Menunda Ekspansi Tanpa Merumahkan Karyawan

Dinamika pasar yang bergerak cepat membuat dunia usaha menjadi sangat kompetitif. Persaingan bisnis yang semakin kompleks dan ketat telah menghadirkan tantangan baru bagi perusahaan. Tantangan bisnis pun makin berat ketika krisis global menghantam. Dan, tak ada trik jitu bagi perusahaan selain harus bisa meresponsnya secara cepat dan tepat. Artinya, perusahaan atau organisasi harus bisa mendapatkan dan mengevaluasi informasi dengan segera, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk merespons setiap kejadian dan masalah secara cepat dan tepat pula.

Perusahaan peternakan terpadu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), ternyata sedikit dari perusahaan yang boleh dibilang sangat sigap. Manajemen efisiensi sudah dilakukan di semua bidang bahkan sejak sebelum krisis keuangan global sekarang ini. ”Langkah efisiensi yang dilakukan pada waktu itu untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan baku yang sangat signifikan, sehingga untuk mempertahankan daya saing perusahaan harus mengetatkan komponen biaya lain,” ungkap Ali Imron, Asistant Vice President Human Capital PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk.

Menurut Ali, krisis keuangan global juga berpengaruh terhadap Indonesia. Industri yang terkena imbas pertama kali tentunya sektor keuangan karena pengaruh seretnya likuiditas. Untuk sektor riil, industri yang terkena langsung adalah yang berorientasi ekspor. Meskipun demikian, industri yang berorientasi pasar domestik pun bisa saja terpengaruh disebabkan karena kesulitan modal kerja maupun menurunnya tingkat permintaan.

Melihat kondisi tersebut, menurut Ali, agenda CPIN tahun 2009 adalah memangkas semua dana ekspansi. ”Salah satunya membatalkan rencana membangun pabrik pakan di Lampung yang nilai investasinya mencapai Rp 127 miliar,” ungkapnya. Dijelaskan Ali, untuk menghadapi kondisi krisis keuangan global yang belum stabil ini, pihaknya akan lebih selektif menggunakan dana. Oleh karena itu, CPIN memastikan anggaran belanja modal (capital expenditure/capex) tahun 2009 akan lebih rendah dari capex 2008. Sekadar gambaran, capex 2009 sebesar Rp 100 miliar, sedangkan tahun sebelumnya Rp 274 miliar.

Menurutnya, dengan krisis global ini semua orang berhenti melakukan ekspansi secara serentak karena dipicu adanya kekhawatiran bahwa krisis finansial global akan berlangsung cukup lama. ”Dalam kondisi sekarang perusahaan akan menunda ekspansi dan tentu saja karyawan diharapkan lebih produktif dalam bekerja,” katanya.

Pengetatan bujet diakuinya dilakukan sebagai langkah antisipasi. Dividi HR termasuk yang terkena pengetatan bujet. Pengetatan terutama dilakukan dalam aspek perjalanan dinas, jumlah pelatihan, dan program konversi energi untuk produksi. Dalam pandangan Ali, dalam aspek HR, kondisi krisis seperti sekarang justru memerlukan level employee engagement yang tinggi untuk dapat mengatasi tantangan bisnis secara bersama-sama. ”Oleh karena itu meskipun ada strategi efisiensi, kami tetap meningkatkan motivasi dan kompetensi karyawan,” ujarnya.

Sebagai contoh, meskipun bujet untuk pelatihan berkurang, nyatanya CPIN masih dapat melakukan pelatihan internal secara mandiri tanpa menggunakan vendor dari luar. ”Intinya dalam kondisi perekonomian seperti sekarang kita harus lebih kreatif dengan strategi do more with less,” katanya. Ia mencontohkan, beberapa agenda reward strategi CPIN tetap berjalan sesuai dengan market practice. ”Hal ini sangat penting untuk mempertahankan motivasi karyawan,” imbuhnya.

Dalam pandangannya, tahun 2009 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi bisnis maupun bagi para praktisi HR. Hal ini karena pada saat yang bersamaan terjadi dua hal, yaitu krisis keuangan global yang berimbas ke Indonesia dan puncak agenda politik di 2009. ”Letupan-letupan kecil dalam hubungan industrial bisa saja menjadi isu besar apabila tidak ditangani dengan hati-hati. Ada kemungkinan momentum tersebut dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk politik populisnya,” demikian pandangan Ali.

Menurutnya, dalam mengelola SDM banyak faktor yang memengaruhi. ”Selama itu menyangkut orang, tidak akan pernah ada satu resep yang bisa menjawab semua karena yang namanya orang itu kompleks,” ungkapnya. Ia memberi gambaran untuk satu kasus yang gejalanya sama, bisa ada dua jawaban yang berbeda karena ada faktor budaya, lokasi dan lain-lain yang menuntut pendekatan lain. ”Kalau kita melihat karyawan sebagai angka, maka pendekatannya bisa sama. Tapi, kalau kita lihat sebagai orang, pendekatannya tidak bisa disamaratakan,” tuturnya.

Toh, bagi Ali, justru itulah yang menjadi sisi menarik dan menantang bagi siapa pun yang menekuni HR. ”Tantangan yang menarik, seberapa banyak kita bisa membuat pendekatan untuk mengembangkan orang agar lebih produktif dan menjadikan berbagai pendekatan itu bisa diaplikasikan secara lebih umum,” paparnya.

Menurut Ali, meski saat ini dilakukan program efisiensi, hubungan antara manajemen dan pekerja cukup harmonis. Manajemen melihat serikat pekerja cukup memahami kondisi eksternal dan internal yang sedang dihadapi perusahaan. ”Kami masih memiliki hubungan industrial yang kondusif,” jelasnya. Ia mencontohkan, tidak ada pengurangan jam kerja, level operasioal pun tetap dipertahankan seperti biasa. Dia menambahkan, turunnya permintaan dan volume ekspor akan memaksa produsen melakukan penyesuaian biaya-biaya, termasuk penurunan kapasitas produksi. “Penurunan kapasitas produksi lazim diikuti restrukturisasi. Tahapan restrukturisasi biasanya mengkaji kebutuhan pekerja. Di sinilah berkembang wacana PHK di kalangan pekerja,” jelasnya.

Dalam kaitannya dengan ketenagakerjaan, ia mengatakan, sedapat mungkin menghindari PHK. “Yang tak bisa kita tahu, krisis ini akan menyeret kita sampai mana? Yang jelas kita melakukan sesuatu yang efisien, sambil mempertimbangkan faktor eksternal,” tandasnya. Kembali ia menandaskan, Charoen Pokphand Indonesia secara terbuka menyatakan tidak akan melakukan PHK di tengah hantaman krisis ekonomi global. ”Sejauh ini kami hanya membatasi penambahan man power baru,” tutur Ali.

Satu hal yang perlu diperhatikan oleh HR, katanya, ketika perusahaan terpaksa harus mengurangi karyawan, jangan hanya melihat cost yang bisa dihemat dari pengurangan itu. ”Harus juga diperhitungkan dampak bisnisnya kalau orang-orang itu tidak ada,” imbuhnya. Dalam hal ini komitmen dari seluruh lapisan manajemen sangat berperan dalam keberhasilan efficiency drive ini. “Selanjutnya komunikasi melalui semua lini manajemen merupakan tahap yang paling krusial terutama untuk mendapatkan dukungan seluruh karyawan. Peran komunikasi bipartit menjadi semakin penting dalam menyikapi tantangan hubungan industrial sekarang ini,” paparnya.