknologi saat ini adalah generasi yang paling konsumtif dengan teknologi, mereka kebanyakan adalah Gen Y. Jangan begitu berharap dengan kemampuan komunikasi mereka yang kerap tidak terstruktur dan blak-blakan, namun tidak ada yang meragukan kemampuan mereka dalam hal teknologi terbaru, itulah kelebihan mereka yang bisa dieksplorasi oleh perusahaan.

2. Amati Kebiasaan Kerja Mereka

Manajer kebanyakan menuntut mereka untuk bekerja minimal 10 jam sehari atau pulang jam 5 sore. Dengan gaya kerja mereka yang berbeda, mereka akan merasa tertekan dan fatalnya bisa berakibat buruk terhadap produktivitas kerja mereka. Malla menambahkan bahwa flexi-time merupakan salah satu alternatif untuk me-retain Gen Y. Biasanya mereka punya cara tersendiri untuk menyelesaikan tugas mereka tepat pada waktu deadline meskipun tidak berada di kantor pukul 8 pagi. Work habits yang dimiliki Gen Y bisa dipelajari oleh manager mereka. Atur kebijakan untuk mereka dengan menyesuaikan dengan konsekuensi kerja atau aturan yang berlaku di kantor.

3. Berikan Umpan dan Feedback yang Tidak Monoton

“Jangan menuruti semua kemauan mereka. Mereka juga kita ajarkan untuk lebih mature demi karir mereka,” imbuh Malla. Walau mereka terlahir di dunia yang berbeda dengan Anda, dimana semua teknologi sudah dapat menjawab pertanyaan mereka. Anda tetap memiliki otoritas untuk mengatur mereka dengan cara yang baik. Ingat, jangan memberikan formula yang umum, karena mereka mempunyai zona motivasi yang berbeda-beda. Memang prosesnya tidak mudah, namun jika Anda benar menjalankannya, hasil yang memuaskan akan Anda dapat.

4. Jelaskan Mengenai Ekspektasi dari Pekerjaan Mereka

Jangan umbar janji yang muluk-muluk dengan mereka, karena cepat atau lambat mereka akan menunggu kepastiannya. Jelaskan kepada mereka apa yang akan diterima oleh mereka dan apa saja tanggung jawab mereka sebagai karyawan. Malla menceritakan fenomena yang menarik yang sudah terjadi di beberapa organisasi, dimana manajer kebingungan dengan ‘permintaan’ mereka. Ada beberapa anak muda yang tidak mau dipekerjakan secara permanen di organisasinya, padahal hal itu akan terbentur dengan peraturan ketenagakerjaan. “Pada akhirnya ada negosiasi antara manajer dan anak itu yang melahirkan sebuah keputusan, itu cara terbaik,” tambah Malla.

5. Buktikan Kerja Anda, Gen Y Kurang Mempercayai Omongan Semata

Yang menarik dari mereka, Gen Y yang terbiasa membuat sebuah karya secara otodidak, mereka kurang menyukai teori. “Gen Y sangat melihat personal leader-nya, bukan hanya omongannya,” terang Malla. Cara yang efektif untuk men-develop mereka adalah menunjukkan kinerja terbaik Anda kepada mereka. Jadi jangan heran jika pendukung Jokowi banyak didominasi anak muda, Gubernur Jakarta itu bisa menjadi partner yang bisa membuat mereka tertarik, salah satunya melalui hobinya nonton konser musik rock.

Di depan puluhan manajer HR saat itu, Malla mempertegas bahwa satu hal yang terpenting adalah jangan tahan semangat mereka. “Jika mereka tidak sopan, jangan segera salahkan mereka. Beri tahu dengan gaya yang santai bahwa mereka salah. Karena mereka memang mempunyai semangat yang besar terhadap sesuatu yang baru, Jadi jangan bunuh antusiasme mereka, that’s they are,” tutup Malla. (*/@nurulmelisa)

Tags: , ,