HRD Harus Belajar dari Kasus Meninggalnya Mita Diran

mita diran

LEPAS SEMINGGU sejak kabar mengejutkan meninggalnya seorang copy writer Mita Diran, lini masa dan media online di luar negeri masih saja menyoroti kasus yang sangat jarang terjadi ini. Sederet media online luar negeri tersebut di antaranya, News.co.au, International Business Times UK (ibtimes.co.uk), Fiji Times, nydailynews.com, dailymail.co.uk, buzzfeed.com, gawker.com, dan beberapa media lainnya masih mengangkat kasus Mita sebagai bentuk keprihatinan.

Di Indonesia sendiri, rasa empati terus mengalir dari berbagai pihak. Seperti diketahui, Mita meninggal setelah bekerja keras (overworked) selama 30 jam nonstop. Di sinilah, rasanya menarik menjadi perhatian bagi dunia HR (human resources), karena kasus Mita sebenarnya membicarakan mengenai status seseorang sebagai karyawan (employee) dengan manajemen selaku pemberi kerja (employer). Juga bagaimana sistem HR sudah dijalankan di dalam organisasi, serta bagaimana praktisi HR memetik pelajaran dari kasus ini.

Mencari format keseimbangan dalam bekerja, yang bertujuan untuk menyelaraskan aktivitas bekerja di kantor dengan kegiatan di rumah maupun di masyarakat, memang tidak bisa disamaratakan. Selain jenis industri suatu organisasi berbeda satu dengan yang lain, kebutuhan setiap karyawan pun, sangat beragam. Di sinilah muncul konsep work life balance, dengan harapan produktivitas karyawan tetap tercapai tanpa meninggalkan unsur-unsur humanis, terciptanya hubungan harmonis di dalam rumah dan tersalurkannya hubungan sosial di dalam kehidupan bermasyarakat.

Tidak ada alasan untuk mengabaikan safety

Hery Kustanto, Vice President Corporate Services Netmedia (NET TV), mengakui bahwa industri yang digeluti oleh Alm. Mita, dekat dengan pekerjaan yang penuh tekanan dan deadline yang ketat. “Memang benar realitas yang ada industri kreatif seperti advertising, media cetak dan elektronik memiliki ciri dan keunikan tersendiri dibanding industri lain. Namun satu hal yang sangat penting, tidak ada alasan kemudian bahwa karena kreatif dan unik, menjadi tidak mengutamakan safety dalam bekerja,” imbuh Hery.

Sebagai praktisi HRD di industri TV selama 20 tahun lebih, Hery menyaksikan memang karyawan di divisi produksi dan news, memiliki pola kerja dan bahkan pola hidup yang penuh stress karena tenggat waktu. Penyebabnya, bisa jadi karena waktu tugas yang memang mepet, atau mungkin juga karena kebiasaan yang kurang bisa mengatur waktu dengan lebih tertib.

Tentang ‘life balance’, menurut Hery, ini soal pilihan kerja atau pilihan hidup. Menurutnya, tidak ada yang bisa benar-benar seimbang. Soal prioritas dan tanggungjawab, semua ada risiko dari pilihan-pilihan yang sudah diambil. Ia pun bercerita tentang pengalamannya.

“Ada direktur yang sukses di profesinya,di sebuah TV ternama yang setiap hari datang pagi, jam 09.00 dan pulang sebelum jam 21.00. Pada umumnya eksekutif di industri TV datang ke kantor siang bahkan sore dan bekerja sampai dini hari.  Saya pernah tanya kepada beliau beliau yang kebetulan bukan muslim, ”Mengapa bapak bisa datang pagi sementara direksi yang lain siang atau sore baru datang?” Jawabnya, “Ya saya mau hidup sehat. Saya bangun pagi jam 5 dan saya biasa jalan pagi mengelilingi komplek rumah di Pondok Indah sejam. Lalu siap-siap ke kantor.”Sekali lagi, ini pilihan hidup. Dan saya menjadi saksi bahwa sukses sebagai profesional dan tetap bergaya hidup sehat ada contohnya di industri kreatif atau media,” tutur Hery.

Sebagai praktisi HRD tentang overwork, Hery berpendapat simpel saja, belajarlah dari pengalaman: keselamatan dan hidup karyawan adalah nomor satu. “Saya sering bilang ke atasan di produksi dan news bahwa karyawan bisa bekerja sampai pagi dan tidak sakit dengan syarat tidak rutin dan satu lagi yang penting hatinya gembira dan happy. Sebaliknya harus dihindari sikon kantor di mana karyawan makan tidak teratur, tidak ada olahraga plus dituntut deadline setiap hari, plus hubungan atasan bawahan yang tidak harmonis.”

Hery pun mengingatkan, secara fisik HRD harus yang berinisiatif menyediakan makanan untuk karyawan yang overwork, memfasilitasi kegiatan olahraga dan hobby karyawan. “Dan yang sangat penting juga memastikan interaksi atasan-bawahan berjalan kondusif. Indikator interaksi yang tidak sehat biasanya adalah di bagian atau departemen tersebut karyawannya  sering sakit, sering ijin dan bahkan resign,” tukasnya.

Sehat adalah foundation untuk apa pun tujuan hidup kita

Senada dengan Hery, Maria T. Kurniawati, Chief Administration Officer PT Trakindo Utama (Trakindo) pun memberikan rasa empati atas kasus overwork dengan menyebut bahwa sehat adalah foundation untuk apapun tujuan hidup kita. “Jadi kesehatan dan keselamatan penting bagi setiap organisasi. Hal-hal lain hanya bisa tercapai kalau kita sehat,” ujarnya.

Maria lantas menambahkan, execution dari strategy business bisa optimum hanya jika karyawan sehat, baik jiwa maupun raga. Menjawab bagaimana menyelaraskan strategi bisnis tersebut dengan tuntutan deadline, dan sejauh mana komprominya jika deadline pekerjaan ternyata membahayakan karyawan. Maria menerangkan bahwa di  Trakindo, hal ini sangat utama,dan menempatkan divisi SHE (safety, health, environment) sebagai bagian yang sangat penting.

Menurut Maria, semua kegiatan perusahaan harus lolos dari SOP divisi SHE ini. Ia pun mencontohkan apa kriteria safety, health dan environment, yakni seperti kursi kerja mengikuti prinsip kerja yang ergonomic, pengaturan jam kerja mengikuti konsep management kelelahan, dan field service yang ke customer minimal harus 2 orang.

Sementara itu PM Susbandono, Vice President Human Resources & Services PT Star Energy Group memberikan pandangan lain. Menurutnya, yang membuat pekerjaan (industri advertising) disebut sebagai ‘penuh tekanan’ dan ‘tenggat waktu’ adalah pelaku yang terlibat di dalamnya. Ia menilai, tuntutan pekerjaan adalah sesuatu yang normal, tetapi seharusnya, pelaku yang harus mengetahui kondisi badan dan mental sendiri.

“Anggota team, peers atau leader, harus membuat suatu pedoman, sampai sejauh mana seorang pekerja bisa melakukan pekerjaannya dari segi waktu. Dikerjakan 1 jam atau 30 jam, tuntutan pekerjaan tidak akan pernah selesai, karena memang begitulah nature dari sebuah pekerjaan itu sendiri.  Oleh sebab itu, sekali lagi, pekerja sebagai subyek masalah, harus membatasi dirinya sendiri, atau anggota teamnya untuk mengatakan ‘cukup’ atau bisa diteruskan,” tutur Susbandono.

Setiap orang punya batas yang berbeda-beda

Susbandono yang juga salah satu peraih The Asia HRD Awards 2013 ini, mengatakan bahwa manusia normal mempunyai batas-batas kekuatan, dan sifatnya individual. “Oleh sebab itu, yang paling penting adalah, pelaku harus tahu di mana batas tersebut berada,” tambahnya.

Secara umum, industri oil & gas di kantor (HQ), sebut Susbandono, mempunyai tuntutan pekerjaan yang jauh lebih ringan dibanding industry advertising. Tetapi, pekerja lapangannya mempunyai tuntutan yang cukup berat, terutama Bagian Produksi dan Drilling. Ia pun memberikan gambaran pekerjaan di lapangan, di mana minyak dan gas mengalir selama 24 jam, sehingga keberadaan pekerja lapangan untuk mendampingi operasi menjadi mutlak. Untungnya, secara korporasi, industri minyak dan gas mempunyai aturan hubungan industrial yang jauh lebih maju, sehingga standard yang digunakan menjamin aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dengan tuntutan/ukuran yang tinggi. Bekerja lebih dari 8 jam terus menerus, harus diikuti dengan istirahat yang cukup.

Susbandono pun menyodorkan pelajaran yang bisa diambil dari kasus overwork ini, bahwa semua manusia mempunyai batas toleransi yang mengatur kekuatan tubuh dan mentalnya. Mengabaikan faktor ini, dapat mengakibatkan hal-hal yang kontra-produktif, seperti ‘Kecelakaan Kerja.’ Ia pun berbagi mengenai tips kebijakan HR agar kasus Mita tidak terulang, antara lain:

a)      Peraturan Kerja (PK) harus mempertimbangkan faktor Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

b)     PK ini harus diikuti dengan taat. Sanksi harus ditegakkan bila pelanggaran terjadi.

c)      PK harus di-review sesuai dengan waktu yang ditentukan. Kalau perlu direvisi, lakukanlah revisi dengan tepat.

d)     Manusia adalah unik.  Tetapi standard normal dari seorang manusia dapat diambil secara ilmiah.

e)      Team (perusahaan) harus mendorong anggotanya agar kegiatan dalam bekerja diimbangi dengan kegiatan yang rekreatif (termasuk olahraga) agar tercapai keseimbangan fisik dan mental.

f)       Dukungan keluarga harus ditumbuhkan.

g)      Faktor spiritual yang tinggi merupakan hal yang sangat positif.

Ingat ini ketika kita bekerja

Dan tips kesehatan yang dibagikan oleh @BlogDokter berikut ini, layak kita cetak dan ditempel di meja komputer kita.

1. Jangan pernah mengabaikan tidur dan istirahat karena tubuh butuh waktu untuk memulihkan kondisinya setelah beraktivitas.

2. Mengonsumsi stimulan hanya akan ‘menipu’ kondisi tubuh yang sebenarnya, ini sangat-sangat berbahaya.

3. Dengan stimulan tubuh seakan-akan tetap kuat, tetapi sebenarnya sudah berada di luar batas kemampuannya.

4. Bagian tubuh yang paling menderita saat kita mengonsumsi stimulan berkafein adalah jantung, karena dipaksa kerja berlebihan.

5. Stimulan memaksa jantung mengirim oksigen ke otak secara berlebihan, sehingga otak tetap cemerlang untuk begadang dan bekerja.

6. Begitu jantung kepayahan karena dipaksa bekerja oleh stimulan, timbullah hal-hal yang tidak diinginkan.

7. Dengan tidur yang cukup, makan makanan yang sehat, bergizi seimbang dan olahraga rutin, kita bahkan nggak butuh stimulan.

8. Capek dan lelah, itu artinya tubuh memerintahkan kita untuk istirahat. Jangan pernah mengabaikan perintah ini. Sayangi tubuhmu.

Meninggalnya Mita Diran, tentu menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Sambil kita berharap, peristiwa tragis meninggal akibat overworked, tidak terulang lagi. Minimal hidup sehat dan seimbang, mulai dari diri sendiri. Semoga. (@erkoes)

 

Tags: ,