NLP Ciptakan Hubungan Industrial Harmonis

Sebagai teknologi yang mempelajari cara kerja dan optimalisasi pikiran manusia, Neuro Linguistic Programming (NLP) teryata dapat menciptakan kondisi hubungan industrial yang harmonis. Kondisi harmonis sendiri h anya dapat diciptakan dengan komunikasi yang efektif, yaitu mudah dipahami, diterima dan dilakukan dengan kemauan dan kesungguhan. Maka melalui NLP ini, diupayakan dapat menciptakan komunikasi yang efektif.

Hubungan Industrial yang harmonis merupakan hubungan yang konstruktif antara pekerja dan pengusaha, yang pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas dan kelangsungan usaha. Untuk tercapainya Hubungan Industrial yang harmonis tersebut, semangat “Win-Win Solution” perlu ditumbuh kembangkan secara terus menerus. Untuk itu, peningkatan kesadaran dan saling keterbukaan menghargai kepentingan masing-masing pihak merupakan suatu kondisi yang perlu diciptakan di dalam perusahaan.

Tidak lain, komunikasi merupakan faktor yang menentukan dalam keberhasilan hubungan industrial. Komunikasi yang kurang efektif dapat berakibat, tidak hanya pada hubungan yang kurang harmonis dalam lingkungan kerja, namun lebih jauh adalah terjadinya distorsi pemahaman akan berbagai kebijakan manajemen, yang tentu saja dapat berakibat buruk bagi perusahaan, dan juga pihak stakeholder.

Sehingga, mutlak diperlukan dalam hubungan industrial adalah kemampuan berkomunikasi, menyampaikan pesan-pesan kepada bawahan tentang kebijakan perusahaan, dengan tingkat distorsi yang seminimal mungkin, bahkan mencapai NOL (tidak ada). Komunikasi ini pun dapat menciptakan saling pengertian. Untuk itu perlu ada saling memahami dan membangun budaya keterlibatan. Inilah yang merupakan esensi dari demokrasi industri.

Komunikasi efektif
Dalam membangun sebuah komunikasi yang efektif, banyak faktor yang menjadi pendukungnya, antara lain media, waktu penyampaian, dan pilihan dan susunan kata. Namun, yang paling mendasar adalah seberapa jauh pesan yang disampaikan menyentuh emosi si penerima sehingga ia bergerak sejalan dan selaras dengan isi pesan yang disampaikan, terutama bila kondisi dalam suatu hubungan industrial telah mencapai ‘Lampu Kuning’ atau bahkan ‘Lampu Merah’.

Komunikasi yang efektif perlu dilandasi dengan hubungan baik, adanya manfaat bagi semua pihak, terjadinya diskusi terbuka, menghindari tindakan emosional, mengutamakan sifat sabar, banyak mendengarkan dan selalu berbesar hati terhadap perbedaan atau tekanan, dan menghindari ungkapan ingin menang sendiri. Maka melalui penerapan NLP diharapkan seseorang dapat memahami tentang cara kerja otak atau pikiran manusia dalam menerima dan merespon informasi. Sehingga tidak akan terjadi suatu konflik. Meski menurut pandangan kaum “human relations” suatu konflik adalah sesuatu gejala yang biasa (natural) dan tidak dapat dihindari dari setiap kelompok.

Sementara lembaga yang menjembatani antara pengusaha dan pekerja, seperti Serikat Pekerja (SP) atau Serikat Buruh (SB), LKS Bipartit dan Mediator Ketenagakerjaan telah banyak berperan dalam memperlancar arus komunikasi. Di sisi lain, media sosialisasi kebijakan perusahaan, maupun proses perundingan dan negosiasi harus dilakukan dengan komunikasi yang efektif, untuk menghindari kesalapahaman, kecurigaan, dan ketidakpercayaan yang bermuara pada perselisihan.

NLP sebagai cara berkomunikasi
Neuro Linguistic Programming (NLP) sebagai teknologi yang mempelajari cara kerja dan optimalisasi pikiran manusia, dengan pola unconscious communication, teknik klarifikasi dan seperangkat metode pemberdayaan pikiran lainnya memastikan bahwa proses komunikasi berjalan efektif untuk menciptakan atmosfir hubungan industrial yang harmonis dan produktif.

Dijelaskan kembali oleh Bahari Antono selaku Managing Director HRD Forum, NLP merupakan merupakan teknik komunikasi, dimana melalui program tersebut seseorang diajarkan bagaiamana berkomunikasi yang efektif dengan orang lain, dengan membangun keterbukaan. “Karena kalau misalkan saya jadi HRD, saat saya mau meng-interview karyawan, kalau saya tidak membuat keterbukaan, dia tidak akan bicara banyak. Nah dengan NLP ini orang bisa lebih terbuka, dan mau bicara banyak,” ujarnya saat ditemui HC di ruang kerjanya pada awal bulan lalu.

HRD Forum pun kerap menyelengrakan workshop sehari mengenai NLP ini, dengan berbagai tema, salah satunya yakni Handling Harmonious Industrial With NLP. Melalui workshop ini, Bahari mengatakan para peserta akan mendapat berbagai manfaat. Diantaranya, mampu memprogram pikiran untuk meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi, mampu melakukan teknik pendekatan (rapport) untuk mengurangi hambatan komunikasi dan membangun kepercayaan (trust building), mampu menggunakan teknik komunikasi 3V (verbal, vocal dan visual) dalam komunikasi hubungan industrial secara efektif, dan lain sebagainya.

“Jadi handling harmonious industrial, artinya kita bagiamana menangani hubungan industrial relation di perusahaan itu secara harmonis. Jadi pimpinan tiap manajemen itu harus bisa menerapkan NLP ini, karena sebenarnya NLP ini ilmu komunikasi. Makanya NLP pengguannnya sangat luas sekali, semua bidang bisa. Karena memang NLP ini adalah ilmu yang mempelajari bagaimana kita berkomunikasi,” ungkap Bahari.

Meski ada yang berpendapat NLP memiliki beberapa kekurangan dari sisi prediksi dan penjelasan. Karena akar dari kekurangan ini terletak di pemahaman tentang mekanisme yang masih jauh dari konklusif. Maka, NLP bagi sejumlah pakar yang menerapkan standar akademis yang tinggi, tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hal ini pun diakui Bahari, “Ya, karena research berdasarkan ilmiahnya nggak ada,” ujarnya. Namun ditambahkannya, NLP sudah menunjukkan manfaat yang besar, terutama untuk dunia bisnis, karena daya tariknya.

Ide dasar NLP adalah alam pikiran, tubuh dan bahasa. Ketiga aspek tersebut saling berinteraksi dan membentuk persepsi individual atau pemetaan tentang dunia dalam atau luar diri manusia. Persepsi dan pemetaan ini dapat diubah dan menjadi sasaran dari semua metode-metode NLP. NLP juga mengajarkan, sebagai konsekuensi dari interaksi tersebut, apa yang terjadi di alam pikiran akan termanifestasi dalam bahasa dan juga tubuh. Demikian juga apa yang terjadi dalam tubuh, bisa menciptakan ide-ide di alam pikiran dan pembahasaan verbal yang terkait. Begitu seterusnya. Pada intinya ketiga aspek itu saling mempengaruhi. (ang)