Saatnya SDM Indonesia Bersaing di Kancah Internasional

 

Anung Prabowo

Globalisasi menuntut persaingan bisnis yang semakin tajam. Karena itu, tantangan utama di masa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor industri dan jasa dengan mengandalkan kemampuan SDM. Organisasi pun dituntut tidak hanya mampu memberikan pelayanan yang memuaskan (customer satisfaction) tetapi juga berorientasi kepada nilai (customer value).

Pengembangan SDM berbasis kompetensi ini dilakukan agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan dan sasaran organisasi berdasarkan standar kinerja yang ditetapkan. “Kompetensi yang dimiliki karyawan secara individu harus mampu mendukung strategi organisasi dan perubahan yang dilakukan manajemen,” kata Yoyo Subagyo, konsultan manajemen SDM. Dengan demikian, menurutnya, kompentensi yang dimiliki individu dapat mendukung sistem kerja berdasarkan tim.

Dijelaskan Yoyo, keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas orang-orang yang bekerja di dalamnya. “Perubahan lingkungan yang begitu cepat menuntut kemampuan SDM dalam menangkap fenomena tersebut, menganalisa dampaknya terhadap organisasi, dan menyiapkan manajemen sumber daya yang tepat guna menghadapi kondisi tersebut,” urainya. Artinya, manajemen SDM dalam organisasi tidak sekadar administratif, tetapi mengarah pada upaya mengembangkan potensi SDM agar kreatif dan inovatif.

Untuk itu, pada Agustus 2010, pemerintah mencanangkan “Gerakan Nasional Pengembangan SDM Unggul Berbasis Kompetensi di Sektor Industri”. Pencanangan ini dilakukan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar dan Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad S. Hidayat di Kantor Kementerian Perindustrian. Dalam press release yang dikeluarkan oleh Depnakertrans, Muhaimin menyampaikan bahwa sejak 2000 Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemnakertrans), Kementerian Perindustrian (Kemperin), Kementerian Perdagangan (Kemdag), Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia sepakat untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam menghadapi pasar global.

“Perlu dikembangkan SDM berbasis kompetensi yang mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), Standar Kompetensi Khusus, dan Standar Internasional,” kata Muhaimin menandaskan. Ia mengharapkan, standar kebutuhan kualifikasi SDM tersebut diwujudkan ke dalam standar kompetensi untuk semua bidang keahlian, yang merupakan refleksi atas kompetensi yang perlu dimiliki setiap orang yang akan bekerja di bidang tersebut.

Di samping itu, standar tersebut harus memiliki kesetaraan dan relevansi terhadap sektor industri di negara lain, bahkan berlaku secara internasional. Muhaimin menambahkan, perlu pula dibangun lembaga pendidikan berbasis kompetensi untuk menghasilkan SDM yang kompeten, dan telah teruji dalam Lembaga Sertifikasi Profesi. Dalam kesempatan tersebut, diserahkan pula Lisensi Lembaga Sertifikasi Profesi dan Lisensi Sertifikasi Profesi kepada beberapa perusahaan di Indonesia. “Di negara berkembang, kebutuhan akan SDM yang unggul merupakan sesuatu yang vital. Dengan SDM yang demikian, berbagai persoalan bangsa dapat diselesaikan setahap demi setahap untuk mencapai cita-cita para pendiri bangsa ini,” tutur Menakertrans memastikan.

Sementara itu, Menteri Perindustrian M.S. Hidayat mengatakan, daya saing global suatu negara ditentukan oleh sumber daya alam yang dimiliki (comparative advantage). Namun, katanya, paradigma ini lama-lama bergeser menjadi paradigma competitive advantage yang memerlukan upaya peningkatan nilai tambah lewat peningkatkan kemampuan dan penguasaan teknologi. “Telah lahir paradigma baru, competency advantage. Artinya, daya saing sebuah negara ditentukan oleh SDM berbasis kompetensi. Sementara daya saing global Indonesia, termasuk daya saing industri, akhir-akhir ini sangat memprihatinkan,” kata Hidayat, mengungkapkan.

Menurutnya, diperlukan langkah-langkah guna mendorong percepatan guna mewujudkan SDM di sektor industri yang kompeten dan mampu bersaing dengan SDM dari negara-negara maju. “Salah satunya dengan Pencanangan Gerakan Nasional Pengembangan SDM Unggul Berbasis Kompetensi di Sektor Industri,” ujarnya menegaskan.

Di tempat terpisah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik menyerahkan sertifikat kompetensi kepada empat ribu tenaga kerja yang bergerak di sektor pariwisata, yang meliputi bidang perhotelan, restoran, dan spa. Hal ini pun dilakukan dalam rangka Pencanangan Gerakan Nasional Pengembangan SDM Unggul Berbasis Kompetensi di sektor pariwisata. “Kualitas tenaga kerja di sektor pariwisata memegang peranan yang sangat penting di era persaingan bebas,” katanya menegaskan.

Dilanjutkan Jero Wacik, meningkatkan kualitas SDM pariwisata merupakan agenda yang mendesak, terlebih lagi dalam menghadapi tantangan di regional ASEAN yang telah sepakat menerapkan kemudahan mobilitas tenaga kerja pariwisata di kawasan ini melalui mutual recognition arrangement (MRA). “Kami menjadikan sertifikasi kompetensi SDM sebagai salah satu program prioritas di Kemenbudpar,” katanya meyakinkan.

Hingga saat ini, ungkapnya, daya saing dan kualitas tenaga kerja pariwisata Indonesia masih rendah atau menempati peringkat 40 dari 133 negara yang menjadi sampel. “Kami akan fokus melaksanakan fasilitas sertifikasi kompetensi SKKNI bidang hotel, restoran, dan spa di sepuluh destinasi pariwisata yang paling diunggulkan,” tuturnya berjanji. Sepuluh destinasi tersebut meliputi Kepulauan Riau, Sumut, Sumbar, Sumsel, Kaltim, Sulut, Sulsel, NTB, NTT, dan Papua Barat. Sedangkan, destinasi unggulan lain yang eksistensinya sudah lebih dahulu diakui, yakni Bali dan Bandung, juga digarap serius SDM pariwisatanya.

Tahun ini Jero Wacik menargetkan produksi sertifikasi kompetensi bidang pariwisata akan mencapai 5.000 orang. “Sesuai dengan UU nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan, secara bertahap setiap tenaga kerja di bidang pariwisata wajib memiliki standar kompetensi kerja,” katanya memastikan. Hal itu lantaran sektor pariwisata dewasa ini menghendaki penanganan oleh tenaga profesional yang andal, berstandar, dan bersertifikat internasional untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan standar pelayanan wisatawan.