Engage Karyawan Bukan Sekadar Retain

IBTalk Prasetiya Mulya

IBTalk Prasetiya Mulya

TOPIK ENGAGEMENT di organisasi memang senantiasa menarik untuk diperbincangkan. Ini pula yang mengemuka dalam Inspiring Business Talk Show #4 yang diselenggarakan oleh Prasetiya Mulya, di Jakarta, (13/8/2014) dengan mengambil tema besar “Golden Rule in Engaging Talent”.

Michael Adryanto, Managing Director Strategic & Human Resources Director, Sinarmas Agribusiness & Food yang pagi itu membawakan topik Engaging Talent: Cracking HC Strategies Across Generations memberikan banyak pencerahan bagi setidaknya 150 audiens yang memadati ruangan seminar di Kampus Cilandak Prasetiya Mulya.

Michael menjelaskan pengertian engaging talent ini memang lebih luas ketimbang hanya sekadar menjalankan program retain. “Bicara engagement itu ada dua hal, pertama mereka mau stay dan kedua mereka juga memegang komitmen dan menjaga produktivitas. Konteks ini tidak hanya sekadar loyal, karena terlalu loyal pun kadang menjadi masalah tersendiri. Tentu saja buat organisasi yang diinginkan adalah karyawan yang loyal sekaligus produktif,” ujarnya.

Dalam ilustrasi case study, Michael menyebut tentang kiprah dari karir pebasket NBA yang cukup terkenan. Dia adalah John Houston Stockton yang hampir sepanjang karir profesionalnya hanya membela satu klub, Utah Jazz. Loyalitas dan produktivitas Stockton ini menarik dicermati karena ini melibatkan profesionalisme di dalam organisasi yang reputable.

“Untuk kompetisi sekelas NBA, tentu kita tahu persaingannya sangat-sangat ketat sehingga setiap pemain dituntut selalu perform, dan Utah Jazz beruntung memiliki seorang Stockton. Produktivitasnya di lapangan tidak perlu diragukan, bahkan ia mendapat gelar pointguard NBA sepanjang masa,” imbuh Michael.

Bagi organisasi memiliki talent sekelas Stockton, tantangannya adalah bagaimana menjaga agar tidak pindah ke klub lain. Lanjut Michael, “Cerita menarik lainnya dari pemain ini adalah sikap loyalnya ketika klubnya sedang menghadapi masalah finansial serius, ia rela diturunkan gajinya dengan satu syarat, yang buat prusahaan rasanya tidak sulit untuk memenuhinya, yaitu lapangan hoki yang merupakan aset perusahaan jangan dijual karena itu adalah tempat favorit bermain anaknya. Ia jalani itu hingga pensiun.”

Pebisnis sukses dari Inggrisyang nyentrik sekalipun, Sir Richard Branson, owner dari konglomerasi Virgin, ketika ditanya 3 kata kunci keberhasilannya, ia pun menyebut; people, people, dan people. Richard Branson menyebut bahwa dalam bisnis itu yang krusial adalah orangnya, sehingga tidak berlebihan kalau bisnis itu ya bicara tentang orang.

Michael lantas menyebutkan ada 3 hal penting terkait dengan kondisi bisnis saat ini, yakni pertama talented people are scarce, kedua people demand much more,  don’t want to accept the standard package they are offered, dan ketiga people are mobile, ‘not loyal’, and their commitment is short term.

Sedangkan, Suryantoro Waluyo, Country Head of Human Resources of Standard Chartered Bankyang tampil sebagai pbicara kedua membawakan topik “Productivity VS Loyalty: Company Perspective in Facing Competitive Challenge.” Suryantoro mengilustrasikan bahwa topik engagement itu mirip dengan perkawinan dalam kehidupan rumah tangga, yang dalam organisasi ini akan tercermin dari angka-angka atrition rate. Dari beberapa survei, Suryantoro menyebut penyebab utama tingginya atrition rate memang masih rupiah.

“Namun yang nomer 0,5 itu ternyata dikarenakan hubungan karyawan tadi dengan organisasinya. Di sini organisasi biasanya mulai sadar bahwa engagement itu beyond gaji gede, engagement itu beyond benefit yang besar, engagement itu beyond performance appraisal dan lain sebagainya, dan parahnya masih banyak organisasi yang belum sadar,” imbuh Suryantoro.

Organisasi yang masih belum sadar ini, lanjut Suryantoro biasanya tidak melakukan analisa, sehingga tidak tahu simptom-simpton yang muncul sehingga penyakitnya masih tetap berjalan. “Organisasi ini juga tidak tahu kebutuhan vitamin atau suplemennya seperti apa, dan ironisnya mereka tidak tahu kalau sedang sakit,” tuturnya.

Menjawab employee engagement, Endang Tatiana, Consultant of Prasetiya Mulya Executive Learning Institute yang tampil sebagai pembicara ketiga menawarkan solusi untuk meningkatkan keterlibatan dari peran leader. Transformational leadership menjadi kata kunci, dan untuk menjamin transformasi berjalan baik, setidaknya ada 4 (empat) komponen yang harus ada, yakni idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation dan individual consideration.

Tatiana menerangkan juga, untuk step by step transformasi leadership dilakukan melalui 8 tahapan, yaitu; increase sense of urgency, build the guiding team, get the right vision, communicate for buy in, empower action, create short term wins, don’t let up, serta terakhir make it stick.

“Kalau ditanya siapa contoh sukses transformational leader, biasanya akan muncul tokoh-tokoh besar seperti Ir. Soekarno, atau Nelson Mandela. Namun sebenarnya orang biasa-biasa pun bisa melakukan, dialah Enduh Nuhudawi, Kepala Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor yang berhasil membedah rumah warganya menjadi layak huni sebanyak 118 rumah, dengan modal hanya Rp 100 saja,” terang Tatiana. Apa yang dilakukan oleh Enduh Nuhudawi ini, menurut Tatiana akan menjadi role model, menjadi intellectual stimulation, punya visi yang luar biasa dan akan menyentuh hati orang-orang di bawahnya.

Sedangkan Irvandi Ferizal, HR Director Mondelez International (Kraft Foods Indonesia) memberikan topik yang tak kalah menariknya, yaitu “Strategic Priority in Talent War”. Irvandi memancing audien dengan menyebut fakta bahwa, “60% of people passive in talent war acquisition market, but open for any other opportunities. Kalau ditanya apakah sedang aktif mencari pekerjaan, jawabannya selalu tidak, tapi ketika ditanya kalau ada yang nawarin, dia sebetulnya membuka diri. ”

Kondisi ini, lanjut Irvandi membuat fenomena talent yang berpindah-pindah dari satu organisasi ke organisasi lainnya dalam waktu singkat. “Kalau ini diikuti, sampai kapan ini terjadi, sehingga bagaimana startegi prioritas menghadapi talent war ini menjadi penting,” terang Ketua Harian PMSM (Perhimpunan Manajemen Sumberdaya Manusia Indonesia) ini.

Strategi menghadapi talent war ini, diakui Irvandi bukan obat ajaib yang langsung menyelesaikan masalah, tapi paling tidak cukup membantu dalam mengantisipasi. Strategi tersebut adalah, pertama terkait dengan compensation & benefit (clear positioning of the target market you want to compete, dan set up the your C&B positioning vs market), kedua terkait culture (strengthening company values to be way of live, dan build and leverage employee value proposition as unique differentiation), ketiga terkait dengan talent management (recognize talent-develop through 3F yakni feedback, formal plan, follow-up; differentiated plan for talent-don’t try for uniformity; emphasized on leaders & managers development as key), serta strategi keempat berkaitan dengan masalah retention baik financial maupun non financial retention. (*/@erkoes)

Tags: , , , , ,