Menangani Karyawan Nakal

Memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sangat kontras dengan yang biasanya juga bisa membantu karyawan bermasalah.

Belakangan ini di milis HR, hangat dibicarakan mengenai isu menghadapi karyawan ‘nakal’. Kasus-kasus indisiplin karyawan, diakui sulit untuk dihindarkan, hampir di semua organisasi selalu saja ada orang-orang yang ingin menyimpang dari prosedur dan kesepakatan. Nah, kalau sudah begini, bagaimana orang HR menangani bila ada karyawannya yang ‘nakal’?.

Misalnya ambil contoh kasus, seorang karyawan dengan sengaja tiap hari datang terlambat ke kantor. Dan tak tanggung-tanggung, sekitar 90 menit ketelatannya. Katanya, ia yakin dari kebiasaannya itu, gajinya tak akan dipotong karena perusahaan menganut “all-in”, dimana hanya ada gaji pokok. Nah, perilaku ini yang dikhawatirkan orang HR akan menular kepada para rekannya, yang juga berakibat menggangu produktivitas.

Sementara contoh lainnya, seorang manager HR dibuat pusing lantaran di kantornya, ia menemukan vidoe tidak senonoh dari seorang karyawati dengan lawan jenis. Kata manager HR itu dalam milis, si karyawati berdalih bahwa hal ini dia (pelaku) lakukan di luar kantor dan diluar jam kerja serta dilakukan atas dasar suka sama suka, sehingga dia keberatan kalo dijatuhi sanksi karena menurut pelaku hal ini tidak ada hubungan dengan pekerjaan. Kalupun sampai ketahuan menurut pelaku hal ini dianggap sebagai resikonya sendiri.

Dua contoh kasus tersebut, sempat menjadi bahan diskusi hangat dan panjang di salah satu milis HR. Begitu banyak komentar dan masukkan dari anggota milis, baik dari sisi HR, sisi kemanusiaan, sisi hukum tenaga kerja maupun sisi hukum pidana. Antara lain, ada yang berpendapat kasus semacam ini perlu mendapat perhatian serius dari manajemen. Komentar lainnya, perusahaan tidak punya pilihan kecuali PHK daripada HR-nya tambah pusing.

Tiga tipe
Namun pada dasarnya, orang-orang bermasalah di kantor, terbagi dalam tiga tipe. Pertama adalah mereka yang terbiasa santai dan kurang serius. Kedua, tidak menyadari kalau dirinya bermasalah sehingga ketika ia berbuat salah tidak ada upaya untuk memperbaikinya. Ketiga, orang bermasalah yang menyadari dirinya bermasalah. Tipe ini lebih mudah dan cepat memperbaiki, atau berupaya berbenah diri.

Dari segi karakter, orang bermasalah dibagi dalam tiga kelompok lagi. Pertama, low self esteem atau gampang tersinggung, rendah diri, tak suka menerima masukan apalagi kritik, dan mudah curiga. Kedua, orang yang berpandangan keliru terhadap lingkungannya. Ia merasa tak ada seorang pun di dunia, yang memperhatikan dan membantunya.

Kalau pun kini ia berhasil, itu berkat upaya kerasnya sendiri — tanpa bantuan orang lain. Harga diri orang tipe ini sebenarnya tinggi (high self esteem), bahkan cenderung arogan. Mereka umumnya kurang bisa bekerjasama dengan orang lain, bahkan cenderung jadi provokator.
Ketiga, orang yang kecewa dalam kehidupan secara keseluruhan. Mereka merasa sekadar melakoni hidup, tanpa tujuan hidup yang pasti. Akibatnya, mereka cenderung tak berpikir panjang mengenai dampak atas apa yang dilakukannya. Mereka merasa nothing to loose dan tak peduli konsekuensi tindakannya. Seringkali mereka tak takut dipecat.

Langkah berikut bisa Anda coba untuk membantu mereka dan juga perusahaan:
• Posisikan diri pada sudut pandang orang bermasalah. Kenali persepsinya terhadap pekerjaannya untuk mengetahui akar masalah, mengapa ia menjadi orang bermasalah. Setelah akarnya didapat, diskusikan dengannya untuk mengatasi masalahnya.
• Berikan solusi, bukan sekadar kritik. Orang cenderung defensif terhadap kritik, tapi lebih terbuka bila diajak duduk bersama membicarakan masalah, dan bagaimana solusinya. Bawahan merasa dimanfaatkan, jika tidak dilibatkan dalam penyelesaian masalahnya. Orang cenderung destruktif ketimbang kooperatif, jika sekadar dikritik.
• Berikan perhatian dan pengertian. Ajak ia berbicara dari hati ke hati, bahwa ia pun bagian dari tim yang sangat penting bagi keberhasilan secara keseluruhan. Tegaskan kontribusi setiap orang penting bagi keberhasilan perusahaan.
• Berikan apresiasi dan dukungan. Orang bermasalah, terlebih yang tergolong low self esteem, cenderung amat irasional dan sulit diajak berbicara secara rasional. Untuk itu, atasan atau koleganya, harus rajin memberi apresiasi jika ia melakukan pekerjaannya dengan baik. Apresiasi tak harus berupa hadiah, bisa pujian atau sekadar tepukan di pundaknya. Bisa pula melibatkannya dalam proyek yang sekiranya ia sanggup menggarapnya. Keberhasilan proyek bisa membangkitkan rasa percaya dirinya.
• Orang bermasalah tipe high self esteem, mesti pula diajak bicara dari hati ke hati. Tipe ini cenderung memiliki harga diri tinggi, jangan sekali-kali merendahkan egonya dengan mengatakan bahwa ia tak bisa bekerja sendiri. Berilah kesan bahwa ia sangat dibutuhkan rekan-rekannya agar bisa mencapai hasil maksimal.

Memberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang sangat kontras dengan yang biasanya juga bisa membantu karyawan bermasalah. Mereka akan melakukan pembadingan-pembandingan sehingga bisa membuka mata dan pikirannya, bahkan biasanya juga membangkitkan semangat kerjanya.