Mengasah Benih Leadership

Selalu ada kekuatan besar di balik perjalanan orang-orang sukses. Misalnya, Firmanzah, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) yang merupakan dekan termuda di Indonesia dan Arief Daryanto, Direktur Sekolah Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (MB-IPB). Bagaimana pandangan mereka tentang kepemimpinan?

Dalam perbicangan santai di ruang kerjanya di lantai 2 Kampus FEUI Depok dengan Majalah Human Capital (HC), Firmanzah mengaku dibesarkan dalam atmosfi r kepemimpinan di rumahnya. Perjalanannya dari lulus kuliah hingga menjadi Dekan FEUI bisa dikatakan berliku. Ia pernah bekerja sebagai market analyst di perusahaan asuransi dan mencicipi pekerjaan di perusahaan penyedia layanan internet di Jakarta. Sebagaimana pendatang di ibu kota pada umumnya, mulanya Firmanzah bermimpi bekerja di kantor-kantor elit di kawasan segitiga emas, Jakarta. Namun, perjalanan hidup justru mengantarkannya sebagai seorang dosen dan berlabuh menjadi orang pertama di FEUI.

Mengenai konsep leadership, Firmanzah berujar, leader harus bisa berperan sebagai jembatan yang menghubungkan satu kelompok dengan kelompok lain, individu satu dengan individu lain, punya fl eksibilitas yang tinggi sekaligus memiliki prinsip yang tegas. “Seorang leader harus tahu kapan saatnya mengambil keputusan, bernegosiasi, mengalah, meminta maaf, dan bersikap tegas dengan keputusan yang diambil,“ tuturnya.

Dari mana ia belajar leadership? ”Dari ibu saya,” ungkap Firmanzah seraya melanjutkan, ”Ibu mengajari saya untuk berani, pandai menempatkan diri, dan berempati. Berani, misalnya, saya ingat ketika kelas 1 SMP harus mengambil rapor adik saya yang kelas 6 SD. Saya dalam posisi sebagai orang tua, duduk dengan para orangtua dan berpura-pura menjadi orangtua.”

Dalam banyak hal Firmanzah sadar kalau dirinya sedang dilatih oleh ibunya. “Pandai menempatkan diri dicontohkan oleh ibu saat ketemu seseorang, dan menunjukkan bagaimana caranya berkomunikasi. Dalam bermasyarakat kita tidak bisa menutup diri. Kita harus bisa berkomunikasi dan berhubungan dengan orang lain meskipun orang lain berbeda pandangan dengan kita,” katanya.

Pelajaran dari sang Ibu kiranya terus membekas hingga hari ini. Dari ajaran ibunya, Firmanzah belajar memahami bahwa pendapat yang bertentangan itu bukan musuh, dan tidak serta merta orang itu lebih jelek dari kita. “Kadang dalam suatu situasi saya tidak punya pilihan lain, saya harus melakukan yang dibilang oleh ibu,” tuturnya.

Firmanzah membuka rahasia bahwa orangtuanya bercerai saat ia masih berumur 2 tahun. “Saya dibesarkan oleh ibu saya. Kami 9 bersaudara dan saya anak ke-8. Semuanya ikut ibu. Ibu saya orangnya keras, punya prinsip, tapi fleksibel dalam penyampaian. Sehingga saya selalu bilang ke beliau bahwa Ibu adalah diplomat ulung. Beliau bisa membawa orang yang awalnya tidak setuju menjadi setuju, tapi dalam bahasa yang halus,” ungkap Firmanzah memuji ibunya.

Dalam pandangan Firmanzah, ibunya mampu menyampaikan dalam bahasa yang bisa diterima oleh orang lain. “Inilah menariknya dari sosok ibu saya, yang bisa menggabungkan komunikasi sekaligus negosiasi, logika dan rasionalitas. Semua harus rasional, logis, dan memanusiakan lawan bicara,” ujarnya.

Dari perjalanan panjangnya ini Firmanzah mendapat buah perenungan bahwa keluarga merupakan tempat awal manusia dibentuk. “Bagimana keluarga dibangun dan pola-pola interaksi di dalamnya, saya rasa itu sekolah pertama dan tidak pernah akan dilupakan oleh manusia sebagai individu sampai akhir hayatnya,” tutur Firmanzah membenarkan. Tak hanya kondisi keluarga yang menurutnya penting, tapi lesson-learn yang ada dalam setiap perjalanan keluarga harus bisa dilihat dan diresapi.

Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis IPB (MB-IPB), Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec memaknai leadership sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. ”Setiap orang adalah pemimpin dan kelak akan ditanya tentang sejauh mana dia menjalankan amanah tersebut,” ujarnya bijak. Arief melanjutkan, tingkat kepemimpinan tiap orang tentu saja berbeda-beda. Arief sendiri memaknainya melalui rangkaian ungkapan bijak dari para inspirator dunia.

Arief menyitir pandangan Henry Kissinger bahwa pemimpin harus mempunyai visi yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang dipimpinnya. Henry mengatakan, “The task of the leader is to get his people from where they are to where they have not been.” Untuk mencapai visi tersebut, seorang pemimpin harus siap memberikan contoh, tidak hanya memerintah. Arief juga berdamai dengan Dwight D. Eisenhower, yang mengatakan: “Pull the string, and it will follow wherever you wish. Push it, and it will go nowhere at all.”

Dalam memimpin, lanjut Arief, seorang pemimpin harus siap untuk tidak populer demi mengambil keputusan yang diperlukan. “Lihat saja saat James Crook berkata “a man who wants to lead the orchestra must turn his back on the crowd”. Dan, jika menghadapi masalah, pemimpin harus dengan cerdas memberikan jalan keluar,” tukas Arief.

Arief menyebutkan, sumber inspirasi terbesar dalam mengelola timnya saat ini datang dari mana saja. Ia menyebut, pada dasarnya setiap organisasi mempunyai karakter. Walaupun seseorang mempunyai ilmu dan pengalaman memimpin yang luas, tetap keahlian utama yang harus dimiliki adalah memahami kondisi organisasi yang dipimpin, melakukan inovasi dan penyesuaian gaya serta teknik memimpin sehingga visi organisasi dapat tercapai dengan baik.

“Sumber inspirasi saya dalam memimpin adalah, berbagai mutiara kepemimpinan yang saya petik selama memimpin di berbagai organisasi dan tingkatan. Inspirasi berikutnya yaitu pengalaman para pemimpin besar yang saya baca dari berbagai buku dan pelatihan yang saya ikuti. Inspirasi terakhir yang tidak kalah penting adalah dari orang-orang yang saya pimpin. Jika digunakan cara yang tepat, orang yang kita pimpin akan memberikan masukan bagaimana mereka ingin dipimpin. Masukan tersebut dapat dijadikan bahan yang berharga untuk menyesuaikan gaya dan teknik memimpin,” tutur Arief berpendapat.

Dari berbagai pengalaman menjadi pemimpin di banyak organisasi dan tingkatan, Arief merumuskan prinsip umum kepemimpinan yang digunakan dengan singkatan TEAMWORK (Together, Empathy, Assist, Maturity, Willingness, Organization, Respect and Kindness) dan berbasis ke-ARIEF-an (Adaptability, Responsibility, Integrity, Empowering and Fairness). “Teamwork” dan “ke-arief-an” diyakininya sangat relevan dipegang oleh para pemimpin saat ini.

“Selama aktif di berbagai organisasi, saya berusaha memaknai dan mengimplementasi model kepemimpinan khas Indonesia seperti yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantoro. Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani,” ungkap Arief.

Ing Ngarso Sung Tulodo artinya menjadi pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buah. Makna Ing Madyo Mangun Karso adalah seorang peminpin di tengah kesibukannya harus bisa membangkitkan atau menggugah semangat bawahanya. “Seorang pemimpin harus mampu memberikan inovasi-inovasi di lingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang kondusif,” imbuhnya.

Sedangkan Tut Wuri Handayani berarti seorang pemimpin harus bisa memberi dorongan moril dan semangat kerja dari belakang. Dorongan ini sangat dibutuhkan oleh bawahan, karena hal ini dapat menumbuhkan motivasi dan semangat kerja.

Tentang model kepemimpinan yang efektif, Arief merujuk apa yang diungkap oleh John Maxwell, “The pessimist complains about the wind. The optimist expects it to change. The leader adjusts the sails”. “Teori Darwin mengatakan bahwa yang dapat bertahan hidup bukanlah mereka yang paling kuat, bukan pula yang paling cerdas, tetapi yang mampu menyesuaikan diri,” tukasnya. Dengan kata lain, pemimpin harus siap untuk bekerja keras.