Mengintip Top Trend Global HR Versi SHRM

SHRM

SHRM

SHRM (Society for Human Resources Management) mempunyai panel-panel ahli yang merupakan narasumber bagi komunitas tersebut untuk mengidentifikasi topik yang akan menjadi tren bidang Human Resources (HR). Panel tersebut menganalis 6 aspek Human Resources, salah satunya adalah tren Global Human Resource atau HR mengenai penanganan karyawan berskala global.

Topik ini penting untuk diketahui oleh praktisi HR di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Terlebih lagi, pada tahun 2015, siap atau tidak Indonesia harus menghadapi AFTA (Asean Free Trade Area). Berdasarkan hasil diskusi dari para panel ahli di SHRM, tren Global HR yang akan mendominasi tahun 2014 adalah:

1. Redefinisi Leadership (kepemimpinan). Sistem kontrol/komando yang berbentuk hirearki bersusun sudah mulai terlihat kuno dan tidak efektif lagi untuk mengelola angkatan kerja global, terlebih lagi gen Y.  Negara dengan lebih banyak angkatan kerja muda akan mengalami semacam kelangkaan pimpinan karena perubahan tren tersebut. Untuk itulah, HR harus menjadi sebuah agen perubahan yang dapat melihat potensi pemimpin pada generasi muda dan mengembangkannya.

2. Berbagai negara mulai membenahi atau bahkan merombak perundangan yang mengatur tentang imigrasi, undang-undang yang mengatur tentang proses bisnis dan knowledge sharing di negara tersebut. Mereka akan semakin membatasi negara lain yang ingin melakukan bisnis di negaranya dengan cara menetapkan kebijakan, seperti kenaikan biaya tenaga kerja, proses perijinan yang lebih lama dan kebijakan-kebijakan lainnya.

3. Jumlah perusahaan yang melakukan bisnis internasional atau go global akan semakin banyak, tidak hanya perusahaan multinasional saja. Perusahaan-perusahaan lokal juga akan melakukan ekspansi ke luar negeri sehingga dibutuhkan lebih bnyak praktisi HR berwawasan global. Kebutuhan talent HR yang memahami cara berbisnis berskala internasional, memahami budaya antar negara, mampu menangani talent management menjadi semakin besar. Yang pasti, MNC tidak lagi menjadi pemain tunggal, tetapi juga perusahaan kecil baik profit maupun nonprofit. Mereka akan go global meskipun dengan jalan yang berbeda dari peruhaan besar tersebut.

4. Institusi pendidikan kemungkinan akan gagal menelurkan lulusan yang memiliki kapabilitas sesuai kebutuhan industri. Kasusnya akan semakin parah untuk negara berkembang yang tidak bisa memenuhi kebutuhan industri baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal ini akan menciptakan beban bagi perusahaan dalam hal investasi taraining terhadap karyawan mereka. Training tersebut tidak hanya yang bersifat teknis, tetapi juga softskill yang meliputi sensitivitas terhadap keberagaman budaya antar negara, keterampilan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan dan pembangunan kepemimpinan.

5. Proses bisnis akan berjalan dengan penekanan “mendapatkan banyak hasil dari sedikit sumber daya”. Kondisi ekonomi yang tidak menentu akan membuat perusahaan mengalokasikan sumber dayanya pada tempat yang memungkinkan penghematan biaya produksi. Misalnya saja dalam hal pemilihan lokasi bisnis dan proses rekrutmen yang lebih berhati-hati.

6. Konsep keberagaman akan dibawa ke ranah global. Dalam sebuah oraganisasi, keberagaman (diversity) tidak hanya sesempit lingkungan kerja sebuah perusahaan. Kontek keberagaman harus diperluas menjadi keberagaman antar negara, meliputi banyak aspek dan tidak sekedar umur dan jenis kelamin. Pemahaman tentang keberagaman akan membuat sebuah perusahaan mampu menangkap peluang pasar global yang potensial.

7. Kebutuhan akan kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan pemerintah seperti pajak, imigrasi dan ketenagakerjaan akan tetap menjadi prioritas utama dalam daftar tugas praktisi HR.

8. Teknologi dan sarana rekrutmen akan mengalami peningkatan level. Online tidak lagi menjadi teknologi mutakhir, melainkan penggunaan teknologi yang lebih ringkas dan sesuai dengan gaya hidup kandidat masa kini misalnya melalui ponsel. Yang harus diperhatikan adalah kandidat dari generasi senior, tentang bagaimana menjangkau mereka. Pasalnya, pada beberapa situasi, mereka harus bekerja lebih lama dan menunda pensiun untuk memenuhi kebutuhan pasar.

9. Perusahaan akan berfokus pada hasil investasi (Return on Investment) dari berbagai strategi yang sifatnya internasional. Tugas department HR adalah memastikan bahwa mereka telah menyiapkan pola kompensasi dan benefit yang tepat sehingga dapat meningkatkan performance sesuai goal perusahaan. Salah satu contohnya adalah perusahaan akan memperkerjakan ekspatriat lebih lama daripada waktu-waktu sebelumnya (3-4 tahun), yang berdampak pada kenaikan gaji karyawan dan hutang pajak untuk karyawan.

10. Konsep shared service (berbagi sumber daya, seperti IT, database) akan berkembang tidak hanya semata-mata karena penghematan biaya produksi. Lebih dari alasan penghematan, shared service juga dilakukan dengan alasan untuk peningkatan proses HR dan layanan. Perusahaan mulai berpikir untuk mengambil lokasi nontraditional dan menyeleksinya secara kreatif untuk kepentingan customer service mereka.

Tags: ,