HR Profesional Harus Terbiasa Dengan Social Media Skill

Setelah kemunculan Google pada tahun 1998, bisa dibilang social media kini merupakan idola baru bagi masyarakat dunia. Geliat social media semakin mulus karena ditunjang dengan kemudahan pengguna dalam mengakses internet. Di satu sisi kehadirannya membuat jalur informasi semakin deras mengalir, di sisi lain ada beberapa pihak yang mulai ‘panik’ untuk membendungnya.

Salah satu kubu yang mulai bergeming adalah praktisi HR. Sebagai juru kunci perusahaan dalam urusan ketenagakerjaan manusia, tindak tanduk karyawan merupakan aspek penting dalam tugas mereka. Dengan adanya social media, praktis pekerjaan HR semakin bertambah.

Malla Latif selaku CEO PortalHR mengakui bahwa social media adalah tools baru yang fenomenal. “Dulu ketika email menjadi alat penyambung informasi antar lini, kita mungkin tidak akan menyangka bahwa social media menjadi saluran informasi yang sangat terbuka,” ujar Malla.

Tidak hanya itu, social media membuat semua orang bisa mendapatkan informasi sangat cepat. Jadi menurut Malla, jangan heran bila issu PHK itu sudah tercium oleh karyawan Anda jauh-jauh hari, jika Anda tak pintar menjaganya dari social media. Apakah dengan begitu kita harus melarang semua akses karyawan untuk ber-social media? Menurut Malla pelarangan akses internet di kantor adalah tindakan yang sia-sia.

Malla menyampaikan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Berdasarkan data dari we are social, pada Oktober 2012 jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 55 juta orang. Yang menarik, penetrasi mobile di Indonesia mencapai 109% yaitu sebesar 270 juta pengguna. Dan 18% atau sekitar 43 juta nya merupakan pengguna top social network.

“Dengan tingkat penetrasi mobile yang begitu tinggi itu, menurut saya kebijakan untuk men-stop akses internet dari HR adalah silly, karena employee bisa  akses dari telepon genggamnya,” terang Malla.

Malla melanjutkan Facebook dan Twitter masih menjadi social media yang paling favorit di Indonesia. Saat ini Indonesia sama-sama menduduki peringkat ke 4 untuk Facebook dan Twitter di dunia. Namun yang mengejutkan, kota Jakarta tercatat sebagai kota teraktif di dunia.

Lalu apa yang bisa dilakukan insan HR dalam memanfaatkan perkembangan social media di Indonesia? Menurut Malla, mau tidak mau praktisi HR mesti terjun dan terampil dengan social media. “Banyak prediksi yang mengatakan bahwa 2013 adalah tahun social HR. Banyak perusahaan yang membutuhkan HR yang mempunyai skill social media,” jelas Malla.

Bahkan menurut Malla, beberapa perusahaan lebih menginginkan merekrut orang yang mempunyai skor Klout yang tinggi ketimbang IQ yang tinggi. Sungguh sebuah fenomena yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Untuk itu Malla menekankan bahwa personal branding menjadi sangat penting bagi perusahaan.

Employee Branding, Dampak Dari Social Media

Malla yang aktif menjadi pembicara dalam seminar HR ini menyampaikan ada 9 dampak dari social media bagi dunia HR, yaitu:

1. Employee branding

2. Collaboration & communication

3. Talent recruiting

4. Assesing online record

5. Professional development

6. Employee engagement

7. Driving innovation

8. Alumni relations

Kesembilan dampak ini menjadi tantangan baru bagi praktisi HR. Hal pertama yang kurang disadari oleh para HR profesional adalah bahwa social media berdampak kepada employee branding. Melalui social media karyawan bisa berinteraksi secara tidak langsung mengenai brand mereka. Apa yang keluar dari ‘status’ para karyawan secara tidak langsung menggambarkan kondisi yang ada di dalam perusahaan.

“Sentimen karyawan kepada bos-nya dapat kita ketahui dari tweet mereka, jangan sampai hal ini belum siap kita antisipasi,” tambah Malla. Tidak perlu ditakuti, hal yang perlu kita lakukan adalah terjun langsung ke tren tersebut. Praktisi HR tidak harus aktif ber-social media namun mereka seharusnya mulai terbiasa berinteraksi di jaringan social, ujar Malla.

HR yang lebih cepat beradaptasi dengan tren ini, mereka yang akan tahu apa yang dibutuhkan untuk perusahaan. “Karena mereka akan menularkan skill ini kepada karyawan. Sehingga employee branding bisa menunjukkan engagement karyawan,” imbuh Malla.

Selain social media, three generation juga menjadi tren baru di dunia HR. Komunikasi yang terbuka yang didapatkan dari social media sangat berpengaruh kepada perilaku generasi X, Y & Z. Menurut Malla three generation ini yang harusnya dipikirkan oleh perusahaan. “Melalui social media kita bisa meng-attract mereka dengan efektif. Buat mereka terlibat dan manage mereka dari informasi yang ada di social network mereka, contohlah Google,” saran Malla.

Banyak alasan mengapa praktisi HR mesti warming up dengan adanya social media. Mulai dari rekrutmen, attracting dan engagement karyawan, kita membutuhkan media sosial. Namun Malla mengakui masih ada kendala bagi beberapa perusahaan yang mempunyai peraturan tegas terhadap social media. Untuk itu Malla menyarankan sebelum mengaktifkan social media di dalam sebuah organisasi, perusahaan harus menentukan dulu apa tujuannya. “Setelah perusahaan telah menentukan apa tujuannya menggunakan social media, hal kedua yang mesti dilakukan perusahaan adalah setting social media policy,” pungkas Malla.

 

* Tulisan ini pernah dimuat di Majalah HC edisi Maret-April 2013

Tags: ,