PT Coca Cola Bottling Indonesia: Memanusiakan Karyawan…

Hubungan Industrial (HI) adalah suatu hubungan yang melibatkan tiga unsur, perusahaan, karyawan, dan pemerintah. Ini yang mendasari Didik Kuntadi selaku Director HR, Corporate Affairs Security PT. Coca Cola Bottling Indonesia beserta jajaran divisinya berusaha menerapkan peraturan ketenagakerjaan yang ada di Indonesia ke dalam perusahaan CCBI.

Prinsip HI yang kini diterapkan di CCBI menurut Didik adalah harmonis, dinamis dan berkeadilan. “Kami harus punya rasa memiliki, adanya suatu mutual trust, akan membuat perusahaan menjadi harmonis. Sedangkan dinamis, karena pengusaha dan Serikat Pekerja (SP) mempunyai kepentingan masing-masing, yang sewaktu-waktu bisa terjadi perbedaan. Untuk itu, perlu dilakukan penyelesaian masalah dengan baik lewat musyawarah. Tidak boleh memaksakan kehendak dengan cara yang tidak baik. Selama prinsip ini kami lakukan yaitu memanusiakan manusia, maka semua masalah bisa diselesaikan dengan mudah,” ujar Didik. Sedangkan berkeadilan, setiap karyawan dan manajemen CCBI harus bersikap transparan dan berkomunikasi dengan baik. Karena itu, bipartit dilakukan minimal satu bulan sekali agar permasalahan diselesaikan satu persatu, tidak bertumpuk-tumpuk.

Lebih lanjut, Didik mengatakan bahwa pada prinsipnya, orang bukan ingin mendengarkan lagunya, tapi ingin melihat penyanyinya. Demikian dengan perusahaan. Para karyawan ingin melihat orang human resources department (HRD)nya. Makanya, ia selalu tekankan ke stafnya agar bersikap dan berperilaku baik kepada semua karyawan.

“Tapi, harus dibedakan antara hubungan bisnis dengan hubungan pribadi. Saya bisa saja memecat orang jika orang itu sudah melakukan kesalahan fatal kendati saya dekat dengan dia,” kata Didik mencontohkan. Dalam prosesnya, ia akan memanggil orang tersebut dan menjelaskan baik-baik. Tapi setelah orang itu keluar, ia berusaha membantu mencarikan pekerjaan asalkan tidak mengulangi lagi kesalahan.

Banyak membantu, adalah kunci dalam HI. Didik berpendapat, bahwa jabatan itu hanya titipan. Kalau sekarang ia menjadi seorang direktur, besok belum tentu. Sehingga jika kita tidak bisa menghargai seseorang, maka orang lainpun tidak akan menghargai kita. “Saya ingin menciptakan bahwa kita harus dihargai, bukan ditakuti.” Sikap ini yang harus dimiliki seorang HRD. Disamping itu, setiap isu HI, harus diterima dan diselesaikan dengan baik. Karena itu, personal approach menjadi sangat penting.

Didik mengakui, benturan-benturan antara perusahaan dan pekerja beberapa kali terjadi di CCBI kendati ia sudah berusaha menerapkan aturan dengan baik. Namun, sejauh ini bukanlah hal yang bersifat normatif, hanya sebatas masalah kepemimpinan saja. Contoh kasus, pernah terjadi karyawan tidak setuju dengan kepemimpinan salah seorang pimpinan di sebuah perusahaan. Tapi masalah pemberhentian orang itu adalah hak prerogatif perusahaan, maka ia berusahan menjelaskan kondisi dan situasi ini secara baik-baik kepada karyawan yang melakukan demo. “Saya jelaskan bahwa masukan ini saya terima dan akan saya selidiki. Setelah diketahui kebenarannya, maka perusahaan akan mengambil tindakan yang benar.”

Hubungan yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan, yang diterapkan Didik dan stafnya memang membuahkan hasil yang lebih baik. Dalam soal pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), jika di perusahaan-perusahaan lain membutuhkan waktu 1-2 tahun, CCBI mampu membuat rekor dengan hanya menghabiskan waktu 40 menit saja. “Pertama kali saya bekerja, saya tanyakan kepada manager HI, berapa lama mereka mampu membuat PKB. Saya mau kami harus lebih baik dari tahun lalu,” aku Didik dengan bangga. Jika tahun lalu PKB berhasil diselesaikan hanya 2,5 hari, maka tahun ini PKB CCBI unit Jakarta hanya 4 jam, kemudian PKB CCBI unit Bali hanya 3 jam dna PKB CCBI unit Kalimantan hanya 40 menit. “Ini image karena berapa banyak uang perusahaan yang kami simpan?” lanjutnya.

Rahasia kecepatan dalam pembuatan PKB ini menurut Didik karena perusahaan tetap memperhatikan 3 undang-undang, yaitu UU No. 13/ 2003 tentang tenaga kerja, UU No. 21/ 2000 tentang SP dan UU No. 2/ 2004 tentang PPHI. Karyawan CCBI terutama para SP juga rutin mendapat pelatihan tentang UU. Para SP yang telah ditraining punya kewajiban untuk menjelaskan ke bawah. “Saya kira kalau mereka mengerti UU, mereka tidak akan ribut. Begitu ada permasalahan, maka akan cepat diatasi karena sebelumnya kami selalu adakan secara bipartit,” ucap Didik yang menambahkan bahwa hubungan bipartit CCBI dilakukan minimal sebulan sekali sehingga semua tidak akan ada masalah jika komunikasi lancar.

Hadirnya Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) yang akan menggantikan Panitia Penyelesaian Perburuhan Pusat (P4P/D), dinilai Didik tidak menjadi masalah selama dalam proses penyelesaiannya berjalan dengan baik. “Saya kira, semua karyawan dan perusahaan sebenarnya berpikir panjang untuk masuk kesitu karena prosesnya sangat panjang. Buat karyawan yang kena PHK, biasanya mereka kesitu karena mereka ingin dapat pesangon, wajar saja,” imbuhnya.