Sakit Flu, Alasan Tidak Ngantor yang Dapat Diterima Boss

Flu

Jika Anda tidak masuk kerja karena sakit, pernahkah Anda terpikirkan bagaimana reaksi boss Anda? Apakah dia akan benar-benar menerima alasan sakit yang Anda berikan ataukah tidak.

Flu

Berdasarkan artikel yang di muat dalam The Telegraph, alasan sakit flu (41%) ternyata dapat diterima oleh para boss sebagai alasan tidak masuk kerja karena sakit. Sedangkan alasan sakit punggung, luka karena kecelakaan dan operasi seperti operasi katarak (37%) ternyata tidak dapat terlalu diterima oleh para boss.

Hasil ini dikemukakan berdasarkan survey yang dilakukan oleh AXA PPP Healthcare terhadap 1.000 pemilik usaha dan para eksekutif perusahaan.

Baca juga: Pura-pura Sakit untuk Bolos Kerja, Hati-hati!

Para pekerja yang memiliki penyakit migrain sepertinya Anda harus mencari alasan lain jika penyakit tersebut kambuh. Hal ini dikarenakan hanya 1/5 orang boss yang menyatakan bahwa sakit kepala adalah penyakit yang cukup serius. Meskipun penyakit mental seperti stress, depresi dan kecemasan merupakan alasan yang tidak ditolerir, namun banyak juga pekerja yang mempergunakan alasan tersebut untuk tidak masuk kerja.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan kepada 1.000 orang pekerja non-eksekutif, sebanyak 7% responden mengaku bahwa mereka pernah memberikan alasan yang tidak jujur seperti sakit punggung, sakit flu, atau cedera untuk tidak masuk kerja. Meskipun begitu terdapat 40% responden yang cenderung untuk tidak jujur pada atasannya jika alasannya stress, depresi ataupun cemas.

Baca juga: 30% Pekerja Gunakan Sakit Sebagai Alasan Tidak Masuk Kantor

Hasil survey juga menunjukkan bahwa sebanyak 22% pekerja tidak akan memberikan alasan yang sebenarnya jika mereka izin sakit karena demam. Selain itu sebanyak 12% pekerja akan memberikan alasan migrain ketika mereka izin tidak masuk kerja karena sakit.

Ketika ditanya alasannya, sebanyak 23% pekerja menjawab bahwa mereka memilih untuk merahasiakan gangguan kesehatan yang mereka miliki. Sebanyak 23% pekerja lainnya merasa mereka takut akan dinilai buruk, sebanyak 15% pekerja merasa cemas bahwa alasannya tidak dapat diterima, sebanyak 7% pekerja merasa takut akan reaksi atasan mereka dan sebanyak 3% pekerja merasa malu untuk memberitahukan alasan yang sebenarnya. (*)