Strategi Menghindari Konflik PHK

Dalam menghadapi persaingan bisnis yang kini makin tajam, sudah saatnya tiap manajemen perusahaan harus melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja karyawan. Biasanya perusahaan menyelenggarakan program-program pelatihan secara berkesinambungan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kompetensi karyawan.

Namun apabila program-program itu sudah dilaksanakan, dan karyawan masih saja tidak dapat meningkatkan produktivitas atau kompetensinya, maka perusahaan akan memilih alternatif yang paling tidak populer, yakni melakukan PHK. Tentu saja PHK itu dilaksanakan melalui prosedur yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sementara itu untuk menghindari terjadinya konflik ketenagakerjaan akibat PHK. Indra Gunawan selaku pakar hubungan industrial mengungkapkan ada beberapa strategi yang harus dilaksanakan oleh pihak manajemen. “Jadi prinsipnya kalau mau menghindari konflik PHK, ya dasarnya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku,” tegasnya. Ia pun mengakui terkadang masih ada saja masalah, meski sudah sesuai dengan ketentuan normatif.

Maka Indra menyatakan tindakan preventif untuk menghindari konflik lebih penting ketimbang setelah ada masalah. Karena itu pahami sumber konflik dan carikan solusi yang benar. Menurutnya, cara perundingan dan diplomasi akan lebih efektif ketimbang demo dalam menyelesaikan PHK. “Beberapa tips ini juga didapatkannya dari pengalaman teman-teman saya dari berbagai perusahan. Sehingga akhirnya kita bisa mendapatkan misalnya based practice,” katanya.

Strategi itu misalnya ia sebutkan, apabila perusahaan memungkinkan sebaiknya dapat memberikan paket pesangon diatas ketentuan normatif, baik berupa cash maupun benefit. “Misalnya ada beberapa perusahaan yang pekerjanya akan tekena PHK itu boleh ambil asuransi kesehatannya sampai enam bulan, bahkan ada yang sampai 12 bulan,” ungkapnya. Bahkan katanya, beberapa pekerja yang telah memasuki usia 40an ada yang ditawarkan untuk mengikuti pelatihan entrepreneur. “Jadi ada training-training untuk membantu mereka memikirkan mau diapain uangnya itu. Misalnya untuk investasi atau bagaimana dia menghabiskan waktunya setelah tidak bekerja lagi,” ucapnya.

Selain itu, kata Indra potensi konflik hubungan industrial sebenarnya juga bisa ditekan jika pengusaha dan buruh bisa saling terbuka dalam setiap persoalan di perusahaan. Kejujuran akan membangun kepercayaan dan menimbulkan ketenangan bekerja di perusahaan. Keterbukaan membuat pekerja mengetahui setiap permasalahan yang dihadapi manajemen dan turut serta mengatasinya. Kejujuran manajemen juga memberikan iklim kerja yang kondusif di perusahaan. “Jadi apapun masalahnya, diterangkan dengan jujur dan apa adanya,” ucapnya.

Maka sepatutnya manajemen perusahaan dan serikat pekerja selalu berdialog sebelum menentukan target-target perusahaan. Penetapan selalu diambil dengan memperhitungkan potensi pekerja dan perusahaan. “Kalau memang ada serikat pekerja (SP) mungkin bagus juga kalau dari awal diajak untuk memikirkan pertimbangan-pertimbangan atas pilihan-pilihan yang ada, jadi apa nih yang mau kita lakukan, pilihan-pilihannya apa? Jadi mungkin dia (SP) juga bisa membantu manajemen, mungkin kita bisa mendengarkan sebenarnya teman-teman pekerja ini maunya apa,” ujar Indra.

Ditambahkan Indra, apabila di perusahaan itu tidak ada serikat pekerja, maka jangan sampai terlalu banyak intervensi dari pihak ketiga atau pihak lainnya. Misalnya pihak Konfederasi. “Karena dari pengalaman yang begitu malah jadi mis, karena pertama mereka tidak menguasai permasalahan di dalam. Kedua, apapun yang terjadi mereka nggak akan kena impact, karena nggak ada di dalam organisasi, mereka orang luar. Terus yang ketiganya juga, dari pengalaman akan jadi ribet. Kecuali untuk sharing-sharing saja,” paparnya.

Kemudian mengenai retention, resep dalam tahap pelaksanaan PHK itu yang perlu diperhatikan adalah jangan melakukan secara bersamaan, karena organisasi akan bingung. Dalam hal cara penyampainnya pun Indra menyarankan harus secara terbuka dengan strong management. “Jadi disampaikannya harus oleh eksekutif, oleh manajemen yang strong. Maksudnya jelas dan terbuka, jadi nggak ada hanky panky (tipu daya). Nah itu dalam hal mengkomunikasikan,” katanya.

Menurutnya, konsep ini cukup ampuh untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Loyalitas terhadap perusahaan pun dengan sendirinya terbangun karena keterlibatan dalam memutuskan membuat pekerja merasa memiliki perusahaan. “Nah intiya kalau kita melakukan PHK dengan benar, misalnya dengan menghargai orang dengan tulus, dengan dignity dan respect gitu ya. Dan juga antara message ke organisasinya itu jelas, maka mudah-mudahan beberapa resiko-resiko tidak diinginkan itu tidak terjadi,” ujarnya.

Negosiasi
Sementara menurut Arbono Lasmahadi, alumni Pasca Psikologi Universitas Indonesia, pada program studi Psikologi Sumber Daya Manusia ini menyampaikan untuk menghindari konflik pada PHK, dapat dilakukan pula melalui negosiasi yang baik antara manajemen dan serikat pekerja. Ada dua macam negosiasi yang dijelaskannya, Distributive negotiation- Zero sum negotiation (win-lose) dan Integrative negotiation (win-win).

Distributive negotiation- Zero sum negotiation (win-lose), yaitu suatu bentuk negosiasi yang didalam proses pelaksanaannya para pihak yang terlibat bersaing untuk mendapatkan sebanyak mungkin keuntungan atau manfaat yang ada. Meningkatnya manfaat yang diperoleh salah satu pihak akan mengurangi manfaat yang diperoleh oleh pihak lain. Biasanya perundingan semacam ini terjadi bila hanya ada satu masalah yang menjadi materi perundingan Contoh : Negosiasi untuk menentukan besarnya pesangon yang akan diberikan kepada karyawan yang akan di PHK.

Integrative negotiation (win-win), suatu bentuk negosiasi yang dalam proses pelaksanaannya, para pihak yang terlibat bekerja sama untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya atas hal-hal yang dirundingkan dengan menggabungkan kepentingan mereka masing-masing untuk mencapai kesepakatan. Negosiasi semacam ini biasanya terjadi bila ada lebih dari satu masalah yang menjadi materi perundingan. Contoh : negosiasi untuk memperbaharui KKB.

Dalam kenyataannya hampir semua negosiasi yang dilakukan merupakan kombinasi dari kedua macam bentuk negosiasi tersebut di atas. Dalam proses negosiasi terkadang perlu berkompetisi dengan pihak lain untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Namun tidak jarang juga bekerja sama dengan pihak lain pun dapat memaksimalkan hasil negosiasi yang akan dicapai. (ang)