Inilah 5 Resep Leveraging Global Talent Telkom

Buku Pak Pri

Priyantono Rudito

Perang talent atau ‘war of talents’ memang tidak pernah akan pernah habis. Inilah yang senantiasa harus diwaspadai oleh setiap organisasi. Kondisi ini ditegaskan oleh hasil jajak pendapat McKinsey pada tahun 2000 yang menyebut nanti pada 2021 adalah eranya perang talent. Di tahun tersebut McKinsey memprediksi akan terjadi yang namanya defisit talenta global.

Defisit talenta global ini terjadi didasari atas permintaan talent global yang begitu besar namun tidak diimbangi dengan ketersediaan talent di pasar. Tantangannya tentu saja bagaimana setiap organisasi mempersiapkan para talent-nya. Tak terkecuali PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom).

Hal ini terungkap dari strategi Telkom untuk mengakselerasi terciptanya pemimpin-pemimpin hebat berkelas dunia melalui “Model 5E”, yakni strategic leverage yang mentransformasi Telkom menjadi a truly global company. Cerita bagaimana Telkom mempersiapkan talent global ini telah disarikan dengan apik dalam bentuk buku berjudul, “Leveraging Global Talent, 5 Strategi Akselerasi Mengembangkan Talenta Berkelas Dunia”, yang ditulis Priyantono Rudito, Ph.D, yang waktu itu adalah Direktur Human Capital Management (HCM) Telkom.

Buku Pak Pri

Dalam sesi PPM Talk Book yang berlangsung di Kampus PPM Manajemen di Jakarta, Priyanto yang sekarang adalah Direktur Human Capital Management PT Telkomsel (anak perusahaan Telkom, red) berbagi apa itu konsep mengakselerasi talenta berkelas dunia seperti sudah dituliskan dalam buku ‘Leveraging Global Talent’.

Baca juga: Menggalakkan Digital Learning ala Telkom

Priyantono bercerita bahwa program Leveraging Global Talent digagas oleh Telkom sebagai upaya mengantisipasi era borderless. Telkom mencetak pemimpin-pemimpin yang mempunyai global mindset dan siap menghadapi tantangan tersebut. “Kita ingin mempersiapkan orang terbaik di Telkom yang memang akan diproyeksikan untuk menjadi pemimpin Telkom di masa depan,” kata Priyantono lagi.

Strategic Leverage, masih menurut Priyantono memiliki lima elemen kunci sukses yang disebut “The Five E” yaitu Enthusiasm, EduKnowledge, Exposure, Equity dan Enabler. Penjabaran dari ‘The FiveE’ adalah:

Enabler: yakni sistem, kebijakan, infrastruktur, dan program yang memungkinkan proses akselerasi pembentukan talenta global berlangsung secara efektif. Elemen enabler ini merupakan fondasi yang memungkinkan model lain bisa terwujud secara cepat dan efektif, dan unsur utama enabler ini ada di corporate university yang berfungsi sebagai center of excellence pengembangan talenta global.

Enthusiasm: di mana untuk menjadi talenta yang global ready, elemen mendasar pertama yang harus dimiliki adalah niat, kesungguhan, dan passion yang luar biasa.

Eduknowledge: berupa upaya memanfaatkan, mengembangkan, dan menciptakan pengetahuan yang secara spesifik diarahkan untuk tujuan pembelajaran, dan pengetahuan itu harus bisa dikapitalisasi untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

Exposure: yaitu pengungkit terpenting dalam membentuk talenta global. Konsep ini menerangkan bahawa karyawan tidak bisa kompetitif di luar negeri bukan karena tidak memiliki kemampuan teknis dan kemampuan berbahasa Inggris, tetapi karena tidak memiliki kesempatan bekerja dan mengekspresikan kemampuannya di luar negeri.

Equity: menjadi satu kesatuan yang tidak boleh ditinggalkan di mana elemen-elemen Enabler, Enthusiasm, Eduknowlwdge, dan Exposure tidak akan bisa berkelanjutan jika pengembangan talenta global tersebut tidak diikuti terciptanya kinerja bisnis yang moncer.

Priyantono yang juga seorang pecinta kopi menyebutkan, “The Five E ini merupakan sebuah model kombinasi dan pendekatan deductive dan inductive dengan paradigm positivism disertai dengan constructivism dalam menyusun modelnya.” (*)

Baca juga: Songsong 2015, Telkom Luncurkan International Capability Center

Tags: , ,