4 Strategi Perusahaan Tempat Bekerja Terbaik di Amerika

Baru-baru ini tim Fast Company mencoba memecahkan kode apa yang membuat bisnis menjadi berhasil atau gagal. Mereka melihat dari kombinasi budaya, strategi, visi dan nilai-nilai.

Lydia Dishman, jurnalis bisnis dan kontributor Fast Company mencatat ada banyak cara yang dilakukan perusahaan untuk mencapai sukses di berbagai bidang. Dimulai dari hal rekrutmen, bagaimana organisasi mempunyai getaran yang positif, kekuatan perubahan dari umpan balik juga masalah personal karyawan lainnya.

Ternyata mereka menemukan bahwa seluruh usaha yang mengarah ke inovasi akan berhubungan dengan sebuah tempat kerja yang luar biasa. Itulah sebabnya mereka tertarik dengan daftar Perusahaan Fortune 100 Terbaik untuk Bekerja tahun 2014. Daftar ini, diambil dari data survei 257 perusahaan  dan mengevaluasi respon berdasarkan persepsi karyawan terhadap kepercayaan, rasa hormat, kompensasi, persahabatan, komunikasi internal, pelatihan, dan keragaman.

Komponen kepercayaan dan keterlibatan merupakan ciri utama pada perusahaan Fortune 100. Komponen ini tidak hanya membuat staf lebih bahagia, namun juga membuat karyawan menjadi 87% lebih kecil kemungkinannya untuk meninggalkan perusahaan.

Itu berarti tempat yang baik untuk bekerja berdampak pada turnover yang kecil, mengurangi uang dan waktu untuk merekrut dan melatih karyawan baru. Perusahaan-perusahan ini juga secara konsisten mengungguli indeks saham utama sebesar 300%.

Apa saja strategi perusahaan tersebut:

1. Mereka menyediakan peluang untuk berkembang

Salah satu aturan utama agar staf menjadi puas adalah dengan memberikan kesempatan bagi perubahan. China Gorman, CEO Great Place to Work mengatakan, “Salah satu statistik paling mengejutkan yang kami temukan adalah bahwa 100 perusahaan terbaik menawarkan hampir dua kali lipat jam pelatihan kepada karyawan tetap.”

Program mentoring, rotasi pekerjaan, penugasan global, dan kelompok pendukung adalah beberapa cara desain perusahaan untuk membantu karyawan memajukan karir mereka. Gorman menunjukkan bagaimana Mercedes Benz USA menawarkan program rotasi pekerjaan untuk membantu karyawan dalam memahami jenjang karir mereka dan mengembangkan keterampilan mereka.

QuikTrip, sebuah perusahaan retail dan pom bensin umum, menawarkan konseling karir kepada seluruh karyawan, kata Gorman. “Para karyawan dan manajer mereka menjawab kuesioner tentang kekuatan dan ketertarikan mereka. Mereka semua kemudian ditemukan dengan mentor SDM untuk mengembangkan rencana karir mereka, walaupun rencana karir tersebut berakhir di luar perusahaan QuikTrip,” jelasnya.

Beberapa perusahaan menggunakan pengembangan karir internal untuk membuat staf menaiki jenjang karir. Misalnya Nugget Markets, sebuah perusahaan grosir yang berbasis di California, melihat hampir 100% dari lowongan pekerjaan diisi melalui promosi internal.

2. Mereka menyiapkan rencara suksesi

Meskipun semua perusahaan rata-rata memiliki semacam strategi perencanaan suksesi, namun menurut  Gorman, Bright Horizons, sebuah perusahaan penyedia solusi penitipan anak dan taman kanak-kanak, merupakan salah satu perusahaan yang paling memperhatikan hal ini.

Bright Horizons mengintegrasikan rencana suksesi ke dalam program pengembangan karir mereka. Setiap karyawan diberikan rating dan dipantau ketika mereka siap untuk dipromosikan. Program ini membuat Bright Horizons bisa memenuhi posisi kepemimpinan secara cepat dan tetap menjaga ketersediaan eksekutif yang kuat.

Sementara di Hilcorp Energy, pertumbuhan yang cepat membuat mereka merasa perlu untuk mengidentifikasi pemimpin selanjutnya. Pemimpin senior menilai langsung calon- calon potensial setiap triwulan sekali. Hasilnya kata Gorman, Hilcorp mempromosikan 30% dari calon suksesi mereka pada tahun 2011. “Meski mungkin calon eksternal memiliki keterampilan teknis yang dibutuhkan, karyawan Hilcorp sudah memegang nilai yang selaras dengan perusahaan yang membuat mereka untuk lebih unggul secara cepat,” katanya.

3.Nilai yang mereka pegang terintegrasi pada budaya perusahaan

Gorman mencatat lima perusahaan terbaik di 2014 telah memonopoli selama beberapa waktu terakhir. “Google terkenal dengan keunikannya, namun tidak ada yang bisa menggunakan istilah itu untuk menggambarkan perusahaan lain seperti SAS atau BCG,” ujar Gorman.

Terlepas dari apa saja nilai-nilai perusahaan mereka, Gorman mengatakan bahwa perusahaan papan atas biasanya memiliki skor yang tinggi dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam segala sesuatu yang mereka lakukan. Mulai dari rekrutmen, strategi perusahaan, sampai dengan menyiapkan penghargaan.

Quicken Loans, sebuah perusahaan di Detroit menghitung hampir sepertiga dari karyawan yang mereka rekrut adalah dari referensi internal . “Orang-orang yang sudah tahu tentang budaya perusahaan dari teman dan keluarga mereka,” tambahnya. CEO Quicken menginvestasikan waktu mereka sendiri untuk melatih karyawan baru, termasuk mengajari mengenai 19 nilai perusahaan yang mencakup perilaku seperti ‘melakukan hal yang benar’.

Karena penyampaian secara top down ini, kata Gorman, staf baru akan mendapatkan kesan bahwa para pemimpin mereka yakin untuk berinvestasi kepada staf mereka. “Komitmen terhadap budaya perusahaan ini pastilah memberikan andil ketika Quicken tetap berdiri sementara pesaing mereka jatuh selama krisis baru-baru ini,” kata Gorman.

4. Mereka lebih menghargai ide daripada senioritas

Ketika karyawan junior dan senior bekerja berdampingan, ada banyak hal yang bisa dipelajari dan dibagi. Gorman menunjuk ke perusahaan Boston Consulting Group (BCG) yang mendorong interaksi non-hirarkis dalam beberapa cara. Selain desain kantor, karyawan diorganisir pada sebuah tim yang membuat karyawan senior bekerja berdampingan dengan karyawan junior bahkan saat sarapan dan makan malam. “Bahkan ada program yang memberikan reimburse kepada karyawan magang dan karyawan baru untuk mentraktrik rekan mereka makan siang,” katanya. “Semua karena BCG lebih menghargai gagasan, bukan senioritas,” tutupnya.

Tags: