Menumbuhkan Kreativitas Kerja

Hampir semua organisasi atau perusahaan mengharapkan tiap personalnya itu memiliki kepribadian yang kreatif. Karena pada dasarnya kreativitas itu dapat terjadi dimanapun, sejauh tempat kerja tersebut menghargai atau mendorong para individunya untuk berkreasi. Jika tidak, maka individu yang kreatif akan menjadi frustrasi dan selanjutnya terjebak dengan rutinitas yang ada.

Begitu pentingnya seseorang itu harus memiliki sifat kreatif, dalam hal ini di lingkungan kerja. Sebab beberapa para pakar mengatakan orang yang kreatif, pada umumnya mengetahui permasalahan dengan sangat baik dan disiplin, biasanya dapat melakukan sesuatu yang menyimpang dari cara-cara tradisional. Proses kreativitas melibatkan adanya ide-ide baru, berguna dan tidak terduga tetapi dapat diimplementasikan.

Inke Maris selaku Presiden Direktur Inke Maris & Associates pun sependapat tentang pentingnya menumbuhkan kreativitas di lingkungan kerja. “Untuk perusahaan jasa konsultan seperti kita ini, ya kalau mau bertahan, apalagi kalau kita ingin maju, kita harus juga menjaga sumber daya manusia kita supaya tetap antusias dan kreatif dalam mencari solusi-solusi untuk menangani berbagai masalah,” terangnya saat ditemui HC di kantornya, Jl KH AbdullahSyafi’ie 28, Jakarta Selatan.

Sebagai perusahaan penyedia jasa yang bergerak khusus di bidang kehumasan atau public relations (PR), Inke Maris & Associates (IM&A) memang membutuhkan para konsultan yang kreatif. Dijelaskan oleh Inke bahwa perusahaannya yang kini memiliki sekitar 60 karyawan itu, tetap berusaha menumbuhkan sifat kreatif kepada para karyawannya. Sebab posisi perusahaanya saat ini adalah sebagai pemberi jasa konsultasi komunikasi.

Wanita kelahiran Bogor, 7 Desember 1948 silam ini, memaparkan ada beberapa konsep yang dimiliki IM&A dalam mengidentifikasi dan menumbuhkan kreativitas karyawan di lingkungan kerjanya. Tahap pertama menurutnya dapat dilihat dari proses Recruitment, “Seseorang yang akan diterima bekerja di sini, yang paling penting buat kami adalah orang itu memiliki antusiasme untuk bekerja, antusias untuk maju, untuk memperbaiki diri, untuk menambah ilmunya, itu yang sangat penting dalam rekrutmen,” kata lulusan Magister Komunikasi Massa di Universitas Leicester, Inggris ini.

Kemudian dalam hal menangani klien, secara rutin Inke bersama timnya mengadakan Brainstorming, “Jadi semua orang diharapkan dan didorong untuk menyampaikan gagasannya, dan itu setiap minggu bisa beberapa kali, tergantung kepada kebutuhan klien,” lanjut isteri dari Rizal Maris ini.

Selain itu adanya Sharing of Information, yang dilaksanakan pada tiap minggu. Dimana setiap kelompok konsultan yang sedang menangani satu account atau klien saat itu akan menceritakan pengalaman tugasnya kepada para konsultan lainnya. “Menceritakan yang baik maupun yang buruk, supaya kita bisa berbagi dengan yang lain-lainnya, misalnya kalau yang buruk ya supaya tidak terjadi pada yang lainnya, dan kalau yang baik bisa ditiru dan bisa diadaptasi oleh yang lainnya, jadi ada sharing of information,” jelas wanita yang memiliki penguasaan bahasa aktif Inggris, German dan Indonesia ini.

Ada juga Mentoring, dimana para konsultan senior di IM&A diwajibkan secara rutin untuk memberikan mentoring kepada account manager atau account executive. Mentoring dimaksudkan Inke juga sebagai ajang berbagi pengalaman, setiap karyawan dapat menanyakan hal apa saja kepada kosultan senior. Karena menurutnya para konsultan senior itu minimal pengalamannya sudah mencapai tujuh tahun, sehingga memiliki banyak pengalaman dalam dunia kehumasan.

Sesuai kebutuhan, dijadwalkan pula program Training, menurut mantan penyiar berita TVRI ini kegiatan pelatihan tersebut dapat juga menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas para karyawannya. Misalnya saja yang sempat dilakukan adalah pelatihan penulisan press release, feature dan fotografi serta pelatihan menangani suatu event dengan baik.

Lantas mantan reporter, penyiar dan produser radio BBC London, untuk Indonesia (BBC World Service Indonesian Section) ini juga menyampaikan langkah pamungkasnya dalam membangun kreativitas para karyawanya, dengan melakukan Appraisal. “Mengevaluasi terhadap kreatifitas atau performance-nya para account executive, account manager dan lain-lain. Jadi itu sudah jadi suatu sistem yang berjalan secara rutin,” ucap Ibu tiga anak ini, Yuma Sanjaya, Armand Erlangga Maris dan Renata Maris.

Kreativitas melalui chemistry

Lain dengan orang PR, lain lagi orang broadcast. Kreativitas orang orang di dunia pertelevisian ternyata memiliki caranya tersendiri dalam menciptakan ide-ide kreatifnya. Menurut Fido Syarief selaku senior produser di SCTV, memaparkan bahwa kreativitas para broadcaster (sebutan pekerja di dunia pertelevisian) itu muncul saat adanya keterikatan bersama tim kerja di lapangan, misalnya pada tim produksi atau tim kreatif.

“Jadi dengan tim lapangan yang amat sedikit, ternyata bisa menghasilkan sesuatu yang lebih banyak, jadilah suatu konsep dan ide kreatif yang sederhana, dengan terlebih dahulu adanya chemistry itu,” jelas Fido kepada HC beberapa waktu lalu. “Jadi balik lagi bahwa pembuatan program TV, kalau sudah chemistry-nya nyambung sama tim, semua akan berjalan dengan baik. Dan chemistry itu nggak akan bisa dipaksa,” lanjutnya.

Untuk menciptakan keterikatan pada tim kerja itu, pria kelahiran 8 Maret 1971 silam ini mengatakan chemistry itu akan tercipta apabila adanya suasana kenyamanan dalam tim kerja. “Tapi kalau semuanya sudah merasa nyaman, akan jauh lebih bagus hasilnya, jadi yang terpenting adalah kenyamanan dulu,” jelas pria yang memiliki hobi traveling ini.

Fido yang juga sebagai produser Nikmatnya Dunia, sebuah tayangan wisata kuliner yang dipandu oleh artis Fauzi Baadillah ini mengungkapkan betapa pentingnya menumbuhkan kreativitas di lingkungan kerja itu, apalagi ia sebagai bagian dari tim produksi.

“Kreativitas itu amat sangat penting, para tim kreatif atau tim produksi di stasiun TV itu kreativitasnya muncul setiap saat loh, jadi setiap detik, menit, jam, sampai setiap hari,” ungkap mantan penyiar radio ini.

Alasan utama pentingnya suatu kreativitas bagi para broadcaster, dijelaskan pula oleh Fido bahwa dalam era persaingan stasiun TV yang makin marak di negeri ini, membuat para broadcaster itu harus memiliki ide atau gagasan baru yang kreatif. “Bagaimana anda bisa menjadi seorang kreatif, kalau anda terus diam di kantor, dan
anda nggak kemana-mana, sementara di luar sudah ada banyak program acara baru yang bermunculan,” terangnya. Maka untuk menciptakan kreativitas itu, Fido menambahkan perlunya seseorang itu diberikan motivasi bersama tim kerjanya, “Dan orang-orang kreatif itu juga harus memiliki science of art,” sarannya.

“Ya kreativitas itu tidak bisa dipaksa, setiap manusia, setiap tim, setiap personal itu pasti kreativitasnya beda-beda, nah pada saat dia beda untuk membuat sebuah kreatif, maka perbedaan itu kita jadikan satu. Kita jadikan sebuah formula, dan kita sajikan perbedaan itu jadi indah,” tutupnya. (ang)