Hanya Sedikit Orang Bisa Multitasking

Penelitian menunjukkan, hanya sedikit orang yang mampu mengerjakan dua hal atau lebih dalam waktu yang sama, dan dapat memberikan hasil yang baik ketika perhatiannya terbelah.

Sebagian besar dari kita tidak efektif bila melakukan multitasking. Jangankan salah satunya selesai, mungkin kedua-duanya tidak akan terselesaikan. Misalnya ketika Anda sedang berada dalam meeting dan Anda mengecek email Anda, besar kemungkinan Anda tidak akan memahami apa yang baru saja rekan Anda jelaskan.

Atau contoh terburuknya, ketika Anda sedang menyetir sambil mengecek email. Berdasarkan data dari National Safety Council di Amerika pada ahun 2012, sebanyak 26% kecelakaan kendaraan bermotor disebabkan karena menelepon ataupun SMS sambil menyetir.

Baca juga: Tips Atur Waktu Bila 8 Jam Kerja Dirasa Kurang

Memang hanya sebagian orang yang dapat melakukan multitasking dengan baik. Namun bukan berarti Anda tidak dapat mencobanya. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Jason M. Watson dan David L. Strayer pada tahun 2010, ditemukan bahwa hanya 2,5% partisipan yang dapat melakukan aktivitas secara multitask. Dalam studi ini, partisipan diminta untuk melakukan simulasi menyetir dalam mode stop-and-go-traffic, lalu pada saat yang sama partisipan diminta untuk menjawab pertanyaan mengenai recalling words dalam urutan tertentu dan menjawab permasalahan matematika sederhana. Kebanyakan partisipan tidak mampu menyelesaikan tugas ini. Waktu reaksi mereka untuk mengerem menurun seiring dengan kemampuan mereka untuk menjawab pertanyaan jika dibandingkan dengan mereka yang tidak terbiasa multitask. Hanya 2,5% yang berhasil untuk multitask. Waktu reaksi mereka untuk mengerem tidak menurun dan skor menjawab pertanyaan mereka meningkat.

Hal ini menunjukan bahwa terdapat sebagian kecil orang yang dapat melakukan multitask dan kedua aktivitas yang dilakukannya dapat efektif terselesaikan. Perlu Anda ketahui bahwa mereka yang mampu multitask memiliki keuntungan hingga 97,5% dibandingkan mereka yang tidak. Mereka dapat mengefisienkan waktu dan kemampuan mereka.

Maria Konnikova, penulis dari The New York Magazine, menemukan bahwa Strayer dan David Sanbonmatsu dari University of Utah melakukan penelitian terhadap 300 orang murid mereka terkait kemampuan mereka untuk multitask dan mempelajari performa multitask mereka.

“Hasilnya terdapat hubungan yang kuat. Semakin seseorang berpikir bahwa ia bisa melakukan multitask, maka semakin baik performa yang akan mereka tampilkan,” ungkap Konnikova.

Berdasarkan hasil studi yang sudah dipaparkan diketahui bahwa mereka yang mampu multitask itu memang ada. Hanya saja memang tidak sebanyak yang Anda kira. Namun mereka yang multitask memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan mereka yang tidak sehingga dapat mengefektifkan dan mengefisienkan waktu. Misalnya ketika Anda harus menyelesaikan suatu tugas namun Anda juga harus menelepon klien Anda dan menyelesaikan transaksi maka Anda akan menghemat waktu dan tenaga Anda. Selain itu semakin Anda yakin bahwa Anda dapat melakukan multitask, maka akan semakin baik performa multitask Anda. Anda tertarik mencoba?

Baca juga: Multitasking: Hemat Waktu atau Buang-buang Waktu?

Tags: