Gen-Y, Semakin Dikekang Semakin Tidak Berkembang

Tiket.com 2

Masuknya generasi muda atau lebih dikenal dengan sebutan Gen-Y kerap menjadi pembicaraan akhir-akhir ini. Karakter Gen-Y yang identik dengan “bebas” dan “susah diatur” kadang menjadi polemik kecil di perusahaan.

Sebenarnya apa yang membuat mereka menjadi primadona di kalangan Headhunter sekaligus menjadi “PR” bagi praktisi HR? Gaery Undarsa, selaku Managing Director dan Co-Founder Tiket.com membagi pengalamannya menangani langsung pekerja muda yang kritis, produktif dan suka tantangan. Kini start-up yang didirikan pada Desember 2011 lalu siap bertransformasi ke industri yang lebih besar. Simak wawancara langsung bersama PortalHR berikut ini.

Perkembangan teknologi yang semakin cepat melahirkan banyak perusahaan teknologi yang bermunculan di Indonesia. Hal tersebut juga ditunjang dengan hadirnya generasi-generasi muda yang menyukai perubahan baru dan mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

Melihat peluang ini, Gaery bersama 3 pendiri lain membuat start-up yang bergerak di bidang ticketing dan booking online. Yang menarik, Tiket.com memiliki 27 karyawan yang hampir 90% kelahiran 1980 ke atas, termasuk jajaran pendirinya.

Dominasi gen-Y di Tiket.com menjadi salah satu kelebihan. “Bisnis kami mengalami perubahan yang cepat terus-menerus, dan anak muda lebih cepat beradaptasi dengan perubahan-perubahan baru,” ujar Gaery.

Selain itu rasa penasaran yang lebih tinggi di kalangan gen-Y juga membuat percepatan bisnis terjadi lebih mudah. Hal ini karena Gen-Y tidak ragu untuk mengeluarkan idenya bahkan turut mendorong idenya menjadi hal yang lebih baik.

“Saya harus appreciate dengan karyawan-karyawan semua. Karena sebenarnya mereka membangun Tiket.com juga,” tambah Gaery.

Untuk itu, dalam menangani Gen-Y, Gaery lebih terbuka dan tidak mengekang kreativitas karyawan. “Jika meraka punya ide brilian, kita sangat terbuka dan rata-rata itu berhasil,” ujar Gaery.

Manja

Selain kelebihan para pasukan muda ini, Gaery juga mengakui ada kekurangan yang menempel pada sosok gen-Y.  Karena rata-rata Gen-Y belum mempunyai pengalaman bekerja bahkan ada yang belum menamatkan kuliahnya, maka sifat kekanak-kanakan kadang muncul, level of maturity yang masih kurang.

“Kadang mereka masih gampang emosi, galau dan tersinggung. Yang tidak baik, mereka kadang membawa masalah mereka ke kantor,” ujar Gaery.

Kekurangan lain yang kerap dirasakan Gaery adalah sisi “manja” dari gen-Y. Ia mengakui beberapa tugas yang sebenarnya bagian dari pekerjaan mereka enggan dilakukan karena mereka merasa itu sulit. Menurut Gaery, hal itu terjadi karena Gen-Y seringkali belum mengerti seberapa penting pekerjaan dan uang bagi mereka. Untuk itu Gaery tetap tegas dalam memperlakukan karyawannya.

“Kita harus mengerti cara mengatur mereka, kita buat mereka happy tapi jangan terlalu dimanjakan,” ujar Gaery.

Sifat terakhir yang diakui Gaery ada pada diri Gen-Y adalah idealisme yang tinggi. Biasanya anak muda cenderung melakukan hal sesuai dengan pemikirannya saja.

“Biasanya anak muda itu punya idealisme yang sangat tinggi. Mereka punya pemikiran yang saklek, walaupun pada kenyatannya bisnis kadang memerlukan kompromi,” ujar Gaery.

Menurut pengalaman Gaery, mengatur Gen-Y bukan dengan cara memaksa, melainkan memberikan contoh dan alasan yang benar mengenai peraturan tersebut. Karena semakin dikekang, mereka malah cenderung tidak berkembang bahkan tidak betah dengan pekerjaannya.

“Karena mereka kritis, kita harus kasih contoh yang benar kepada mereka, sebenarnya kalau mereka dikasih tahu perubahan itu positif, mereka akan terima,” pungkas Gaery. (*/@nurulmelisa)

Tags: ,