Inilah 2 Isu Penting di Era Aging Global Workforce

SEOLAH MASIH HANGAT KELUAR DARI OVEN, Harvard Business Review baru saja menurunkan tulisan yang cukup menyentak. Di tengah hiruk pikuknya perekonomian global, kita diingatkan akan isu penting terkait dengan masalah dunia yang sudah menua. Setidaknya ada dua isu penting yang hendaknya menjadi perhatian bagi semua pemangku kepentingan. Meskipun lebih mengarah keisu ekonomi, namun sebenarnya bahasan tersebut juga berdampak pada praktek SDM di perusahaan atau organisasi. Dua isu penting itu adalah produktivitas dan inovasi.

Adalah James Manyika, Jaana Remes, dan Richard Dobbsdari McKinsey Global Institute (MGI), yang membuat mini report berjudul “The Productivity Challenge of an Aging Global Workforce”. Dalam report ini dititikberatkan bahwa di banyak belahan negara, saat ini jumlah pekerjanya mulai mengalami penurunan, dan sebagai antisipasi yang menjadi harga mati dan tidak boleh ditawar adalah adanya “productivity revolution”. Kenapa?

Tanpa percepatan dalam pertumbuhan produktivitas, tingkat pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) global diproyeksi akan menyusut 40% dari 3,6% per tahun antara 1964-2012 menjadi hanya 2,1% selama 50 tahun ke depan. MGI pun telah mengidentifikasi beberapa peluang yang bisa diambil guna menahan laju penurunan PDB global tersebut. Peluang pertama yang bisa diharapkan adalah kontribusi pertumbuhan produktivitas sebesar 4% di 19 negara dari anggota G20 ditambah Nigeria. Jika negara-negara tersebut kompak mencapai pertumbuhan produktivitasnya, dan semuanya kemudian dijumlahkan, maka kontribusi ini akan berdampak pada 80% PDB dunia. Angka ini dirasa cukup untuk mengimbangi adanya perubahan demografis.

Kemudian tiga perempat dari potensi, atau 3% pertumbuhan per tahun, bisa datang dari perusahaan dan pemerintah yang menjalankan roda organisasi dengan baik. Membaiknya praktek-praktek di roda organisasi pemerintahan tentu menjadi kabar yang menggembirakan.

Meningkatkan produktivitas di sektor jasa juga penting mengingat bahwa ada 75% pekerja di sektor non-pertanian yang sedang bertumbuh. Di sektor ritel, misalnya, sumbangan produktivitas bisa meningkatkan perekonomiandi masing-masing negara dan angka ini akan menjadi double khusus di negara berkembang di medio 2012-2025. Munculnya toko-toko modern, nyatanya telah membuat tiga kali lebih produktif ketimbang toko-toko tradisional, dan jelas ini adalah sumbangan yang signifikan.

Dalam konteks tersebut, peraturan pemerintah memiliki peran sentral. Di Rusia, produktivitas ritel menyumbang lebih dari dua kali lipat hanya dalam 10 tahun terakhir ketika pemerintah membuka kran bagi pesaing asing yang membawa format toko modern. Namun demikian, tidak ada jaminan bahwa kesempatan yang sama ada di semua negara. Sebagai contoh adalah Perancis, di mana di negeri tersebut kini justru bergerak ke arah yang berlawanan, mengatur lebih ketat aturan-aturanmengenai ukuran toko-toko ritel, sehingga imbasnya menghambat pertumbuhan produktivitas.

Kemudian meningkatkan produktivitas perawatan kesehatan juga menjadi hal yang penting, mengingat sektor ini tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir. Pengeluaran kesehatan menyumbang 10% dari PDB negara-negara berkembang dan rata-rata 6% dari PDB di empat negara-negara berkembang — Brasil, Cina, India dan Rusia. Pengeluaran kesehatan Cina telah hampir tiga kali lipat dalam lima tahun terakhir dan diperkirakan akan menembus $1-triliunpada 2020. Tentu saja diperlukan upaya-upaya bagaimana cara memangkasnya.

Sisa kesempatan yang bisa disumbangkan untuk menahan penurunan PDB dunia berasal dari inovasi, tidak saja dalam hal penemuan dan penggunaan teknologi baru tetapi juga menemukan proses yang baru, lebih baik dan lebih efeisien dengan harapan bisa mendorong pertumbuhan dan produktivitas. Kemunculan era e-commerce di negara-negara berkembang, nyatanya juga meningkatkan produktivitas tenaga kerja 80% lebih tinggi dibanding dengan model perdagangan konvensional. Bahkan Cina diprediksi jika saja bisa mengejar ketertinggalan dengan produktivitas dari rekan-rekan mereka di pasar utama lainnya, produktivitas sektor ritel di Negeri Tirai Bambu ini bisa terdongkrak naik 14% di tahun 2020.

Inovasi di sektor perawatan kesehatan juga mulai menunjukkan hasil yang gemilang dan memunculkan harapan baru. Jepang berhasil memotong waktu rata-rata menginap di rumah sakit mahal menjadi hanya seminggu penuh sejak tahun 2000 yang kemudian dirujuk pada prosedur invasif, akan tetapi masih tetap memungkinkan pihak rumah sakit tetap bisa memantau kondisi pasien secara jarak jauh. ClickMedix.com, sebuah perusahaan solutions di bidang medis yang memiliki tagline “Mobile Healthcare by Experts”, telah menunjukkan bagaimana mereka berhasil menggunakan ponsel dan kamera digital untuk menangkap gambar, mengirimkan informasi ke pasien, dan memberikan konsultasi, dan ini jelas adalah upaya pemotongan dari sisi biaya administrasi hingga seperempat dari biaya normal.

Sementara itu di sektor publik yang bisa mendukung revolusi produktivitas, perusahaan menjadi mesin utama untuk peningkatan produktivitasnya. Tanpa investasi mereka dalam meningkatkan modal dan teknologi serta investasi berisiko dalam R&D, itu akan sulit untuk mempertahankan pertumbuhan produktivitas, apalagi memperbaikinya. Perusahaan perlu bekerja lebih keras untuk attract and train para pekerjanya, dan membantu mengurangi erosi pertumbuhan tenaga kerja dengan menyediakan lingkungan kerja yang lebih fleksibel untuk wanita dan pekerja yang lebih tua, serta tidak kalah penting adalah memberikan pelatihan dan bimbingan bagi kaum muda (Gen Y).

Dalam konteks produktivitas di perusahaan ini, Michael Adryanto (Managing Director Strategic and Human Resources Director at Sinarmas Agribusiness & Food) dalam bukunya “Tips and Tricks for Driving Productivity” menuliskan bahwa keberhasilan organisasi pada umumnya, dan perusahaan pada khususnya, sangat tergantung pada tingkat produktivitas mereka yang terlibat di dalamnya. “Jadi, kalau Anda ingin organisasi Anda berhasil mencapai visi, misi dan tujuan yang dicanangkan, tindakan terpenting yang perlu Anda lakukan adalah berupaya meningkatkan produktivitas karyawan Anda,” sebut Michael.

Produktivitas, menurut Michael hanya akan muncul jika karyawan mengetahui apa yang diharapkan dari kinerjanya, memiliki kompetensi yang memadai untuk memenuhi harapan itu, dan mendapatkan imbal hasil yang sesuai dengan hasil kinerjanya. “Tugas Anda, sebagai atasan, adalah mengelola ketiga aspek tersebut.Tugas ini memang tidak mudah. Tidak mengherankan jika banyak atasan dan organisasi gagal melakukannya,” tambah Michael.

Akibatnya, Michael mengingatkan, banyak karyawan yang bekerja tanpa arah, tidak mendukung pencapaian tujuan perusahaan, merasa diperlakukan secara tidak objektif dan tidak fair, merasa tidak puas, lalu kemudian menukik turun motivasinya. “Kalau sudah begini, ujung-ujungnya, perusahaan menjadi pihak yang paling dirugikan. Bukan hanya kehilangan high performers – atau bahkan mungkin karyawan bintang (talents)-nya, perusahaan juga akan kehilangan peluang untuk merealisasikan sasaran bisnisnya. Alih-alih mengalami peningkatan produktivitas, perusahaan justru bisa mengalami kesulitan untuk mempertahankan kinerjanya selama ini,” tulis Michael. (*/@erkoes)

Tags: , ,