Mengapa Seharusnya Bahagia Ketika Karyawan Resign

Beberapa perusahaan akan menjadi gusar ketika karyawan unggulannya berencana untuk resign atau berpindah ke perusahaan kompetitor. Hal tersebut wajar saja terjadi mengingat mereka harus kembali mencari karyawan pengganti yang tentunya tidak selalu mudah dan biasanya juga tidak murah.

Sebuah pandangan yang berbeda dipaparkan oleh Chris Seper, founder sekaligus CEO Medcity Media, perusahaan media online yang berbasis di Amerika. Dalam tulisannya di Linkedin.com Chris mengatakan, dalam menyikapi karyawannya yang hendak resign, ia memiliki pemikiran yang berbeda. Ketika yang lainnya berusaha menahan atau mencari tahu alasan mereka pindah, hal pertama yang akan dia lakukan justru menyampaikan selamat. Ia bukannya senang karena best talent meninggalkan perusahaan, tetapi ia memang telah menciptakan sebuah suasana kerja dimana karyawan bisa bicara terang-terangan kepadanya sewaktu-waktu ingin keluar.

Chris melihat bahwa membangun seorang karyawan, hampir sama dengan membangun sebuah perusahaan. Ketika ia membangun sebuah perusahaan, dan perusahaan tersebut bertumbuh menjadi perusahaan yang hebat, maka orang-orang akan tergiur untuk membelinya. Begitu pula ketika ia membangun karyawan. Karyawan yang berkualifikasi tinggi akan menjadi incaran perusahaan lain.

Apa pun alasannya, anggapan bahwa seorang karyawan harus tinggal lama di suatu perusahaan adalah klise dan merupakan tren sepuluh tahun lampau. Sejak awal karyawan bergabung di Medcity, Chris bertekad untuk membuat karyawan tersebut sukses. Termasuk di dalamnya adalah memperbolehkannya mengambil kesempatan lain yang lebih baik, dan ia akan menawarkan diri untuk membantu. Meskipun demikian, pada akhirnya ia juga akan meminta saran karyawan tentang bagaimana seharusnya perusahaan bersikap untuk dapat menandingi penawaran dari kompetitor tersebut.

Beberapa pelajaran positif dapat diambil dari pengalaman Chris Seper tersebut. Yang pertama adalah ia menghargai dan memperlakukan karyawan tidak sekedar sebagai sebuah benda berbalut daging yang bisa dieksplorasi oleh perusahaan. Kedua, ia menanamkan mental yang baik bagi karyawan bahwa turn over adalah hal yang biasa dalam bisnis dan eksistensi perusahaan jauh lebih besar dibandingkan hanya seorang individu.

“Great Employees are so valuable. But no one is irreplaceable. Dan ketika seseorang memberikan penawaran yang lebih baik kepada top employee kita, kita memiliki dua pilihan. Patahkan penawaran tersebut dengan memberi yang lebih baik, atau doakan yang terbaik bagi karyawan tersebut”, ungkap Chris.

 

Tags: ,